Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Dolar AS Menguat Tipis jelang Data Tenaga Kerja

JUMAT, 09 JANUARI 2026 | 10:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dolar AS bergerak menguat terhadap mata uang utama seperti Euro dan Franc Swiss pada penutupan Kamis 8 Januari 2026. Investor saat ini bersikap waspada menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (tenaga kerja) AS yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,2 persen ke posisi 98,922, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 10 Desember 2025.

Kenaikan ini terjadi di tengah ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali tahun ini, meskipun internal bank sentral sebelumnya hanya memproyeksikan satu kali pemangkasan. 


Ketidakpastian makin bertambah mengingat masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei mendatang, serta adanya kekhawatiran terhadap lonjakan utang negara akibat rencana peningkatan anggaran militer AS menjadi 1,5 triliun Dolar AS pada 2027.

Di sisi lain, Dolar menghadapi risiko tekanan dari potensi keputusan Mahkamah Agung AS yang dapat membatalkan kebijakan tarif era Trump, yang mengharuskan pemerintah mengembalikan dana sebesar 133,5 miliar Dolar AS kepada importir.

Sementara itu, meski isu geopolitik terkait Greenland memicu ketegangan diplomatik dengan sekutu Eropa, dampaknya terhadap volatilitas pasar mata uang saat ini dinilai masih sangat terbatas.

Terhadap Euro dan Poundsterling, pergerakan Dolar hampir tidak berubah dengan kenaikan yang sangat kecil, masing-masing berada di level 1,1659 Dolar AS untuk Euro dan 1,3438 Dolar AS untuk Poundsterling

Di pasar Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi dengan Dolar Australia yang melemah 0,37 persen, sementara Yuan China berhasil menguat 0,15 persen terhadap Dolar AS. 

Rupiah melemah sekitar 0,11 persen sehingga nilai tukar berada di level Rp16.798. Kondisi serupa juga terjadi pada Yuan China yang tertekan 0,10 persen ke level 6,9847 Dolar AS. 

Secara keseluruhan, pasar diperkirakan akan bergerak dalam rentang terbatas hingga muncul kejelasan mengenai agresivitas siklus pemangkasan suku bunga dan transisi kepemimpinan di tubuh bank sentral Amerika.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya