Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Micro Drama Sinematik

MINGGU, 11 JANUARI 2026 | 23:52 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

PADA suatu sore yang seharusnya khusyuk untuk menulis, linimasa Facebook malah berubah jadi etalase air mata kolektif. Potongan-potongan video berdurasi dua menit berjejer seperti iklan obat maag: pasangan saling menatap, musik mengalun, komentar netizen berbaris: “nonton berkali-kali”, “kok bisa sesingkat ini tapi nyantol?”.

Yang mereka komentari ini bukan drama China standar yang disukai emak-emak biasanya sampai tiga puluh episode lebih, lengkap dengan intrik mertua dan badai hujan buatan. Drama yang mereka kesankan ini sesuatu yang lebih mungil, lebih cepat, dan ironisnya, lebih memabukkan yakni micro drama.

Mari kita luruskan dulu istilahnya. Micro drama adalah serial berdurasi satu sampai lima menit per episode, dirancang vertikal, dikonsumsi di ponsel, dengan tempo seperti kopi sachet: cepat, manis, dan bikin ketagihan.


Di Tiongkok, micro drama bukan sekadar tren, melainkan solusi sosial. Dengan lebih dari satu miliar pengguna internet, mayoritas lewat ponsel, orang-orang membutuhkan hiburan yang bisa ditelan di sela rapat, antre lift, atau saat di halte. Hukum ekonomi bekerja tanpa pidato: ada permintaan akan hiburan instan, industri pun memasoknya.

Tapi yang membuat saya terhenti bukan konsepnya, melainkan sebuah judul micro drama yang belakangan ini beredar seperti gosip arisan yaitu Summer Rose. Disebut-sebut menembus tiga miliar penayangan di Hongguo Short Drama, bahkan diklaim meraih satu miliar penonton dalam empat hari.

Angka-angka yang biasanya berlaku pada turnamen sepak bola atau kampanye politik, kini menempel di drama dua menit. Lebih mengejutkan lagi, Summer Rose yang merupakan adaptasi novel web Shen Qing You Yin karya Niao Song Mi itu mendapat rating 8,0/10 di MyDramaList, melampaui banyak drama “normal” yang lebih mahal, lebih panjang, dan lebih sok penting.

Di sinilah absurditas yang menggelitik itu muncul. Selama ini, micro drama sering dicibir yang akting setengah matang, alur terburu-buru atau bahkan sinematografi ala “yang penting ada”. Namun Summer Rose mematahkan stereotip itu dengan gaya yang nyaris sinematik.

Biaya produksinya mendekati delapan juta yuan  yang jelas jauh di atas rata-rata micro drama, musik latarnya rapi, visualnya bersih, dan narasinya, meski singkat, menyentuh wilayah emosi yang familiar yaitu cinta yang sabar, trauma yang dipeluk, pernikahan kontrak yang perlahan berubah menjadi keterikatan.

Ini cerita tentang Zhou Sheng’an, pewaris kaya yang kaku, dan Bai Qingmei, fotografer mandiri yang membawa luka masa lalu, berjalan di jalur klasik “Cinderella modern”, klise yang, entah bagaimana, tetap berhasil menyalakan simpati.

Keberhasilannya tidak berhenti di layar ponsel domestik. Netflix, yang biasanya gemar mengekspor drama panjang dari Asia, “gercep” membeli hak cipta Summer Rose, menjadikannya serial pendek Tiongkok pertama yang diluncurkan ke platform internasional. Industri pun membaca sinyal bahwa format mikro bukan sekadar camilan, melainkan hidangan yang mulai diperebutkan.

Di titik ini, saya teringat satu episode kebijakan budaya yang kerap dilupakan di tengah euforia. Pada 2018, regulator Tiongkok melalui badan penyiaran dan perfilman, mengeluarkan panduan ketat terhadap konten yang dianggap mempromosikan “nilai-nilai tidak sehat”: hedonisme, kultus selebritas, kekayaan instan, dan romantisisme ala dongeng yang menjual ilusi mobilitas sosial tanpa kerja.

Drama-drama “Cinderella” dimana gadis miskin diselamatkan pewaris kaya, menjadi sasaran kritik. Bahkan banyak judul dirombak, dipinggirkan jam tayangnya, atau dipaksa menekankan etika kerja dan tanggung jawab sosial. Bukan pelarangan absolut yang mematikan genre, melainkan pagar ideologis yang mengingatkan: cinta boleh, fantasi silakan, tapi jangan mengajari publik bahwa hidup adalah lotre romantik.

Apakah pagar itu sudah dicabut? Tidak sepenuhnya. Yang terjadi lebih subtil, industri beradaptasi. Narasi cinta tetap hadir, tetapi dibungkus dengan kerja, trauma, penyembuhan, dan “cinta yang bertumbuh” alih-alih “jatuh dari langit”.

Summer Rose berada di persimpangan itu. Ia memeluk formula yang mudah disukai seperti kontrak pernikahan, proteksi total sang suami, namun menambahkan lapisan psikologis dan estetika produksi yang membuatnya terasa “dewasa”.

Bahkan pemilihan pemeran dimana usia aktor yang nyaris sebaya dengan aktris, ekspresi minimalis, gestur “ngemong” yang lembut, menciptakan kesan autentik yang jarang kita temui di produk instan.

Lalu mengapa format dua menit ini begitu adiktif? Psikologinya sederhana yaitu cliffhanger cepat, resolusi emosional mikro, dan ilusi kemajuan cerita yang konstan.

Dalam dunia yang terfragmentasi oleh notifikasi, micro drama adalah sastra potongan dimana ia tidak meminta komitmen dua jam, hanya dua menit dan dua menit berikutnya, hingga tanpa sadar kita menelan satu musim.

Namun di balik tepuk tangan, ada pertanyaan yang patut diselipkan: apakah kita sedang menyaksikan demokratisasi estetika atau sekadar industrialisasi emosi? Ketika kisah cinta dipadatkan menjadi tablet emosional, apakah kedalaman diganti dengan intensitas?

Summer Rose memang menghibur, rapi, bahkan memikat. Tapi ia juga mengajarkan bahwa narasi bisa direkayasa agar terasa “besar” dalam ruang yang kecil, sebuah keahlian yang di tangan industri bisa menjadi seni atau menjadi pabrik sensasi.

Maka, jika hari ini linimasa kita banjir potongan dua menit yang membuat kita tersenyum, menangis, lalu mengulanginya, mungkin itu bukan sekadar tren. Itu adalah cermin zaman dimana ketika waktu menjadi barang paling mahal, industri menawarkan cinta dalam kemasan sachet.

Ironisnya, justru di situlah kita belajar sesuatu yang sederhana bahwa panjang bukan jaminan makna, dan singkat bukan kutukan bagi kedalaman. Toh, seperti musim panas dalam judulnya, Summer Rose datang cepat, mekar sebentar, lalu meninggalkan aroma yang membuat kita bertanya, apakah kita jatuh cinta pada kisahnya, atau pada cara ia disajikan? Entahlah.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya