Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga CPO Melemah Dua Sesi Beruntun

SELASA, 09 DESEMBER 2025 | 13:55 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka kembali melemah untuk dua sesi berturut-turut. Penurunan ini dipicu sentimen negatif dari bursa Dalian serta sikap hati-hati para pelaku pasar menjelang rilis data bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 33 ringgit, atau 0,81 persen, menjadi 4.060 ringgit (986,39 Dolar AS) per ton metrik, pada penutupan sesi tengah hari, Selasa 9 Desember 2025, menurut laporan Reuters. 

“CPO berjangka berada di bawah tekanan jual, mengikuti pelemahan di Dalian dan menanti data MPOB besok yang diperkirakan menunjukkan kenaikan stok,” ujar seorang trader berbasis Kuala Lumpur.


Survei Reuters memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia pada November melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari enam setengah tahun, dipicu anjloknya ekspor di tengah peningkatan produksi bulanan yang mencapai rekor. Besarnya stok ini berpotensi menekan harga acuan di Malaysia, produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia.

Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai (soyoil) yang paling aktif turun 0,87 persen, sedangkan kontrak minyak sawit merosot 1,53 persen. 

Harga soyoil di Chicago Board of Trade juga melemah 0,25 persen. Pergerakan harga CPO memang sering mengikuti minyak nabati pesaing karena bersaing di pasar internasional.

Nilai tukar ringgit Malaysia, mata uang utama dalam perdagangan CPO, turun 0,15 persen terhadap Dolar AS, sehingga membuat harga komoditas ini relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara itu, pemerintah Indonesia berencana mewajibkan eksportir sumber daya alam untuk menahan seluruh pendapatan devisa di bank-bank BUMN selama minimal satu tahun dan membatasi penggunaannya mulai 1 Januari, menurut pejabat Kementerian Keuangan baru-baru ini.

Dari sisi teknikal, analis Reuters, Wang Tao, memproyeksikan harga CPO berpotensi melanjutkan pelemahan menuju 4.056 ringgit per ton metrik, dipengaruhi oleh pembentukan wave c.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya