Berita

Pakar Iimu politik Prof. Siti Zuhro. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Prof. Siti Zuhro:

Hasil Pilpres dan Pilkada Ternyata Digerakkan Vote Buying

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 23:09 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Praktik demokrasi Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar. Partisipasi politik masyarakat dalam pemilu dan pilkada dinilai belum lahir dari kesadaran politik, melainkan masih kuat digerakkan oleh praktik vote buying.

Demikian disampaikan peneliti senior Pusat Penelitian Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Siti Zuhro, dalam webinar bertajuk "Evaluasi Pemerintahan Prabowo Subianto 2025: Sosial, Politik, Ekonomi, dan Hukum" yang digelar secara daring, Senin, 5 Januari 2026.

“Kalau partisipasinya diukur dari hasil pemilu presiden maupun pilkada, ternyata lebih digerakkan oleh vote buying gitu. Mereka memilih karena digerakkan oleh vote buying. Dia dibayar,” kata Siti.


Ia menjelaskan, dalam praktiknya vote buying tersebut dilakukan secara terstruktur, di mana satu koordinator kerap mengoordinasi 18 hingga 20 pemilih untuk menerima bayaran tertentu.

“Itu vote buying gitu ya. Nah dalam konteks itu memang ini sangat serius,” tegasnya.

Menurut Siti, demokrasi sejatinya bukan sekadar mekanisme prosedural dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Lebih dari itu, demokrasi juga merupakan proyek besar untuk membangun peradaban bangsa.

“bagaimana kita membangun peradaban kalau masyarakatnya, pemilihnya itu hanya bisa digerakkan dengan membayar?” ujarnya.

Siti mengakui memang tidak semua pemilih terlibat dalam praktik tersebut. Namun, besarnya jumlah pemilih yang mudah dimobilisasi melalui uang tidak bisa diabaikan, terutama jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan masyarakat.

“Rentang pendidikan masyarakat Indonesia belum tinggi gitu. Masih maksimal sebagian besar SMP. Hampir sembilan tahun. Ada yang lulusan SD, lulusan SMP, SMA, seperti itu. Sebagian besar penduduk kita di sana,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Siti, membuat prinsip one man, one vote kehilangan makna substantif. Tanpa pendidikan pemilih (voter education) yang memadai, hak politik masyarakat tidak digunakan secara sadar dan rasional.

“Maka one man one vote menjadi kurang bermakna ketika masyarakat voters, masyarakat pemilih, voters tadi itu tidak mendapatkan voter education yang sangat proper,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Buya Anwar: Kasus Korupsi Bisa Picu Krisis Kepercayaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 06:18

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Jakarta Basaria Martha Raih Penghargaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 06:02

Ini Jadwal Lengkap Rencana Perjalanan Haji 2027

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:45

Seragam Tak Mengubah Hukum

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:34

Cek Kesehatan Gratis Kini Lebih Mudah Diakses

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:19

Polda Banten: KMP Batumandi Angkut 420 Penumpang dan 89 Kendaraan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:59

Pembangunan KNMP Sima-Wabu Libatkan Warga Lokal

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:46

Korban Indosurya Berjuang Mencari Keadilan sejak 2020

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:13

Pramono Dorong Film Nasional Tembus Pasar ASEAN

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:02

Galeri 24 Sabet Top 2 Kategori Retail dan Top 28 BUMN

Rabu, 21 Oktober 2026 | 03:32

Selengkapnya