LANGIT di Narsaq itu berat. Warnanya ungu lebam. Seperti memar yang tak kunjung sembuh. Di musim dingin begini, matahari di sana cuma rumor. Ia muncul sebentar, malas-malasan, lalu tenggelam lagi di balik tebing es fjord. Meninggalkan kota kecil di ujung selatan Greenland ini dalam pelukan gelap yang panjang.
Tapi minggu ini, kegelapan itu terasa beda. Lebih mencekam. Angin yang turun dari Inland Ice membawa kabar buruk. Orang Inuit bilang itu suara leluhur yang marah. Tapi bagi telinga analis di Brussels, Washington hingga Denpasar, itu suara lain.
Itu suara lonceng kematian aliansi Barat. Barangnya bukan emas. Kuno. Bukan minyak. Lewat. Tapi Tanah Jarang (Rare Earth Elements--REE). Ini "nyawa" dari setiap magnet. Dan magnet adalah detak jantung teknologi masa depan.
Di bukit beku itu, ada dua "hantu" yang sedang beradu kuat. Hantu Kiri: Kvanefjeld. Raksasa. Tapi napasnya beracun (uranium tinggi). Dan menariknya: Ia sudah "dikawini" Tiongkok.
Hantu Kanan: Tanbreez. Raksasa juga. Tapi ia "perawan" (uranium rendah). Bersih. Inilah yang kini diburu Amerika dengan mata merah. Maka, sejenak kita lupakan soal geologi. Cerita hari ini bukan lagi soal tambang. Ini soal Penaklukan.
Ingat tanggal 3 Januari lalu. Darah di Caracas belum benar-benar kering. Caracas jatuh. Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditekuk lututnya oleh pasukan khusus AS, Delta Force dan FBI HRT. Operasi senyap, taktis dan efektif.
Gedung Putih bilang itu penegakan hukum (Law Enforcement). Bohong. Itu adalah Grand Strategy. Sebuah proklamasi ulang Doktrin Monroe. Pesannya benderang: 'Hemisfer ini Sphere of Influence. Kami haram disentuh kalian.
Dua hari kemudian, mata Trump langsung menatap ke Utara. Ke Greenland. Ia bicara lagi soal "membeli" pulau itu. Ia juga bicara soal "Opsi Militer". Dulu, Eropa tertawa, hal ini dianggap lelucon badut oranye hidung merah.
Sekarang, setelah mayat-mayat di Caracas belum dingin, tawa itu mati di kerongkongan. Berapa analis geopolitik Eropa, pasti tengah menulis dengan tangan gemetar: "Amerika bukan lagi teman kami. Amerika adalah ancaman."
Coba Bayangkan skenario maut ini: Greenland adalah wilayah otonom Denmark. Denmark adalah anggota NATO. Amerika adalah pemimpin NATO. Jika atas nama National Security, Trump sungguh-sungguh menurunkan pasukan di Nuuk demi mengamankan tambang itu, apa yang akan terjadi?
Dalam Pasal 5 NATO berbunyi: Serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua. Lantas, jika Amerika menyerang Denmark, apakah Jerman dan Inggris harus menyerang Amerika? Gila.
Di titik itulah NATO bubar. Arsitektur keamanan pasca-Perang Dunia II runtuh dalam semalam. Eropa akan melihat Washington bukan lagi sebagai "Daddy" pelindung, tapi sebagai predator.
Mark Rutte, Sekjen NATO, sudah berbisik di lorong-lorong Brussels: "Eropa harus bersiap perang seperti kakek-nenek kita dulu." Ia tidak menyebut musuhnya Rusia. Ia membiarkan kalimat itu menggantung. Mengerikan.
KENAPA Amerika se-desperado itu? Alasannya banyak. Tapi satu ini yang bikin jantung Amerika mau copot: kokpit jet tempur F-35 Lightning II. Pesawat seharga USD 100 juta itu canggih luar biasa. Tapi ia punya kelemahan fatal: ia pecandu berat. Ia pecandu magnet.
Siripnya, radarnya, mesinnya ternyata semua butuh magnet tahan panas. Magnet itu butuh logam bernama Dysprosium. Dan 99 persen rantai pasok (supply chain) barang itu ada di tangan Tiongkok.
