Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Chevron jadi Satu-Satunya Perusahaan Minyak Asing yang Tersisa di Venezuela

KAMIS, 25 DESEMBER 2025 | 07:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perusahaan minyak Amerika Serikat (AS), Chevron, kini menjadi satu-satunya perusahaan minyak asing yang masih beroperasi di Venezuela, di tengah memburuknya hubungan antara Washington dan pemerintah Caracas. 

Posisi ini semakin disorot setelah Washington memperketat sanksi dengan memblokade kapal tanker minyak Venezuela.

Dikutip dari AFP, Rabu 24 Desember 2025, keberadaan Chevron di Venezuela bukan hal baru. Perusahaan pendahulunya telah memulai kegiatan pengeboran sejak awal 1920-an, bermula di sekitar Danau Maracaibo sebelum meluas ke wilayah lain. Setelah merger pada 1984 yang melahirkan Chevron seperti sekarang, operasi perusahaan berfokus pada kawasan kaya cadangan di Sabuk Orinoco.


Saat ini Chevron mengelola empat ladang minyak dan satu ladang gas lepas pantai melalui kemitraan dengan perusahaan negara PDVSA. Kegiatan ini mencakup area hampir 30.000 hektare dan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja lokal. 

Venezuela sendiri memiliki cadangan minyak sekitar 303 miliar barel, terbesar di dunia menurut data Badan Energi Internasional.
Sejak 2019, ekspor minyak Venezuela dibatasi oleh embargo AS. Meski sempat dilonggarkan pada 2023, seluruh izin operasi kembali dicabut pada paruh pertama 2025. 

Namun, Chevron mendapat pengecualian khusus. Perusahaan menilai aktivitasnya tetap berjalan normal dan menyebut kehadirannya sebagai faktor penopang stabilitas ekonomi lokal dan keamanan energi Amerika Serikat.

Produksi minyak Venezuela saat ini berada di kisaran 800.000 hingga 900.000 barel per hari, jauh di bawah masa kejayaannya. Dari jumlah tersebut, Chevron menyumbang sekitar 150.000 hingga 200.000 barel per hari, yang seluruhnya dikirim ke Amerika Serikat.

Minyak Venezuela dikenal sangat berat dan berkadar sulfur tinggi, sehingga sulit diolah dan kurang ideal untuk bahan bakar kendaraan. Karena keterbatasan pasar akibat sanksi, pemerintah Caracas selama ini menjual minyaknya dengan harga diskon, terutama ke Asia. Blokade terbaru AS diperkirakan akan memangkas jalur ekspor ilegal ini secara signifikan.

Meski demikian, Amerika Serikat sejatinya tidak bergantung pada minyak Venezuela. Kilang di Teluk Meksiko memang mampu mengolah minyak berat tersebut, tetapi alasan utama mempertahankan Chevron dinilai lebih bersifat strategis. Washington ingin mencegah ruang kosong di sektor energi Venezuela dimanfaatkan oleh negara pesaing seperti China dan Rusia.

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

DPR: Penjualan Air Keras Tak Bisa Dilarang Total

Senin, 16 Maret 2026 | 12:16

DPP Arun Dukung Penutupan SPPG Nakal Sunat Anggaran

Senin, 16 Maret 2026 | 12:12

Jumlah Pemudik di Terminal Kalideres Menurun Dibanding Tahun Lalu

Senin, 16 Maret 2026 | 12:10

Perang di Ruang Server

Senin, 16 Maret 2026 | 12:04

Komisi III DPR Keluarkan Rekomendasi Perlindungan untuk Aktivis Andrie Yunus

Senin, 16 Maret 2026 | 12:03

Pos Kesehatan Disiapkan di Titik Keberangkatan Pemudik

Senin, 16 Maret 2026 | 12:02

DPR Siap Panggil Polisi Jika Penyelidikan Kasus Andrie Yunus Mandek

Senin, 16 Maret 2026 | 11:54

Emas Antam Turun Jelang Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 11:40

Guterres Akui DK PBB Tak Mampu Hentikan Konflik Global

Senin, 16 Maret 2026 | 11:25

KPK Sita Rp1 Miliar Saat Geledah Rumah Kadis PUPR dalam Kasus Suap Bupati Rejang Lebong

Senin, 16 Maret 2026 | 11:16

Selengkapnya