Berita

Pengamat politik dari Vinus Indonesia, Yusfitriadi. (Foto: RMOL)

Politik

Besar Biaya Pilkada Bukan Salah Sistem tapi Perilaku Parpol

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 15:08 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pengamat politik dari Vinus Indonesia, Yusfitriadi, menolak keras wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD. 

Menurutnya, persoalan utama dalam pilkada selama ini bukan terletak pada sistem pemilihan langsung, melainkan pada perilaku partai politik dan para kandidatnya.

Yusfitriadi menegaskan, jika praktik politik uang masih marak, maka yang seharusnya dibenahi adalah aktor-aktor politik yang terlibat, bukan justru sistem demokrasi yang diberangus.


“Partai politik harus mendorong agar tidak terjadi money politics. Terus kenapa sistem yang disalahkan? Padahal perilaku yang mendorong menguatnya money politics adalah perilaku partai politik dengan para kandidatnya. Terus kenapa sistem yang harus diberangus?” kata Yusfitriadi lewat kanal Youtube Vinus Indonesia, Minggu, 4 Januari 2026.

Ia juga menanggapi argumen yang kerap digunakan pendukung pilkada tidak langsung, yakni soal mahalnya biaya penyelenggaraan. Menurut Yusfitriadi, tingginya biaya tersebut kerap disebabkan oleh gaya hidup dan pilihan belanja politik yang tidak rasional.

“Begitupun ketika argumennya biaya penyelenggara terlalu besar. Ya iya besar kalau digunakan untuk menyewa private jet. Tentu besar kalau misalnya sudah punya kantor tapi bikin agenda di hotel,” sindirnya.

Yusfitriadi menilai, pemborosan anggaran juga terjadi ketika fasilitas negara yang sudah tersedia tidak dimanfaatkan secara optimal.

“Jadi besar kalau sudah punya rumah dinas nyewa apartemen iya besar,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa biaya politik yang besar sejatinya wajar dalam konteks penguatan demokrasi. Namun, ia menolak anggapan bahwa besarnya anggaran pemilu adalah konsekuensi sistem pilkada langsung.

“Dan kalaupun besar memang wajar untuk menguatkan demokrasi di negeri ini. Tapi kebesaran anggaran penyelenggaraan pemilu adalah anggaran yang dibuat-buat,” pungkas Yusfitriadi.


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Kemenhut Sebut Kejagung Hanya Mencocokkan Data, Bukan Penggeledahan

Kamis, 08 Januari 2026 | 00:04

Strategi Maritim Mutlak Diperlukan Hadapi Ketidakpastian di 2026

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:49

Komplotan Curanmor Nekat Tembak Warga Usai Dipergoki

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:30

Pemuda Katolik Ajak Umat Bangun Kebaikan untuk Dunia dan Indonesia

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:01

PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD karena Tak Mau Tinggalkan Rakyat

Rabu, 07 Januari 2026 | 22:39

Penjelasan Wakil Ketua DPRD MQ Iswara Soal Tunda Bayar Infrastruktur Pemprov Jabar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:56

Kejagung Geledah Kantor Kemenhut terkait Kasus yang Di-SP3 KPK

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:39

84 Persen Gen Z Tolak Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:33

Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Perlu Dikaji Ulang

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:09

Harta Anggota KPU DKI Astri Megatari Tembus Rp7,9 Miliar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:07

Selengkapnya