Berita

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto. (Foto: RMOL)

Bisnis

Pejabat Eselon Diminta Keluar dari Zona Nyaman, APBN Jangan Jadi Bancakan

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 11:12 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Instruksi Presiden Prabowo Subianto agar pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak mengalami pelebaran defisit harus dijalankan secara serius oleh para pejabat eselon. Selama ini, birokrasi dinilai terlalu nyaman dan minim semangat penghematan.

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto menegaskan perlunya langkah tegas bahkan ekstrem untuk mengubah perilaku para pejabat negara yang selama ini berada di zona nyaman.

"Perlu gerakan revolusioner bagi pejabat eselon untuk mengencangkan ikat pinggang. Selama ini mereka terlalu nyaman. Padahal ini instruksi langsung Presiden agar pengelolaan APBN tidak melebar defisitnya," kata Hari kepada , Minggu, 4 Januari 2026.


Hari menilai pesan Presiden juga ditunjukkan secara simbolik melalui foto bersama Jaksa Agung di depan tumpukan uang sitaan bernilai triliunan rupiah. Namun, simbol penegakan hukum itu akan kehilangan makna jika tidak dibarengi perubahan nyata dalam praktik pengelolaan anggaran.

"Semua ada solusinya kalau dilakukan dengan kesungguhan, bukan sekadar omon-omon. Antara ucapan dan tindakan harus sejalan," tegasnya.

Lebih jauh, Hari mengingatkan Presiden agar tidak mudah menerima laporan para pembantunya yang berpotensi menyesatkan, khususnya terkait penggunaan anggaran di lapangan.

"Presiden jangan mau dibohongi pembantunya. Misalnya biaya pembuatan sumur bor di daerah bencana disebut Rp150 juta per titik. Itu bukan penghematan tapi pemborosan," ujar Hari.

Menurutnya, angka tersebut jauh dari realitas dan mencerminkan buruknya tata kelola anggaran negara.

"Di lapangan mana ada pembuatan sumur bor sampai sebesar itu. Wajar APBN terus defisit kalau orientasinya cari untung. Bukan menyelamatkan APBN yang terancam defisit," kritiknya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya