Berita

Ilustrasi

Publika

BBM Kita Berubah, Mesin Pun Bicara

SELASA, 09 DESEMBER 2025 | 15:27 WIB

PERDEBATAN soal BBM kembali memanas. Keluhan “tarikan berubah”, “mesin beda respons”, hingga “konsumsi makin boros” bermunculan di berbagai daerah. Publik mempertanyakan: apakah ini soal RON 92, 95, 98 atau soal etanol?

Jawabannya: semuanya saling terkait.

Secara teknis, angka oktan (RON) hanya menunjukkan ketahanan bensin terhadap knocking, bukan besarnya tenaga. 


RON 92 cocok untuk mesin harian, RON 95-98 untuk mesin kompresi tinggi, turbo, atau mobil Eropa. Namun perubahan performa yang kini dirasakan masyarakat bukan semata akibat perbedaan oktan.

Kuncinya ada pada etanol.

Pertamina kini memakai etanol sekitar 3-5%. Akademisi ITB menilai kadar ini aman, bahkan meningkatkan oktan karena etanol memiliki nilai RON sangat tinggi. Bagi kendaraan modern injeksi, campuran ini umumnya tidak menimbulkan masalah berarti.

Namun di sisi lain, teknisi lapangan dan praktisi otomotif mengingatkan risiko bawaan etanol: energi per liter lebih rendah, bersifat higroskopis (mudah menyerap air), dan rentan menimbulkan korosi atau ketidakstabilan pembakaran jika penyimpanan/distribusi tidak sempurna. 

Di negara tropis seperti Indonesia, risiko penyerapan air lebih besar dan itu langsung terasa di mesin.

Di sinilah masalahnya.

BBM bercampur etanol bisa baik untuk lingkungan, tetapi kualitas distribusi dan kompatibilitas kendaraan di jalan kita sangat beragam. Jutaan motor dan mobil lama tidak dirancang untuk etanol. 

Akibatnya, sebagian pengguna merasakan tarikan berbeda meski kadar etanol secara teori masih aman.

RON 95 dan 98 dapat memberi pembakaran lebih stabil, tapi tidak menghilangkan kehilangan energi dari etanol. Mereka hanya membantu mesin yang memang dirancang bekerja dengan oktan tinggi.

Pada akhirnya, isu BBM hari ini bukan sekadar kimia tetapi kepercayaan publik. Transparansi kandungan BBM, edukasi kompatibilitas mesin, dan standardisasi distribusi harus diperkuat. Tanpa itu, setiap tetes bahan bakar akan terus menimbulkan pertanyaan.

Karena yang tidak pernah berdusta adalah mesin. Jika bahan bakarnya berubah, responsnya pasti terasa—di aspal, bukan di podium konferensi.

Kenny Wiston
Praktisi Hukum

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya