Berita

Ekonom Universitas Hasanuddin Makassar, Muhammad Syarkawi Rauf. (Foto: Tangkapan layar)

Politik

Bayang-bayang Resesi Global Menghantui Tahun 2026

MINGGU, 28 DESEMBER 2025 | 23:05 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Potensi terjadinya resesi secara global tahun 2026 menguat setelah melihat tren ekonomi dua negara besar, Amerika Serikat (AS) dan China. 

"Kalau mengamati risiko global kayak Indonesia, tentu kita akan melihat kedua perekonomian terbesar di dunia ya (AS dan China)," ujar ekonom Universitas Hasanuddin Makassar, Muhammad Syarkawi Rauf dikutip dalam podcast bersama ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, Minggu, 28 Desember 2025.

Dia memaparkan, kondisi AS dan China menjadi penopang terbanyak untuk perekonomian global.


"Amerika itu berkontribusi kurang lebih 26 persen terhadap total perekonomian global. Kemudian China, kontribusinya kurang lebih 19%. Artinya, dua negara ini berkontribusi kurang lebih 45% terhadap total GDP atau output global," urainya.

Syarkawi mencermati, ada fenomena tak biasa di AS dan China mengenai inflasi. Angka pertumbuhan upah turun dan angka pengangguran naik, tetapi harga-harga berangsur naik tinggi dan konsumsi masyarakat lesu.

"Di ekonomi ada namanya Phillips Corp, negative relation antara inflasi dan unemployment (pengangguran). Tapi ini sebaliknya, inflasinya naik, unemployment-nya juga naik," kata Syarkawi.

"Ini yang di dalam literatur disebut sebagai fenomena stagflasi. Dan ini tidak hanya terjadi di Amerika, juga di China," tuturnya.

Syarkawi menduga, inflasi yang tinggi di AS dan China terjadi karena perang dagang kedua negara sebagaimana diproyeksikan The Fed.

"Kalau kita lihat di report The Fed, itu salah satu yang paling krusial berkontribusi terhadap inflasi di Amerika itu adalah trade war. Jadi perang dagang antara Amerika-China, Amerika dengan sejumlah negara," ucapnya.

Dengan kondisi yang tidak wajar ini, Syarkawi meyakini tahun 2026 bisa mengalami resesi yang cukup tinggi di atas 5 persen.

"Ini yang menjadi alasan kenapa kemudian JP Morgan beberapa waktu lalu memproyeksikan probabilitas terjadinya resesi secara global. Saya kira itu lumayan tinggi, itu kurang lebih 31 persen," tutup Syarkawi.

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya