Berita

Ilustrasi Pilkada (Dokumentasi RMOL)

Politik

Komrad Pancasila: Wacana Pilkada via DPRD Bisa Picu Gejolak Nasional

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 08:49 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Di tengah kondisi ekonomi yang masih dirasakan berat oleh sebagian besar masyarakat, wacana perubahan desain pemilihan kepala daerah (pilkada) dinilai berpotensi memicu kegaduhan sosial dan politik.

Koordinator Komrad Pancasila, Antony Komrad, mengingatkan pemerintah dan parlemen agar menyikapi diskursus tersebut dengan sangat hati-hati.

“Kami menghargai niat pemerintah dan sebagian elite politik yang ingin memangkas praktik politik uang. Namun, yang lebih mendesak saat ini adalah pembenahan ekonomi riil, mulai dari daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga stabilitas harga,” kata Antony kepada RMOL, Senin, 5 Januari 2026.


Menurutnya, wacana pilkada melalui DPRD berpotensi memecah fokus kebijakan nasional, memanaskan polarisasi, bahkan memantik kegaduhan sosial yang bisa berujung pada gelombang demonstrasi besar-besaran.

Wacana pilkada tidak langsung kembali menguat setelah Ketua Komisi II DPR, Rifqinizamy Karsayuda, menyampaikan bahwa frasa “dipilih secara demokratis” dalam UUD 1945 dapat dimaknai melalui pemilihan langsung maupun tidak langsung. Pandangan tersebut membuka ruang konstitusional bagi pembahasan pemilihan kepala daerah melalui DPRD.

Sejumlah partai dan tokoh politik menilai mekanisme tersebut lebih efisien serta dinilai mampu menekan praktik politik uang. Namun Antony menilai pendekatan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks.

Ia menegaskan, pemberantasan politik uang tidak cukup dilakukan hanya dengan mengganti model pemilihan. Akar persoalan, menurutnya, justru terletak pada tata kelola pendanaan politik yang tidak transparan serta lemahnya penegakan hukum.

Karena itu, Antony mendorong penguatan instrumen yang lebih substantif, seperti transparansi sumbangan kampanye, audit pendanaan yang ketat, serta penindakan tegas terhadap praktik suap dan transaksi politik dalam pemilu.

Dari sisi regulasi, mekanisme pilkada saat ini masih mengacu pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016. Perubahan sistem pemilihan kepala daerah akan membutuhkan revisi undang-undang yang berpotensi memicu perdebatan panjang di tingkat nasional.

“Jika publik menangkap wacana ini sebagai langkah mundur demokrasi atau upaya memusatkan kendali elite, ruang sosial bisa cepat bergejolak. Ini risiko yang semestinya tidak diambil ketika masyarakat sedang menuntut kepastian ekonomi,” jelas Antony.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjadikan agenda pemberantasan politik uang sebagai program jangka panjang yang terukur, termasuk melalui reformasi internal partai politik dan penguatan lembaga pengawas pemilu.

“Menekan politik uang adalah tujuan yang baik. Namun tujuan baik harus ditempuh melalui jalur yang paling minim kegaduhan, paling kuat akuntabilitasnya, dan paling mendekatkan negara pada kebutuhan mendesak rakyat,” pungkas Antony.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya