AKHIR tahun 2025 kemarin Bali sepi, terasa seperti panggung konser yang lampunya lupa dinyalakan. Pantainya masih cantik, matahari tetap setia terbit dari timur, ombak tetap rajin memeluk pasir, tapi penontonnya berkurang. Wisatawan asing berseliweran, seperti figuran yang sudah hafal peran yang datang, berjemur, tersenyum ke kamera, lalu pulang dengan koper penuh oleh-oleh dan memori.
Di belahan bumi lain, pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah arus jutaan manusia bergerak ke arah yang sama, dengan niat yang jauh lebih sunyi namun justru sangat riuh secara spiritual. Mekkah non jauh di Saudi Arabia tak sedang menggelar pesta kembang api. Tak ada hitung mundur, tak ada terompet plastik, tak ada confetti yang jatuh lalu dipijak.
Yang ada justru hampir dua belas juta orang berjubel-jubel, berjamaah mengakhiri tahun 2025 dan “berpesta” memasuki tahun baru 2026 di sana. Mereka memilih “libur” dengan cara yang terasa paradoksal bagi dunia modern yang mana mereka lelah, lalu datang ke tempat yang menuntut lebih banyak lelah, namun pulang dengan jiwa yang lebih ringan.
Ya, hampir 12 juta orang melaksanakan umrah di akhir tahun. Angka ini bukan sekadar statistik dingin yang dilaporkan BPS Saudi, melainkan potret psikologis global. Ketika sebagian dunia menutup tahun dengan pesta yang menambah letih, jutaan manusia justru memilih retreat massal ke pusat ibadah umat.
Mereka tidak sedang melarikan diri dari dunia, melainkan menata ulang hubungan dengan diri sendiri, keluarga, dan Tuhan. Ini semacam detoks rohani yang memang bukan jus seledri atau yoga mahal, melainkan
thawaf, sa’i, dan doa yang kadang diucapkan dengan suara tercekat. Lalu berjalan di lorong-lorong sekitar Ka’bah.
Menariknya, alam seperti ikut berempati. Cuaca Mekkah di penghujung tahun begitu bersahabat, berkisar antara enam hingga dua puluh derajat. Kadang hujan turun, langit mendung seolah sengaja menurunkan tempo kota suci itu. Bagi jamaah yang terbiasa dengan panas gurun, ini bukan sekadar nyaman, melainkan karunia kecil yang terasa personal.
Di sela semilir angin lembut, Masjidil Haram tampak semakin tertata, nyaris seperti ruang publik ideal versi spiritual: bersih, teratur, dan ini yang sering luput, ramah keluarga. Datang bersama istri dan anak-anak bukan lagi mimpi logistik yang melelahkan, melainkan pengalaman ibadah yang terasa sekaligus sebagai perjalanan batin dan wisata jiwa.
Ada satu lapisan lain yang tak kalah menarik, bahkan nyaris ironis, yakni pasar umrah akhir tahun yang mendadak berubah menjadi etalase raksasa di jagat maya. Coba ketik kata “umrah Desember” atau “umrah akhir tahun” di Google, maka layar seketika menjelma papan reklame digital tanpa trotoar: poster berwarna emas-hijau, meme bertema Ka’bah dengan font tebal.
Mereka menjanjikan “khusyuk”, “nyaman”, dan “berkah maksimal”, diskon
early bird yang terasa lebih religius dari sale akhir tahun pusat perbelanjaan. Agensi berlomba-lomba memasarkan paket ibadah dengan bahasa yang nyaris puitis, seakan surga bisa dicicil dengan DP ringan, hingga spiritualitas pun tampil sebagai komoditas visual yang harus bersaing di algoritma.
Namun justru di situ paradoksnya sekali lagi bahwa di tengah riuh marketing yang memenuhi halaman pencarian, jutaan orang tetap datang bukan karena poster paling cantik atau meme paling viral, melainkan karena panggilan sunyi yang tak pernah muncul di Google Trends, tapi selalu muncul di relung hati manusia.
Dan di balik kesyahduan itu, ternyata ada mesin modern yang bekerja tanpa banyak suara. Data resmi menunjukkan lebih dari 11,9 juta jamaah umrah tercatat dalam satu bulan hijriah, salah satu angka tertinggi sepanjang sejarah. Lebih dari 1,5 juta di antaranya datang dari luar negeri. Sisanya “umrahwan” lokal.
Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari transformasi sistemik. Visa dipermudah, layanan terintegrasi, dan platform digital seperti Nusuk memungkinkan jamaah mengatur perjalanan tanpa harus tersesat di labirin perantara. Agama, yang sering dituduh alergi teknologi, di sini justru berpelukan akrab dengannya.
Semua ini selaras dengan visi besar Saudi Arabia 2030, yang sering disalahpahami semata sebagai proyek gedung tinggi dan diversifikasi ekonomi. Padahal, di jantungnya ada satu ambisi yang lebih subtil: menjadikan ibadah sebagai pengalaman yang khusyuk tanpa harus kacau secara teknis. Sekaligus menyediakan transparansi.
Manajemen kerumunan berbasis data, pemantauan real-time, hingga perencanaan berbantuan kecerdasan buatan diterapkan bukan untuk menghilangkan sakralitas, melainkan justru menjaganya. Teknologi di sini berperan seperti penjaga lalu lintas rohani: memastikan jutaan niat suci tidak saling bertabrakan.
Jika Bali menawarkan pelarian dari rutinitas lewat keindahan alam dan hiburan, Mekkah menawarkan pelarian yang berbeda: pulang ke pusat makna. Keduanya sama-sama sah sebagai pilihan manusia modern. Namun kontras di akhir 2025 ini mengajukan pertanyaan sunyi yakni setelah setahun berlari, apa yang sebenarnya kita cari saat berhenti sejenak? Keramaian yang membuat lupa, atau kesunyian yang membuat ingat?
Mungkin, pada akhirnya, sepi dan ramai hanyalah soal koordinat. Bali yang sepi tetap indah, Mekkah yang ramai tetap khusyuk. Yang menentukan bukan jumlah manusia atau gemerlap cahaya, melainkan arah hati.
Dan barangkali, di situlah pelajaran paling sederhana namun paling mahal dari akhir tahun sekaligus memasuki awal tahun ini yang kadang, liburan terbaik bukan pergi menjauh, melainkan pulang ke dalam diri, ke nilai, kepada Allah Swt.