Berita

CEO Media Buffet, Bima Marzuki. (Foto: RMOL/Adityo)

Politik

Kebrutalan Komunikasi Pemerintah soal Bencana Kikis Kepercayaan Publik

KAMIS, 25 DESEMBER 2025 | 02:12 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Komunikasi publik yang buruk dari pemerintah di tengah bencana menambah permasalahan dalam ruang publik di era digital.
 
Hal itu disampaikan pakar komunikasi sekaligus founder dan CEO Media Buffet, Bima Marzuki saat ditemui RMOL di kantornya, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 24 Desember 2025.
 
Menurut Bima, gaya komunikasi pemerintah yang brutal justru menimbulkan gejolak di publik dan media sosial.
 

 
“Nah, saya rasa karena komunikasi pemerintah ini sebelum bencana sudah jelek, ketika bencana tambah buruk lagi. Itu menciptakan gejolak di banyak orang,” kata Bima.
 
“Menurut saya, (gaya komunikasi pemerintah) sudah dalam level brutal. Brutal itu bukan lagi nggak bagus, (tapi juga) tanpa arah, tanpa panduan, asal keluar dan menimbulkan persepsi yang jelek, mengikis trust dan menimbulkan kemarahan yang luar biasa,” tambahnya.
 
Lanjut dia, jika gaya komunikasi seperti itu terus dilakukan maka bakal menimbulkan efek hilangnya trust publik ke pemerintah.
 
“Trust-nya publik, trust pengusaha, trust-nya pemerintah luar negeri itu akan semakin terkikis ke pemerintah. Jadi makanya saya coba, mungkin kalau pemerintah nanti mau mendengar ya, saya coba bikin framework yang nanti sama mereka bisa dihasilkan kalau mau dipake, tapi paling nggak ada panduan,” jelasnya.
 
“Ini framework saya susun mungkin dimulai dengan empati sebenarnya. Jadi ada 6 komponen. Dan frameworknya, yaitu empati, aktual, urgensi, presensi, solusi, dan terkoordinasi,” imbuh Bima.
 
Ia pun menghendaki agar framework ini digunakan pemerintah dalam komunikasi publik, khususnya di massa bencana dan pascabencana.
 
Teranyar, pernyataan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya mengenai pemberitaan media tentang bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera menuai banyak sorotan publik.
 
Jenderal Maruli menegaskan jika ada kekurangan, diinformasikan langsung saja ke pemerintah maupun aparat, bukan diekspos kepada publik.
 
"Jadi saya juga pada kesempatan ini menghimbau para rekan-rekan media supaya mengekspos bagaimana kami bekerja. Ya, semua bekerja begini. Kalau ada hal kekurangan pasti banyak kekurangan ya. Tolong informasikan kami kekurangan itu. Jangan diekspos lewat media," kata Maruli, dalam konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat, 19 Desember 2025.
 
Sementara itu, Seskab Teddy Indra Wijaya dalam konferensi pers yang sama juga meminta agar media memberitakan hal positif saja.
 
"Sampaikan pernyataan dan pertanyaan yang bijak. Jangan menggiring-giring seolah pemerintah tidak kerja, petugas-petugas di lapangan tidak kerja. Di sini semua butuh kerja sama, kekompakan, energi positif," tandas Teddy.
 
Sebelumnya komunikasi publik terkait bencana dari Kepala BNPB Suharyanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq juga dianggap banyak menimbulkan masalah.
 

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya