Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

SELASA, 13 JANUARI 2026 | 09:59 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia menguat pada Selasa 13 Januari 2026, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan dari Iran. 

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 28 sen atau 0,4 persen menjadi 64,15 Dolar AS per barel, mendekati level tertinggi dalam dua bulan yang tercapai pada sesi sebelumnya. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 28 sen atau 0,5 persen ke 59,78 Dolar AS per barel, level tertinggi sejak 8 Desember.

Kenaikan harga ini dipicu situasi Iran, salah satu produsen terbesar di OPEC, yang tengah menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Presiden AS Donald Trump bahkan memperingatkan kemungkinan aksi militer menyusul laporan kekerasan mematikan terhadap para pengunjuk rasa. 


Trump juga menyatakan bahwa negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25 persen atas seluruh transaksi bisnis mereka dengan AS.

Perkembangan ini penting bagi pasar minyak karena Iran merupakan produsen besar yang saat ini berada di bawah sanksi. Setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu pasokan atau menambah premi risiko geopolitik pada harga minyak. 

Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi tambahan pasokan minyak dari Venezuela. Setelah Presiden Nicolas Maduro dilengserkan, Trump mengatakan pekan lalu bahwa pemerintah di Caracas siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS, dengan catatan tetap tunduk pada sanksi Barat. Sejumlah perusahaan perdagangan minyak global disebut sudah lebih dulu bergerak mengamankan aliran minyak Venezuela, mendahului perusahaan energi besar AS.

Faktor geopolitik lain turut menambah ketidakpastian. Rusia dilaporkan melancarkan serangan ke dua kota terbesar Ukraina pada Selasa dini hari, menewaskan satu orang di kota Kharkiv. 

Selain itu, pemerintahan Trump kembali melontarkan kritik terhadap Federal Reserve, memicu kekhawatiran pasar soal independensi bank sentral AS dan menambah ketidakpastian terhadap kondisi ekonomi serta prospek permintaan minyak ke depan.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya