Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Yen Bangkit Tekan Dolar AS ke 156,13, Pasar Kini Bidik Risalah Federal Reserve

SENIN, 29 DESEMBER 2025 | 12:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA


Memasuki pekan terakhir tahun 2025, Indeks Dolar (DXY) mengalami koreksi ringan saat pasar menimbang arah kebijakan moneter global dan perkembangan geopolitik terbaru. Greenback terpantau melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama di tengah likuiditas pasar yang menipis menjelang pergantian tahun.

Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, mencatatkan penurunan sebesar 0,1 persen ke level 97,96 pada perdagangan Senin 29 Desember 2025. 

Pelemahan ini dipicu oleh dua faktor utama, yaitu sentimen Risk-On, dimana optimisme Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan damai di Ukraina mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Kemudian, rebound mata uang rival, dimana penguatan Yen Jepang dan Euro memberikan tekanan teknis terhadap indeks DXY.

Pelemahan ini dipicu oleh dua faktor utama, yaitu sentimen Risk-On, dimana optimisme Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan damai di Ukraina mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Kemudian, rebound mata uang rival, dimana penguatan Yen Jepang dan Euro memberikan tekanan teknis terhadap indeks DXY.

Terhadap Yen Jepang, Dolar AS mencatatkan penurunan paling signifikan sebesar 0,3 persen, yang membawa pasangan Dolar AS-Yen Jepang ke level 156,13. Tekanan ini dipicu oleh sikap hawkish Bank of Japan yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut. 

Sementara itu, di pasar Eropa, Dolar juga harus merelakan sebagian posisinya setelah Euro menguat tipis 0,1 persen ke posisi 1,1780 Dolar AS menyusul meredanya kekhawatiran geopolitik di Ukraina.

Di wilayah Pasifik, pergerakan Dolar AS cenderung lebih stagnan. Kurs terhadap Dolar Australia bergerak stabil di kisaran 0,6714 Dolar AS, sementara terhadap Dolar Selandia Baru, posisi Dolar AS nyaris tidak berubah dan bertahan di level 0,5830 Dolar AS. 

Stabilitas ini menunjukkan bahwa pelaku pasar di kawasan komoditas cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data penting dari Amerika Serikat besok.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya