Berita

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). (Dok Istimewa)

Nusantara

Pelaksanaan Perda KTR Harus Berkeadilan dan Berimbang

RABU, 24 DESEMBER 2025 | 18:20 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Rancangan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (Raperda KTR) DKI Jakarta resmi diketok menjadi Peraturan Daerah setelah disahkan dalam Sidang Paripurna DPRD DKI Jakarta, Selasa, 23 Desember 2025. 

Pengesahan ini menjadi penanda berakhirnya proses panjang pembahasan regulasi yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat luas, khususnya pelaku usaha kecil di pasar tradisional.

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menaruh harapan besar agar Perda KTR yang telah disahkan benar-benar mencerminkan prinsip keadilan, keseimbangan, dan keberlanjutan. 


Terlebih, pembahasan sebelumnya telah melalui tahapan fasilitasi Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Otda Kemendagri), yang bertujuan memastikan regulasi tersebut sejalan dengan asas kesejahteraan masyarakat, kepastian hukum, serta tidak menimbulkan dampak sosial-ekonomi yang merugikan.

Sekretaris Jenderal APPSI, Mujiburrohman, secara khusus mengapresiasi hasil fasilitasi Kemendagri yang dapat diakses secara terbuka oleh publik. Ia menilai, masukan Kemendagri telah mengakomodasi aspirasi pedagang pasar yang selama ini khawatir terdampak aturan yang dinilai berlebihan.

Hasil fasilitasi Ditjen Otda Kemendagri antara lain mengarahkan penghapusan pasal larangan pemajangan rokok di titik penjualan. Selain itu, Kemendagri juga meminta DPRD DKI Jakarta untuk menetapkan pengecualian penjualan dan pembelian produk rokok di pasar serta tempat umum lain yang menyelenggarakan kegiatan ekonomi.

“Kami mengapresiasi Kemendagri atas hasil fasilitasi yang sejalan dengan harapan kami. APPSI berharap aspirasi kami, para pedagang, benar-benar diakomodir. Kami berharap ketika Raperda ini lahir menjadi Perda KTR, hasilnya sesuai dengan hasil fasilitasi Kemendagri tersebut,” ujar Mujiburrohman, Rabu, 24 Desember 2025.

APPSI sebelumnya menyuarakan kekhawatiran terhadap sejumlah ketentuan yang dinilai eksesif dan berpotensi mematikan usaha pedagang kecil. Di antaranya larangan penjualan rokok dalam radius 200 meter dari satuan pendidikan dan tempat bermain anak, larangan pemajangan produk rokok, serta perluasan kawasan tanpa rokok hingga ke pasar tradisional.

Menurut APPSI, penerapan aturan tersebut tanpa pengecualian dapat berdampak serius terhadap keberlangsungan usaha ratusan ribu pedagang pasar. Berdasarkan data APPSI, Pemprov DKI Jakarta saat ini memiliki 153 pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya, dengan jumlah pedagang mencapai 110.480 orang.

Terpisah, Pengamat Hukum Tata Negara Ali Rido menegaskan bahwa kepatuhan DPRD dan Pemprov DKI Jakarta terhadap hasil fasilitasi Ditjen Otda Kemendagri merupakan bentuk keseriusan dalam menjalankan pemerintahan sesuai asas-asas umum pemerintahan yang baik, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014.

“Apabila hasil fasilitasi Ditjen Otda Kemendagri atas Ranperda KTR DKI Jakarta tidak ditindaklanjuti, ini jelas bertentangan dengan Pasal 88 dan Pasal 90 Permendagri Nomor 80 Tahun 2015 juncto Permendagri Nomor 120 Tahun 2018,” tegas Ketua Pusat Studi Hukum Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Trisakti tersebut.

Ia menambahkan, ketidakpatuhan terhadap hasil fasilitasi juga dapat dimaknai sebagai pengabaian terhadap konsep pembinaan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 374 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Rido menjelaskan, fasilitasi Kemendagri merupakan bentuk pembinaan dan pengawasan preventif dari pemerintah pusat terhadap pembentukan peraturan daerah. Mekanisme ini dilakukan sebelum suatu ranperda ditetapkan, untuk memastikan regulasi tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, kesusilaan, serta tetap selaras dengan kebijakan nasional.

Untuk diketahui, Permendagri Nomor 80 Tahun 2015 juncto Permendagri Nomor 120 Tahun 2018 secara tegas mengamanatkan pemerintah daerah untuk mematuhi hasil fasilitasi Kemendagri. Apabila hasil tersebut diabaikan, maka suatu peraturan daerah tidak dapat ditetapkan dan diundangkan.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya