Berita

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno (Foto: Kemenag)

Nusantara

Wajah Baru Madrasah: Pilar Strategis Asta Cita Menuju Indonesia Emas

RABU, 31 DESEMBER 2025 | 20:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Memasuki pengujung tahun 2025, wajah pendidikan madrasah di Indonesia mengalami pergeseran paradigma yang fundamental.  

Madrasah kini tengah bersolek besar-besaran, bukan hanya dari sisi tampilan yang semakin modern, tetapi juga melalui sistem pembelajaran yang kian canggih.

Melalui kebijakan revitalisasi dan digitalisasi yang masif, madrasah bertransformasi menjadi pusat inovasi pendidikan modern. Langkah berani ini ditempuh untuk memastikan 10,5 juta siswa madrasah mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui, standar pendidikan global.


Pilar utama perubahan ini digerakkan melalui skema Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dengan sokongan anggaran mencapai Rp402,86 miliar.  Pemerintah lewat Kementerian Agama (Kemenag) berupaya membuat madrasah-madrasah di seluruh Indonesia mulai "di-upgrade".

Dana besar ini bukan sekadar digunakan untuk memoles fisik bangunan yang rusak, melainkan sebagai mesin penggerak revitalisasi sarana prasarana yang terintegrasi dengan teknologi. 

Kemenag berupaya menghadirkan perangkat pembelajaran digital di ruang-ruang kelas, mengubah pola belajar konvensional menjadi ekosistem digital yang dinamis. Upaya ini dilakukan agar madrasah dapat merespons cepat percepatan digitalisasi nasional, menjadikan setiap ruang kelas sebagai pintu gerbang menuju dunia luar.

Dampak dari modernisasi ini terlihat nyata pada capaian prestasi yang diraih sepanjang tahun 2025. Data Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah menyebutkan, total siswa madrasah yang berprestasi nasional mencapai sekitar 7.860 siswa, sementara 351 siswa berhasil mengharumkan nama Indonesia pada ajang internasional di bidang sains, riset, dan inovasi. 

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menyatakan, capaian tersebut mencerminkan arah kebijakan pendidikan Islam yang semakin kompetitif dan adaptif.

“Madrasah hari ini tidak hanya menguatkan karakter keagamaan, tetapi juga membuktikan daya saing akademik di tingkat nasional dan global,” kata Dirjen di Jakarta pada Rabu 31 Desember 2025. 

Melalui ajang seperti Madrasah Young Researchers Supercamp (MYRES), fokus pendidikan madrasah bergeser dari sekadar kompetisi rutin menuju pengembangan budaya riset yang mendalam. Fenomena ini menunjukkan keberhasilan kebijakan yang adaptif dan kompetitif, di mana sains dan teknologi berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritual.

Meski melesat dalam hal teknologi, madrasah tidak meninggalkan jati dirinya. Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan konsep ekoteologi memastikan bahwa kemajuan digital tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan kepedulian lingkungan. 

Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khadijah menegaskan bahwa KBC dirancang untuk membangun keseimbangan antara prestasi akademik dan pembentukan karakter.

“Prestasi siswa harus sejalan dengan penguatan nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kepedulian lingkungan,” ujar Nyayu. 

Penguatan ekoteologi diwujudkan melalui 1.826 madrasah adiwiyata sebagai baseline nasional, dengan proyeksi penambahan 642 madrasah per tahun. Pada 2025, KSKK juga menginisiasi penanaman 50.000 bibit pohon di madrasah negeri dan swasta. 

Melalui ribuan Madrasah Adiwiyata dan penanaman puluhan ribu bibit pohon, siswa diajarkan untuk mencintai bumi sebagaimana mereka mencintai ilmu pengetahuan. Di sisi lain, inklusivitas juga menjadi perhatian utama dengan lonjakan pertumbuhan madrasah inklusif hingga 155 persen, memastikan pendidikan berkualitas dapat diakses oleh siapa saja tanpa terkecuali.

Sebagai puncak dari kebijakan ini, lahirnya piloting Sekolah Garuda Transformasi di MAN Insan Cendekia menandai babak baru reputasi madrasah di mata internasional. 

Dengan kurikulum sains yang telah diperkaya dan akses pendampingan menuju perguruan tinggi terbaik di luar negeri, madrasah kini resmi menjadi instrumen strategis dalam mencetak talenta unggul untuk memenuhi visi Asta Cita Presiden. 

Melalui kombinasi antara kesehatan melalui program makan bergizi gratis, kecerdasan digital, dan keteguhan karakter, madrasah kini telah siap menjadi lokomotif utama pembangunan manusia Indonesia di masa depan.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

DPR Minta Data WNI di Kawasan Konflik Diperbarui, Evakuasi Harus Disiapkan

Selasa, 03 Maret 2026 | 14:17

Umat Diserukan Salat Gerhana Bulan dan Perbanyak Memohon Ampunan

Selasa, 03 Maret 2026 | 14:05

KPK Terus Buru Pihak Lain yang Terkait dalam OTT Bupati Pekalongan

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:56

Putin dan MBS Diskusi Bahas Eskalasi Timur Tengah

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:46

MBG Perkuat Fondasi SDM Sejak Dini

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:46

Siap-siap Libur Panjang Lebaran 2026, Catat Jadwal Sekolah dan Cuti Bersama

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:45

Angkat Kaki dari BOP Keputusan Dilematis bagi Indonesia

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:40

Sunni dan Syiah Tak Bisa Dibentur-benturkan

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:25

Perang Iran-AS Bisa Picu PHK Besar-besaran di Indonesia

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:19

Melania Bicara Perlindungan Anak di DK PBB Saat Perang Iran Makin Panas

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:18

Selengkapnya