Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

SABTU, 03 JANUARI 2026 | 08:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah sempat terpuruk sepanjang tahun lalu, Dolar AS mengawali tahun 2026 dengan pijakan kuat pada penutupan perdagangan Jumat 2 Januari 2025. 

Mata uang Negeri Paman Sam ini berhasil bangkit dari penurunan tahunan terdalamnya sejak 2017 yang mencapai lebih dari 9 persen.

Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang, naik 0,24 persen ke level 98,48,  memberikan napas lega bagi investor di tengah volume perdagangan yang tipis karena tutupnya pasar Jepang dan China.


Penguatan ini terjadi saat pelaku pasar bersiap menghadapi rangkaian data ekonomi penting, terutama laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis Jumat depan. Data ini dianggap vital untuk menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Saat ini, pasar dan bank sentral masih mengalami silang pendapat. Pasar tengah memperhitungkan peluang dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, sementara dari internal The Fed terjadi keputusan yang terbelah dan cenderung memproyeksikan hanya satu kali pemangkasan.

"Ini akan menjadi masa untuk benar-benar melakukan banyak penilaian. Kami tidak akan mendapatkan pertemuan The Fed hingga akhir bulan, dan saat ini belum ada konsensus," ujar Juan Perez, Direktur Perdagangan Monex USA, dikutip dari Reuters.

Masa depan Dolar AS juga dibayangi oleh berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang. Presiden Donald Trump dijadwalkan akan mengumumkan kandidat pilihannya bulan ini, yang diprediksi pasar akan mendukung kebijakan suku bunga rendah (dovish).

Analis Goldman Sachs mencatat bahwa isu independensi bank sentral tetap menjadi risiko utama bagi pergerakan dolar sepanjang 2026. Pergantian kepemimpinan ini akan menjadi salah satu faktor penentu apakah tren suku bunga AS akan turun lebih cepat dari perkiraan semula.

Kebangkitan Dolar secara otomatis menekan mata uang rivalnya.

Euro turun 0,25 persen ke 1,1716 Dolar AS, menyusul data manufaktur zona Euro yang melemah.

Pound Sterling terkoreksi 0,18 persen ke 1,3445 Dolar AS.

Yen Jepang melemah 0,16 persen ke level 156,91 per dolar, mendekati titik terendahnya dalam 10 bulan terakhir.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

Prabowo Ingin Tunjukkan RI Bukan Objek Perebutan Pengaruh Global

Senin, 01 Juni 2026 | 04:03

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

Delapan Gudang Kendaraan Bodong di Deli Serdang Digerebek, 135 Motor Disita

Senin, 01 Juni 2026 | 03:29

Kampung Rambutan Dipadati Penumpang Arus Balik Iduladha

Senin, 01 Juni 2026 | 03:19

Herdinata Tega Bunuh Temannya Gegara Handphone Diambil

Senin, 01 Juni 2026 | 03:09

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Diplomasi Pertahanan Indonesia Lebih Antisipatif terhadap Ancaman Global

Senin, 01 Juni 2026 | 02:25

Agustus 1945: Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:14

Cegah Penyimpangan Seks, Yayasan Humaniora Nikahkan Pasangan Pemulung

Senin, 01 Juni 2026 | 01:47

46 Persen Anggota DPR Fraksi Gerindra Tak Patuh Lapor LHKPN

Senin, 01 Juni 2026 | 01:29

Selengkapnya