Berita

Ekonom Universitas Hassanudin Makassar, Muhammad Syarkawi Rauf, dalam podcast bersama Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, yang tayang perdana di Youtube pada Minggu malam, 28 Desember 2025. (Foto: Tangkapan layar)

Politik

Emerging Market Diproyeksi Melemah akibat Tekanan Ekonomi AS

SENIN, 29 DESEMBER 2025 | 09:14 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pasar negara berkembang atau Emerging Market diproyeksi melemah pada tahun depan, akibat kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) yang potensi terjun bebas.

Hal itu diungkapkan Ekonom Universitas Hassanudin Makassar, Muhammad Syarkawi Rauf, dalam podcast bersama Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, yang tayang perdana di Youtube pada Minggu malam, 28 Desember 2025.

Syarkawi menjelaskan, emerging market menyumbang pertumbuhan ekonomi global yang terbesar, di samping negara-negara maju seperti AS. 


"Emerging market ini diproyeksi masih bisa tumbuh di atas 4 persen, bahkan 5%. Utamanya India bisa 6-7%, Vietnam 7%, mungkin Indonesia diproyeksi 5%, dan China 5% dan 4,5% tahun depan," ujar dia dikutip Senin, 29 Desember 2025.

Tetapi jika melihat perkembangan ekonomi di negara maju, Syarkawi mendapati trennya malah mengalami penurunan seperti China yang pada 2007 masih bisa tumbuh kurang lebih 14%. 

Namun setelah itu, ekonomi Negeri Tirai Bambu mengalami perlambatan karena hanya bisa tumbuh sekitar 8-9 persen akibat supply mortgage AS.

"Sepuluh tahun rata-rata (ekonomi) China itu masih bisa tumbuh 10 persen. Tapi setelah itu (sampai) ke sini, tumbuhnya hanya diproyeksi di 2025 hanya 5 persen. Tahun depan melambat lagi menjadi 4,5 persen," urai Syarkawi. 

"Ini pemicunya saya kira itu tadi konsumsi turun, kemudian tingkat pengangguran di China juga naik, utamanya pekerjaan berpendidikan tinggi ini juga mengalami pengangguran. Kemudian krisis di sektor properti," sambungnya memaparkan.

Di samping tren ekonomi China, Syarkawi memperkirakan AS akan membuat satu kebijakan yang memberikan tekanan kepada emerging market, terutama negara-negara di kawasan Asia.

"Ada satu jurnal yang menurut saya menarik. Itu disebutkan monetary policy shock di Amerika dalam bentuk peningkatan suku bunga acuan atau policy rate, itu akan sangat berdampak terhadap financial market secara global. Dan ini terpengaruh oleh posisi Amerika sebagai satu perekonomian terbesar, 26% (pengaruhnya) terhadap (ekonomi) global," katanya.

Akibat dari policy rate AS, Syarkawi meyakini penggunaan USD sebagai reserve currency masih sangat dominan, yakni mencapai 55% hingga 60% bank sentral global menggunakan USD sebagai cadangan devisa mereka.

"Kemudian invoice dalam hal perdagangan internasional ini juga masih sangat dominan dalam USD. Investasi, utamanya di sektor keuangan itu kan denominasinya masih dalam bentuk USD. Ini yang membuat spillover efek, atau efek tular, efek domino," demikian Syarkawi menambahkan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya