Berita

Partai politik di Indonesia diwacanakan membentuk koalisi permanen (Foto: RMOL)

Politik

Hari Purwanto:

Koalisi Permanen Hanya Lip Service dan Sarat Kepentingan Pemburu Rente

JUMAT, 02 JANUARI 2026 | 13:22 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Wacana pembentukan koalisi permanen dinilai tidak lebih dari sekadar lip service karena orientasinya dianggap hanya menguntungkan kelompok pemburu rente, bukan berlandaskan kerja keras, inovasi, atau kepentingan rakyat.

Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto, dalam merespons wacana koalisi permanen yang kembali mencuat dalam dinamika politik nasional.

“Koalisi permanen hanya lip service belaka karena orientasinya tidak lain adalah pemburu rente. Mereka memburu keuntungan dari sistem, bukan dari kerja keras atau inovasi, yang sering kali melibatkan praktik korupsi atau manipulasi kebijakan,” ujar Hari kepada RMOL di Jakarta, Jumat, 2 Januari 2026.


Menurut Hari, kesamaan ideologi atau warna bendera partai kerap dijadikan alasan pembentukan koalisi permanen. Namun dalam praktiknya, tujuan masing-masing pihak dalam koalisi sering kali berbeda dan lebih bersifat pragmatis.

Ia menilai hubungan dalam koalisi lebih menyerupai simbiosis mutualisme selama kepentingan kekuasaan terpenuhi. Padahal, kata Hari, kekuasaan seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat sebagaimana amanat sila kelima Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Hari menegaskan bahwa wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD bukanlah tolok ukur terbentuknya koalisi permanen. Menurutnya, tolok ukur yang seharusnya menjadi tujuan permanen adalah pelaksanaan nilai sila kelima Pancasila secara konsisten.

“Kepentingan koalisi saat ini hanya sebatas pemburu rente. Kesamaan cara pandang dan program kerja belum terlihat selama Garis Besar Haluan Negara (GBHN) belum dihadirkan kembali,” tegasnya.

Ia menambahkan, koalisi politik umumnya hanya aktif saat memenangkan pasangan calon dan kemudian berujung pada pembagian kursi kekuasaan di kabinet. Jika tolok ukur koalisi hanya didasarkan pada kepentingan dan kebutuhan sesaat, maka koalisi tersebut lebih tepat disebut sebagai koalisi taktis atau koalisi pemburu rente.

“Koalisi permanen tanpa orientasi kepentingan rakyat hanyalah jargon politik,” pungkas Hari.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Dilema Kelas Menengah dan Bawah di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:31

Lewat Surat Terbuka, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:20

Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Jenderal TNI Purn Subagyo

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:17

Harga Emas Antam Ambruk, Termurah Dijual Rp1,33 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:13

Sempat Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Mode Korut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:03

Muslim Arbi Apresiasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Swasembada Beras Jadi Prestasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Rupiah Bergerak ke Rp18.023 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49

Komisi II DPR Desak HGU Perusahaan Pembakar Hutan Dicabut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44

BEI Pastikan Saham HSC Tetap Diperdagangkan, Hanya Dicoret dari Hitungan IHSG

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:40

IHSG Dibuka Merah, Dua Menit Perdagangan Langsung Lompat 1,8 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:22

Selengkapnya