Rupiah (Foto: RMOL/Reni Erina)
Di tengah dinamika pasar keuangan global, kurs Dolar AS menunjukkan pergerakan yang bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama
Indeks Dolar AS (DXY) menguat 0,28 persen ke level 99,15.
Keperkasaan greenback ini dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat bulan Desember yang stabil di angka 2,7 persen (yoy).
Kondisi ini memberi sinyal bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh, sehingga Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi belum akan terburu-buru memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Kekuatan Dolar AS memberikan tekanan langsung pada mata uang di kawasan Asia.
Rupiah Indonesia Terkoreksi sebesar 0,13 persen, membawa nilai tukar berada di level Rp16.877 per Dolar AS, seperti laporan Bloomberg. Tekanan jual di pasar spot pagi ini mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap aset di pasar berkembang.
Yen Jepang mengalami pelemahan paling dalam, sempat menyentuh 159,11, level terlemahnya sejak Juli 2024. Selain karena faktor Dolar, Yen tertekan oleh isu domestik terkait rencana pemilihan umum dini dan kebijakan fiskal longgar dari PM Sanae Takaichi. Pemerintah Jepang kini dalam kewaspadaan tinggi untuk melakukan intervensi pasar guna menahan kejatuhan Yen lebih lanjut.
Mata uang utama dunia lainnya juga tak luput dari dominasi Dolar. Euro melemah ke level 1,1647 dan Poundsterling turun ke posisi 1,3428.
Secara keseluruhan, Dolar AS tetap menjadi aset pilihan utama karena didukung oleh data ketenagakerjaan yang solid serta ketidakpastian geopolitik global, mulai dari gejolak di Iran hingga isu independensi The Fed, yang membuat investor lebih memilih mengamankan dana mereka dalam bentuk mata uang AS.