Berita

Asap mengepul dari ledakan di dekat Benteng Tiuna, zona militer saat pemadaman listrik total karena meningkatnya ketegangan antara pemerintahan Amerika Serikat dan Venezuela di Caracas, Venezuela, Sabtu, 3 Desember 2026. (Foto: ANTARA FOTO/REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria/agr)

Publika

Menjadi Negara Lemah Memang Tak Enak, Diserang Hanya Bisa "Pegang Telor"

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 17:43 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

Petrodolar bisa ditaklukkan dengan minyak jelantah.

SERANGAN Amerika Serikat (AS) ke Venezuela menjadi pelajaran berharga bagi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) bagaimana mengelola energi ke depan. 

Mengingat perang, agresi, invasi dalam dua  dekade terakhir adalah pertarungan hidup mati rezim 1971 yakni Petro dollar sistem. 


Modus operasi utama adalah menciptakan gangguan atas minyak sehingga menjadi gangguan atas stabilitas dan keamanan nasional.

Satu satunya cara bertahan adalah mengajak semua rakyat terlibat menghadapi gangguan terhadap energi, terutama migas. 

Cara inclusive dengan melibatkan semua rakyat untuk berpartisipasi dalam ketahanan enegi adalah kunci agar dapat bertahan. 

Rakyat harus dilibatkan mengumpulkan energi, memproduksi, berkontribusi dan ikut menikmati hasil hasil energi atau mendapatkan pendapatan dari usaha di bidang energi.

Program minyak jelantah yang digadang-gadang Pertamina adalah konsep yang sangat bagus yang merupakan menifestasi sistem Hankamrata atau sistem pertahanan rakyat semesta dalam sektor energi minyak. 

Program ini dapat menjadi bukti keterlibatan rakyat langsung dalam menjaga ketahanan, stabilitas dan bahkan swasembada energi sekarang ke depan. 

Hankamrata yang dimanifestasikan dalam bentuk keterlibatan rakyat secara ekonomi membantu negara dan membantu sekaligus ekonomi rumah tangganya sendiri.

Keberhasilan program ini akan membantu pemerintah dalam menekan impor solar dan menekan subsidi APBN terhadap solar. 

Rakyat berkontribusi langsung terhadap neraca perdagangan Indonesia dan sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan ruang fiskal dalam membiayai pembangunan. 

Selain itu rakyat juga berkontribusi dalam menjaga lingkungan hidup, mengurangi  Co2 dan menambah portofolio pertamina dalam Net Zero Emmision (NZE).

Tidak sulit bagi Pertamina dalam menjalankan program ini, dikarenakan Pertamina adalah organisasi dengan struktur paling luas di Indonesia, memiliki SPBU sampai ke kabupaten bahkan kecamatan, memiliki pangkalan LPG sampai ke kampung kampung dan memiliki SDM yang sangat besar. Tidak diragukan Pertamina akan dapat menjalankan program ini secara optimal. 

Dengan konsep Hankamrata terutama dalam bidang energi maka Pertamina dan Indonesia tidak perlu takut dengan gangguan apa pun dalam geopolitik, tidak perlu terganggu ekonominya atas serangan dari negara manapun kepada negara lain yang ditujukan untuk menciptakan instabilitas ekononomi, atau kekacauan dalam rantai suplai energi global. 

Minyak jelantah adalah strategi terbaik dan inclusive dalam menghadapi provokasi petrodolar dalam menciptakan ancaman energi global. Minyak jelatah mengambil slogan "Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat. 

Jadi dengan demikian Indonesia tidak "pegang telor" menghadapi petrodolar, namun melangkah tegap dengan menepuk dada. Seperti dulu selalu lantang "Ini dadaku mana dadamu" minyak jelatah adalah bisa memenangkan pertarungan melawan petro dollar.

Gerakan Trump atau perang sporadis lain yang menggangu stabilitas energi global dapat kita hadapi dengan minyak jelantah yang melimpah. Potensi pengumpulan mencapai 4 juta ton. 

Jumlah ini adalah angka yang sangat signifikan karena dapat menghentikan impor solar sama sekali. Karena minyak jelantah bahan bakar terbaik yang sangat ramah lingkungan dan bisa menekan limbah rumah tangga secara signifikan.

Ada satu kekuatan lagi yang bisa menjadi cadangan (stok) bagi usaha menjaga stabilitas pasar keuangan nasional yakni stok batu akik kita yang sangat besar.

Pemerintah juga perlu membuat batu akik bond, Sungai daereh bond, bacan bond, Kalimaya Bond, dan lain-lain. Mengingat transaksi batu akik Indonesia nilainya berkisar antara Rp50-100 triliun jika diukur dalam seluruh rantai suplai yang ada.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Kemenhut Sebut Kejagung Hanya Mencocokkan Data, Bukan Penggeledahan

Kamis, 08 Januari 2026 | 00:04

Strategi Maritim Mutlak Diperlukan Hadapi Ketidakpastian di 2026

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:49

Komplotan Curanmor Nekat Tembak Warga Usai Dipergoki

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:30

Pemuda Katolik Ajak Umat Bangun Kebaikan untuk Dunia dan Indonesia

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:01

PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD karena Tak Mau Tinggalkan Rakyat

Rabu, 07 Januari 2026 | 22:39

Penjelasan Wakil Ketua DPRD MQ Iswara Soal Tunda Bayar Infrastruktur Pemprov Jabar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:56

Kejagung Geledah Kantor Kemenhut terkait Kasus yang Di-SP3 KPK

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:39

84 Persen Gen Z Tolak Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:33

Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Perlu Dikaji Ulang

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:09

Harta Anggota KPU DKI Astri Megatari Tembus Rp7,9 Miliar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:07

Selengkapnya