Berita

Halim Alamsyah. (Foto: Tangkapan layar YouTube)

Bisnis

2025 Salah Satu Tahun Terburuk Keuangan Indonesia

SABTU, 10 JANUARI 2026 | 02:35 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai salah satu periode terburuk dalam sejarah ekonomi Indonesia. Tekanan tak kasat mata bagi publik awam namun sangat terasa di pasar.

"Memang dari kacamata awam tidak kelihatan apa yang terjadi. Namun kalau kita lihat dari sisi pergerakan arus modal, saya bisa mengatakan tahun 2025 merupakan salah satu tahun yang terburuk dalam sejarah ekonomi kita di bidang keuangan, khususnya di bidang arus modal," kata mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah, dikutip dari YouTube Terus Terang Media, Sabtu, 10 Januari 2026.

Ia menjelaskan, tekanan sudah muncul sejak awal 2025 ketika neraca pembayaran menunjukkan arus modal keluar yang berlanjut dan membesar signifikan setelah Agustus. Kondisi itu memaksa BI melakukan intervensi besar-besaran demi menjaga stabilitas sistem keuangan dan menahan tekanan nilai tukar rupiah.


Menurut mantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini, pemicu utama datang dari faktor global terutama kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menggulirkan ancaman tarif tinggi terhadap China hingga 100-200 persen. Kebijakan tersebut memicu volatilitas global dan meningkatkan risiko investasi.

Di tengah tekanan eksternal, Halim menilai muncul pula kekhawatiran dari dalam negeri, terutama terkait arah kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai kurang terkomunikasikan dengan baik ke pasar. Fokus pada program-program populis seperti makan bergizi gratis (MBG), bansos, dan koperasi merah putih memunculkan persepsi risiko di kalangan investor.

“Walaupun program itu belum berjalan, kekhawatiran sudah muncul. Ditambah lagi adanya ketidakjelasan komunikasi kebijakan pemerintah, sehingga persepsi pasar terhadap ekonomi nasional menjadi negatif,” ujar mantan Anggota Dewan Komisioner OJK tersebut.

Meski demikian, Halim menyebut Indonesia masih relatif beruntung karena mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen. Namun pertumbuhan itu lebih ditopang oleh konsumsi domestik, bukan investasi, yang justru melemah akibat tekanan di sektor keuangan.

Tekanan tersebut tercermin jelas di pasar keuangan, terutama pada nilai tukar rupiah yang berada dalam kondisi under pressure. Akibatnya, kebijakan moneter tidak leluasa mendorong pertumbuhan karena harus difokuskan pada stabilisasi, sementara kebijakan fiskal juga dibayangi risiko penerimaan pajak dan belum optimalnya sistem pajak baru.

“Kombinasi tekanan global, ketidakpastian kebijakan, dan risiko fiskal membuat pelaku usaha bersikap rasional dengan mencari safe haven,” pungkas Halim, yang mencatat pelarian modal ke aset aman seperti dolar AS dan emas berlangsung masif, tercermin dari lonjakan harga emas domestik yang hampir menyentuh Rp2,5 juta per gram.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya