Berita

Presiden Venezuela Nicolas Maduro Digiring petugas DEA (Foto: X @RapidResponse47)

Publika

Nasib Venezuela Pasca Maduro Diculik Tentara Amerika

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 12:26 WIB

BANYAK bertanya, seperti apa situasi Venezuela pasca diculiknya Presiden Nicolás Maduro Moros oleh tentara Amerika Serikat (AS). Situasi masih terkendali, namun Presiden AS Donald Trump mulai menerapkan skenario berikutnya.

Caracas hari ini mirip telenovela yang sutradaranya lulusan Pentagon. Adegan pertama, Maduro hilang. Adegan kedua, listrik mati. Adegan ketiga, rakyat antre roti. Adegan keempat, Amerika muncul sambil bilang, “Tenang, ini semua demi stabilitas.” 

Terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Bahkan jam Rolex pun kalah presisi. Enam puluh menit operasi, satu presiden lenyap, dan satu negara masuk mode bingung nasional. Venezuela mendadak seperti lukisan Bolívar yang diturunkan dari dinding, semua masih ada, tapi maknanya goyang.


Negeri ini bukan sembarang negeri. Di bawah tanahnya tersimpan lebih dari 300 miliar barel minyak, cadangan terbesar di planet ini. 

Itu bukan angka, itu mantra pemanggil intervensi. PDVSA, perusahaan minyak negara yang dulu memompa lebih dari 3 juta barel per hari pada 1990-an, sekarang megap-megap di kisaran ratusan ribu barel. 

Kilang Paraguaná yang pernah jadi kebanggaan Amerika Latin, kini lebih sering disebut “bangkai industri”. Lalu Amerika datang membawa narasi penyelamatan, seperti pemadam kebakaran yang datang setelah api dijamin membesar dulu.

Situasi pasca-Maduro terasa seperti kota yang sengaja diredupkan. Listrik putus nyambung, sinyal hilang timbul, antrean pangan memanjang seperti dosa kolonialisme. 

Ini bukan kekacauan acak, ini kekacauan yang terkurasi. Karena kekacauan itu penting. Orang yang lapar lebih mudah menerima stabilitas ketimbang kedaulatan. 

Ketika inflasi pernah menyentuh jutaan persen dan mata uang jatuh lebih dari 99 persen nilainya, kata “normal” terdengar lebih seksi dari kata “merdeka”.

Delcy Rodríguez tampil di TV dengan wajah patung nasional yang baru belajar marah. Ia mengecam Amerika, menyebut penculikan, imperialisme, pelanggaran hukum internasional. 

Ia juga bilang Maduro tetap presiden sah, meski presidennya sedang berada di luar negeri. Ini logika Schrödinger versi politik, Maduro presiden dan bukan presiden pada saat yang sama. Ambiguitas ini bukan cacat, ini jeda. Jeda untuk menata panggung, menunggu aktor baru yang lebih ramah kamera Barat.

Sementara itu, minyak mulai berbisik. Chevron sudah lama bertahan di Venezuela meski sanksi menjerat. Nama-nama besar lain berdiri di balik tirai, menunggu lampu hijau. Amerika tidak bilang “ambil alih”, itu kasar. Mereka bilang “mengelola sementara”. Kata “sementara” ini elastis seperti permen karet geopolitik. 

Minyak tetap milik Venezuela, kata mereka, hanya saja pengelolaannya… ya, lebih modern, lebih efisien, lebih Amerika. Teluk Maracaibo tetap berkilau, Sungai Orinoco tetap mengalir, tapi arah uangnya belok halus.

Demo? Sudah pasti. Ini bagian paket. Pro-Maduro turun ke jalan membawa wajah Chávez, teriak revolusi. Kontra-Maduro menunggu dengan harapan baru, atau setidaknya harapan harga tepung turun. Di luar negeri, poster “Hands off Venezuela” muncul rapi seperti brosur seminar. 

Pro dan kontra bukan tanda chaos, tapi indikator sukses skenario. Ketika dunia melihat Venezuela terbelah, solusi paling “masuk akal” pun muncul, pemimpin baru yang moderat, rasional, dan tentu saja pro pasar. Terjemahan bebasnya, pro AS.

Trump paham betul seni lelah kolektif. Setelah krisis panjang, rakyat akan memilih siapa pun yang menjanjikan lampu menyala 24 jam. 

Presiden baru nanti mungkin lahir bukan dari cinta, tapi dari kelelahan. Ia akan bicara demokrasi dengan aksen investasi, kedaulatan dengan catatan kaki kontrak energi. Jasnya rapi, senyumnya aman, dan pidatonya disukai pasar.

Namun, setiap konspirasi elegan selalu punya sisi gelap. Jika militer terbelah, jika loyalis lama menolak menyingkir, jika oposisi terlalu cepat berebut kursi, Los Llanos yang luas bisa berubah dari padang tenang menjadi medan retak. 

Perang saudara bukan rencana utama, tapi risiko cadangan. Seperti minyak Venezuela sendiri, jika ditekan terlalu keras, ia menyembur liar.

Ávila masih berdiri memandang Caracas. Plaza Bolívar masih ramai burung merpati. Tapi di balik ikon-ikon itu, Venezuela sedang digiring ke lorong sempit bernama “transisi”. 

Semua tampak alami, padahal sudah dibungkus rapi. Pertanyaannya bukan apakah Amerika menang, melainkan berapa lama rakyat Venezuela harus menunggu sampai sadar, dalam drama ini, mereka bukan penonton, mereka panggungnya. Tirai belum turun.

Trump pasti asyik ngopi pasca penculikan Maduro. Mungkin, ia sedang memikirkan negara mana lagi yang mau dijinakkan. Rambut jagungnya memang mempesona, namun bisa menjadi aura bencana.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya