Berita

Ilustrasi (Dokumen RMOL)

Politik

Pilkada Lewat DPRD: Karpet Merah Mahar Politik dan Dominasi Elite

KAMIS, 01 JANUARI 2026 | 09:41 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD diyakini akan menyuburkan praktik mahar politik. Dalam skema ini, calon kepala daerah berpotensi dipaksa mengeluarkan biaya besar demi memperoleh rekomendasi partai politik.

Hal tersebut disampaikan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 1 Januari 2026.

“Jika partai menerima mahar dalam jumlah besar, maka partai akan menginstruksikan kadernya di DPRD untuk memilih calon tersebut. Akibatnya, pilkada menjadi semakin mahal,” tegas Jamiluddin.


Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya karena anggota DPRD cenderung lebih patuh pada perintah partai dibandingkan aspirasi konstituen. Dampaknya, kepala daerah yang terpilih bukan lagi hasil kehendak rakyat, melainkan hasil kompromi elite politik.

“Pilkada tidak lagi menjadi ajang rakyat memilih pemimpinnya. Yang terjadi justru elite memilih elite,” ujarnya.

Di sisi lain, Jamiluddin menilai anggapan bahwa pilkada langsung memicu polarisasi berkepanjangan merupakan klaim yang berlebihan. Ia menjelaskan, sengketa pilkada umumnya diselesaikan melalui jalur hukum tanpa mendorong pendukung untuk melakukan pembangkangan.

“Polarisasi memang muncul saat pilkada berlangsung. Namun setelahnya, polarisasi itu secara bertahap mencair,” katanya.

Ia menegaskan, hingga kini tidak ada bukti bahwa pilkada langsung menimbulkan polarisasi yang mengancam keutuhan NKRI. Jika terjadi polarisasi berkepanjangan, menurutnya, hal itu lebih disebabkan oleh peran relawan yang terus dipelihara untuk membela kepala daerah terpilih sekaligus menyerang pihak yang kritis.

“Relawan-relawan inilah yang justru mempertahankan polarisasi. Bahkan, ada pula yang menciptakan polarisasi baru,” sesalnya.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Jamiluddin menilai tidak ada dasar yang kuat untuk mengembalikan pilkada ke mekanisme pemilihan oleh DPRD. Seluruh dalil yang dikemukakan dinilainya lebih menguntungkan elite politik ketimbang rakyat.

“Tidak ada argumen yang benar-benar rasional untuk mengalihkan pilkada langsung ke DPRD. Dalil-dalil yang muncul hanyalah justifikasi yang menguntungkan elite politik,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya