Berita

Senior Economist Bright Institute Awalil Rizky. (Foto: Tangkapan layar YouTube Awalil Rizky)

Politik

Utang Pemerintah Nyaris Tembus Rp9.500 Triliun, Mayoritas dari SBN

SABTU, 27 DESEMBER 2025 | 20:33 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Posisi utang pemerintah secara keseluruhan tercatat terus melonjak hampir mencapai Rp9.500 triliun.

Senior Economist Bright Institute Awalil Rizky mengatakan utang tersebut mayoritas berbentuk Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp8.294,49 triliun hingga akhir November 2025.

Ia menilai besarnya posisi utang tersebut tidak bisa dilepaskan dari kewajiban pelunasan yang jatuh tempo dalam beberapa tahun ke depan. 


Awalil menjelaskan, pada periode 2020–2021 pemerintah banyak menarik utang untuk kebutuhan penanganan pandemi Covid-19 dengan tenor lima tahun.

Ia menegaskan, sepanjang sejarah, Indonesia belum pernah mengalami penurunan posisi utang berbentuk SBN. Justru, tren kenaikannya semakin tinggi dari tahun ke tahun. 

Bahkan, tanpa pandemi sekalipun, dorongan pembiayaan pembangunan infrastruktur dan program prioritas pemerintah yang sebagian besar dibiayai utang turut mempercepat lonjakan SBN.

“Akibatnya, di 2025, 2026, 2027 ini SBN yang jatuh tempo besar. Jadi ini bukan sekadar soal Covid, meskipun pandemi memang menambah utang,” kata Awalil dalam siaran YouTube dikutip pada Sabtu, 27 Desember 2025.

SBN yang dikeluarkan mayoritas dapat diperdagangkan, dan SBN yang tidak bisa diperdagangkan hanya sekitar Rp169,69 triliun atau kurang dari 10 persen, bahkan mendekati 2 persen dari total. 

Kondisi ini, menurut Awalil, membuat proses restrukturisasi utang menjadi lebih kompleks dibandingkan pinjaman kepada lembaga tertentu.

“Kalau misal kita nih berhutang dalam kepada satu bank atau dua atau tiga bank, kalau kita cukup rasional, cukup punya laporan yang bagus, kita umpama kesulitan membayar, kita kan bisa restrukturisasi. Tapi kalau berbentuknya surat utang yang berpindah tangan itu lebih sulit meskipun bisa,” jelasnya.

Awalil juga menyoroti kepemilikan SBN. Pemegang terbesar SBN Indonesia saat ini adalah Bank Indonesia, dengan porsi hampir 25 persen atau sekitar 24,99 persen. Setelah itu disusul oleh investor asing dari China, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Thailand. 

“Itu juga mengapa yang lebih mudah ya berunding ke Bank Indonesia. Kalau SBN yang dimiliki Bank Indonesia itu lebih lebih mudah dinegosiasi dibandingkan dimiliki pihak lain,” jelasnya.

Kondisi ini membuat stabilitas pembayaran dan pengelolaan SBN menjadi krusial. Ia mengingatkan, kegagalan pemerintah dalam melunasi SBN yang jatuh tempo dapat menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian dan kepercayaan pasar.

Dari sisi jenisnya, porsi SBN syariah juga terus meningkat. Per November 2025, SBN konvensional (SUN) tercatat sekitar Rp6.560 triliun, sementara SBN syariah mencapai sekitar Rp1.568 triliun atau hampir 25 persen dari total.

Selain itu, Awalil mencatat adanya diversifikasi mata uang dalam penerbitan SBN. Selain denominasi rupiah yang disebut sebagai SBN domestik, pemerintah juga menerbitkan SBN dalam valuta asing, seperti Dolar AS, Yen, Euro, hingga Dolar Australia dan Yuan, meski porsinya masih relatif kecil.

“Meskipun masih kecil kita tidak tahu nanti ke depannya apakah ini bertambah ya tergantung investor yang ingin beli dengan mata uang itu,” tandasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya