Berita

Webinar bertajuk Sikap Indonesia terhadap Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela, Jumat, 9 Januari 2026. (Foto: Tangkapan Layar Zoom)

Dunia

Menakar Langkah Indonesia Sikapi Konflik AS-Venezuela

JUMAT, 09 JANUARI 2026 | 21:45 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela bukan sesederhana persoalan keamanan semata, melainkan harus dilihat dalam konteks kepentingan strategis, ekonomi, serta posisi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Serangan AS ke Venezuela sulit dibenarkan merujuk Pasal 51 Piagam PBB mengenai hak bela diri (self-defense), mengingat tidak adanya ancaman langsung dan spesifik yang dilakukan Venezuela terhadap AS.

Dari perspektif akademik, konflik AS-Venezuela mencerminkan karakter sistem internasional yang anarkis, sebagaimana dijelaskan dalam teori realisme. Negara, termasuk AS bertindak berdasarkan persepsi ancaman dan rasa tidak aman (insecurity), sehingga konsep-konsep seperti kedaulatan (sovereignty) dan kepentingan nasional kerap ditafsirkan secara sepihak.


Demikian antara lain disampaikan Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam dalam webinar bertajuk Sikap Indonesia terhadap Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela, Jumat, 9 Januari 2026.

Umam menekankan pentingnya mencermati dokumen kebijakan strategis AS pada November 2025 di bawah pemerintahan Donald Trump. Dokumen tersebut menjadi rujukan utama untuk memahami kepentingan AS, khususnya terkait supply security dan energy security.

“Lonjakan saham perusahaan-perusahaan AS pasca-serangan menunjukkan adanya ekspektasi pasar bahwa perusahaan AS akan kembali memiliki akses terhadap sektor energi Venezuela. Ini mengindikasikan adanya kepentingan ekonomi yang sangat kuat di balik narasi keamanan,” jelas Umam.

Terkait posisi Indonesia, Umam menyebut AS beranggapan Indonesia dianggap relatif mudah melakukan swing dalam politik luar negeri.

"Oleh karena itu, prinsip politik luar negeri bebas aktif harus dijalankan secara konsisten dan berlandaskan kepentingan nasional jangka panjang," jelasnya.

Dalam diskusi yang sama, Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina, Rosyid Jazuli memaparkan analisis konflik AS-Venezuela dari sudut pandang ekonomi politik energi.

Venezuela, kata dia, merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, namun kinerja produksinya bersifat fluktuatif dan cenderung menurun drastis sejak nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing pada era pemerintahan Hugo Chávez, termasuk perusahaan minyak asal AS.

“Jika sudah menyangkut sumber energi strategis seperti minyak bumi, sikap AS sebagai negara adidaya bisa sangat agresif,” ujar Rosyid.

Kondisi ekonomi Venezuela secara umum juga tidak berada dalam posisi yang kuat. Sejak periode 1995-2000, pertumbuhan ekonomi negara tersebut tercatat negatif dan terus berlanjut hingga saat ini.

Atas dasar itu, ia menganggap aksi AS terhadap Venezuela bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan akumulasi konflik panjang sejak nasionalisasi perusahaan minyak AS yang berdampak pada terganggunya pasokan energi global.

Rosyid juga menyoroti karakteristik minyak Venezuela yang tergolong sebagai minyak berat (heavy crude), sehingga membutuhkan teknologi pengolahan yang kompleks dan itu semua dimiliki AS.

Sayangnya setelah nasionalisasi, kemampuan produksi dan pengolahan minyak Venezuela mengalami penurunan signifikan. Situasi ini diperparah oleh resource curse atau kutukan sumber daya alam.

Venezuela memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi tidak diimbangi dengan kapasitas pengelolaan memadai, hubungan ekonomi regional yang baik, serta stabilitas sosial. Krisis ekonomi dalam negeri bahkan memicu gelombang pengungsi Venezuela ke negara-negara tetangga, terutama Kolombia.

Di tingkat global, Venezuela juga dinilai tidak memiliki hubungan strategis kuat dengan kekuatan besar dunia, selain China dan Rusia. Hubungan yang terjalin sebagian besar bersifat kontraktual dan transaksional, bukan kerja sama komprehensif di bidang pertahanan, sosial, maupun pendidikan.

Dalam konteks Indonesia, Rosyid menekankan pentingnya memperkuat faktor deterrence domestik, seperti industri manufaktur yang kuat, penguasaan teknologi, kepastian hukum, serta iklim investasi yang sehat.

Kekuatan fundamental ekonomi tersebut membuat negara besar seperti AS harus berhitung ulang sebelum melakukan intervensi yang terlalu jauh.

“Indonesia saat ini memiliki tren ekonomi yang jauh lebih baik dibanding Venezuela. Negara-negara besar akan lebih respek terhadap negara yang memiliki ketahanan ekonomi yang kuat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, kedaulatan politik harus berjalan seiring dengan kedaulatan dan ketahanan ekonomi. Ia juga mengingatkan bahwa prinsip non-blok yang dianut Indonesia harus dijalankan secara proaktif, bukan sekadar reaktif.

"Politik luar negeri bebas aktif harus diwujudkan melalui kebijakan ekonomi dan diplomasi yang konsisten serta berorientasi jangka panjang," pungkasnya.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Kapolri: Hadapi Persoalan Bangsa Butuh Soliditas

Rabu, 11 Maret 2026 | 21:58

Ekonomi RI Diguncang Triple Shock, APBN Makin Babak Belur

Rabu, 11 Maret 2026 | 21:47

Perang Timur Tengah, Siapa yang Diuntungkan?

Rabu, 11 Maret 2026 | 21:21

Haris Azhar Anggap Broken Penanganan Kasus Lee Kah Hin

Rabu, 11 Maret 2026 | 20:56

Arahan Google Maps, Mobil Terjun Timpa Rumah Warga

Rabu, 11 Maret 2026 | 20:51

Safari Ramadan Romo Budi: Dari Sumba ke Bali, Bukber Lintas Agama Bikin Hangat

Rabu, 11 Maret 2026 | 20:39

Tewasnya Ermanto Usman Murni Kasus Pencurian

Rabu, 11 Maret 2026 | 20:38

KPK Agendakan Periksa Yaqut hingga Rencana Penahanan

Rabu, 11 Maret 2026 | 20:27

MQ Iswara Dukung Bahlil Dorong Beasiswa LPDP untuk Santri

Rabu, 11 Maret 2026 | 20:15

Prabowo Kaget Pertamina Punya 200 Anak Perusahaan, Soroti Kejanggalan Audit

Rabu, 11 Maret 2026 | 20:10

Selengkapnya