Desember lalu, Xi Jinping melakukan apa yang disebut dalam istilah politik kontemporer sebagai Weaponization of Trade. Keran ekspor diperketat. Stok di gudang senjata Barat tinggal untuk 3 bulan.
Tanpa logam itu, F-35 cuma rongsokan besi di hanggar. Maka, Tanbreez di Greenland adalah National Security Imperative. Tambang ini punya cadangan 28 juta ton. Kaya akan Heavy Rare Earths (27 persen). Dan yang paling penting: Bersih dari Uranium (cuma 16 ppm).
Ini "Kuda Putih". Satu-satunya aset yang bisa melepaskan leher Amerika dari cekikan Tiongkok. Juni 2025 lalu, Bank Ekspor-Impor AS (EXIM) diam-diam sudah menaruh uang USD 120 Juta di sana.
Ini sinyal: Money talks, but Tomahawk walks. TAPI, tunggu dulu. Dalam dunia strategis, ada doktrin bernama Strategic Feint. Tipuan strategis.
Sun Tzu mengajarkan: "Buatlah kegaduhan di Timur, tapi seranglah di Barat." Apakah Trump benar-benar akan menyerbu Greenland? Atau ia hanya sedang cek ombak?
Lihat petanya. Greenland itu es. Logistiknya neraka. Pelabuhan Narsaq cuma sedalam 11 meter. Butuh waktu 5-10 tahun untuk mengeruk Tanbreez sampai menghasilkan logam jadi. F-35 butuh magnetnya sekarang.
Sementara itu, di Timur Tengah, sentrifuse nuklir Iran terus berputar. Teheran semakin dekat dengan bom nuklir (nuclear breakout). Pemerintahan resmi juga hampir runtuh. Agen Israel sudah berteriak-teriak di tengah demonstrasi minta lampu hijau untuk menyerang fasilitas Natanz atau Fordow.
Bisa jadi, teriakan Trump soal Greenland adalah "Psy-Ops" (Operasi Psikologis). Ia ciptakan ketakutan di Utara. Ia paksa Eropa sibuk mengamankan halaman depannya sendiri. Ia biarkan media sibuk membahas es.
Lalu, saat semua mata tertuju ke Narsaq, rudal Tomahawk justru terbang ke gurun Iran. Siapa tahu, kan? Dalam Transactional Politics ala Trump, kekacauan adalah tangga. Trump tidak butuh mineral Greenland sebanyak ia butuh "nama" di peta. Ini soal Empire Cosplay. Ambisi psikologis untuk memperluas teritori.
Sama seperti Putin ingin mengembalikan Uni Soviet, Trump ingin dikenang sebagai Presiden yang "memperbesar" Amerika. Nafsu ini tidak punya rem. Venezuela kemarin. Greenland hari ini. Iran besok?
Menunggu Giliran Kita di Indonesia, harus membaca ini dengan napas tertahan. Posisi kita agak mirip Greenland. Kita punya nikel. Kita punya bauksit. Kita punya tembaga. Semuanya. Kita adalah "gadis cantik" di tengah kerumunan preman pasar global.
Saat ini, kita aman karena kita pandai menari "bebas aktif" di antara dua gendang: Beijing dan Washington. Tapi lihatlah Greenland.
Mereka mencoba mandiri dengan UU No. 20 (melarang Uranium). Mereka mencoba berdaulat. Hasilnya? Mereka kini terjepit juga. Perusahaan Australia (proksi Tiongkok) menuntut ganti rugi USD 11,5 Miliar. Membangkrutkan negara lewat Asymmetric Lawfare.
Sementara Amerika datang membawa ancaman aneksasi. Kedaulatan di era Critical Mineral War ini mahal harganya. Malam ini, sambil mengaduk capcay hangat di Denpasar, saya membayangkan wajah-wajah pucat di Eropa. Mereka sadar, persahabatan transatlantik sudah mati.
Amerika bukan lagi Paman mereka. Ia kini menjadi raksasa yang lapar. Di Narsaq, kapal nelayan memecah es. Suaranya “krak, krak” seperti tulang punggung NATO yang akan segera patah.
Di bawah cahaya Aurora yang membisu, hantu-hantu geopolitik tersenyum tipis. Entah besok pagi tank akan mendarat di atas es Greenland, atau rudal akan menghujani reaktor Iran.
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Dan kita masih ada waktu untuk bisa memesan satu porsi lagi, sambil menatap menunggu giliran.
Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana