Berita

Suasana kerusakan akibat banjir bandang di pemukiman rumah warga di wilayah Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatera Barat pada Kamis, 27 November 2025. (Foto: Humas BNPB).

Publika

Giliran Muhammadiyah Desak Status Bencana Nasional

SENIN, 22 DESEMBER 2025 | 14:49 WIB

SEA Games Thailand sudah selesai, kita kembali fokus pada penanganan bencana tanda tangan di tanah Sumatera. 

Sejauh ini, pemerintah bergeming. Tak mau menetapkan status bencana nasional. Ormas Muhammadiyah selama ini cukup sabar, akhirnya bersuara lantang. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Negara ini memang punya bakat langka. Bisa menatap 1.090 jenazah sambil berkata, “situasi masih terkendali.” 


Terkendali seperti kapal Titanic yang kaptennya masih sibuk menyisir rambut karena orkestranya belum berhenti main. 

Di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, air bukan lagi sekadar banjir, tapi sudah naik pangkat jadi algojo. Longsor bukan cuma tanah jatuh, tapi kalender kematian harian. 

Dari 13 Desember yang “baru” 1.006 korban, naik ke 1.059, lalu 1.071, lalu 1.090 per 20 Desember 2025. Tapi pemerintah tetap kalem, seolah angka itu cuma skor pertandingan persahabatan, bukan nyawa manusia.

Di tengah absurditas itu, Muhammadiyah masuk ke panggung. Melalui LBH Advokasi Publik PP Muhammadiyah, mereka bilang, “Tetapkan bencana nasional!” 

Bukan buat gaya-gayaan, tapi supaya negara bisa benar-benar mengerahkan semua sumber daya. Bukan setengah napas sambil hitung citra. 

Ikhwan Fahrojih menyampaikannya dengan bahasa sopan, santun, beradab, bahasa yang tampaknya sudah jadi bahasa asing di ruang kekuasaan. 

Katanya, status darurat nasional itu instrumen penting agar penanganan maksimal. Terjemahan kasar untuk pemerintah, ini bukan urusan kecil, berhenti pura-pura kuat.

Desakan itu bukan hasil meditasi di ruang ber-AC. Itu lahir dari suara warga yang kehilangan rumah, relawan yang kelelahan, dan fakta telanjang, kehadiran negara di lapangan terasa seperti WiFi gratis, ada namanya, tapi tak bisa dipakai. 

Lebih kejam lagi, ketika logistik tersendat, listrik padam, wilayah terisolasi, pemerintah justru menolak bantuan asing. Alasannya mulia, kedaulatan.

Dampaknya banal, rakyat menderita. Ironi macam apa ini, ketika gengsi nasional lebih kenyang dari perut pengungsi? 

Ikhwan menohok halus tapi mematikan, kalau tak mau bantuan luar, buktikan negara mampu menangani sendiri secara memadai. Jangan rakyat dijadikan korban uji coba “kami bisa kok”.

Mari lihat “terkendali” versi pemerintah. Lebih dari 526.868 orang mengungsi di 27 kabupaten/kota. Sebanyak 147 ribu rumah rusak berat, 1.600 fasilitas publik, sekolah, jembatan, rumah ibadah, hancur. 

Di Aceh saja sekitar 472 jiwa meninggal, Sumatera Barat 350, Sumatera Utara 268. Masih ada 186 orang hilang, yang oleh negara tampaknya dianggap sedang cuti panjang. 

BNPB bahkan mengingatkan potensi banjir susulan karena hujan masih rajin turun. Tapi tenang, kata elite, ini masih bisa di-handle. Handle pakai apa? Pidato? PowerPoint?

Sementara itu, di Jakarta, seorang advokat bernama Arjana Bagaskara Solichin sudah lebih dulu muak. Ia menggugat Presiden, Menteri Kehutanan, Menteri Keuangan, dan Kepala BNPB ke PTUN Jakarta. 

Alasannya sederhana tapi memalukan, banjir di Sumatera sudah memenuhi lima indikator bencana nasional dalam UU No. 24 Tahun 2007. Sidangnya mulai pertengahan Desember 2025, bahkan digelar tertutup, mungkin supaya realitasnya tidak ikut bocor ke publik. 

Sekarang pemerintah menghadapi tekanan ganda, satu dari individu, satu dari organisasi sebesar Muhammadiyah. Ini bukan serangan, ini alarm kebakaran yang bunyinya makin keras.

Muhammadiyah menegaskan mereka bukan cari panggung. Mereka siap mendampingi korban menggugat karena yang punya legal standing adalah masyarakat terdampak. 

Mereka tahu perannya, relawan menolong, warga bertahan, pengacara publik menggugat. Negara? Negara sibuk menimbang citra internasional, takut dunia melihat Indonesia sebagai negeri krisis. 

Padahal dunia sudah melihat lebih dulu angka korban di atas seribu jiwa. Menutupinya justru membuat tampilan kita seperti negara yang denial, bukan berdaulat.

Akademisi ikut angkat suara. Dari UIN Ar-Raniry, Tgk. Ajidar Matsyah bilang penderitaan rakyat Aceh mirip Gaza. 

Tokoh Gayo Aceh, Alwien Desry, menyebut banyak wilayah masih terisolasi. Pakar UIKA Bogor, Nandang Sutisna, menegaskan kapasitas daerah sudah jebol. 

Ini bukan opini emosional, ini diagnosis kolektif. Tapi pemerintah tetap ngotot, status nasional nanti mengurangi peran daerah. Logika macam apa ini? Ketika rumah terbakar, kita tak peduli siapa pegang selang, yang penting api padam.

Di sinilah Muhammadiyah berdiri, menampar kesadaran kita semua. Mereka mengkritik bukan untuk memperkeruh, tapi karena air sudah keruh sejak awal. 

Mereka membela rakyat ketika negara sibuk membela narasi. Mereka bersuara ketika pemerintah memilih diam berlapis alasan. 

Kalau organisasi masyarakat sipil saja masih punya sense of crisis, sementara negara tidak, maka yang sebenarnya darurat bukan cuma bencananya, tapi nurani kekuasaan.

Jangan salahkan publik kalau kecewa. Jangan heran kalau gugatan bermunculan. Jangan kaget kalau sejarah mencatat, di saat air menenggelamkan Sumatera, pemerintah memilih berdiri di tepian sambil berkata, “tenang, ini masih terkendali.” 

Untung masih ada Muhammadiyah, yang berani bilang, tidak, ini bencana nasional, dan negara seharusnya malu kalau masih menyangkalnya.

“Ormas yang lain pada kemana, Bang?”

“Udah, jangan diganggu, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.” Ups.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya