Berita

Mantan Presiden Soeharto. (Foto: Istimewa)

Publika

Piye Kabare Enak Zamanku To?

Dari Soeharto hingga Jokowi, Prabowo di Simpang Jalan
SELASA, 09 DESEMBER 2025 | 13:49 WIB

"Piye kabare, enak zamanku to?" Slogan ini biasanya diiringi foto Soeharto. Tentu setelah Soeharto lengser, diganti dengan zaman Reformasi. Zaman Reformasi dianggap tak melahirkan stabilitas dan kesejahteraan seperti zaman Soeharto. Intinya, dianggap lebih buruk.

Maka lahirlah slogan di atas: Piye kabare, enak zamanku to?", yang menandakan orang dianggap rindu kembali ke zaman Soeharto. Tentu saja slogan itu diusung pihak yang ingin mengembalikan kekuatan politik Soeharto. Ingin bangkit, tapi boleh dikatakan tak bisa bangkit lagi.

Entah berapa parpol yang pernah didirikan mengusung Soeharto sebagai simbol parpol, tapi tak pernah dapat dukungan signifikan dari Pemilu ke Pemilu pasca Orde Baru? Bahkan langsung dipimpin Tommy Soeharto dan Tutut Soeharto, tak ada yang berhasil lolos ke Senayan.


Ada kecenderungan, mengutip mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, slogan "piye kabare enak zamanku to?" itu akan dipakai lagi saat ini dan ke depan. Tapi, yang mengusung bukan lagi simbol Soeharto, tapi simbolnya Jokowi. Tentu polanya disesuaikan dengan zaman kini.

Kalau simbol Soeharto, yang ingin ditentang dari "piye kabare enak zamanku to?" ialah zaman itu sendiri, bukan orang per orang. Tapi kalau simbol Jokowi, maka siapa lagi yang ditentang kalau bukan Prabowo? Zaman jelas tidak. Karena, zaman dulu dan kini itu relatif sama saja.

Karena yang menangkap kecenderungan ini adalah Gatot Nurmantyo, maka bisa jadi akan dicap oleh pendukung Jokowi sebagai upaya buat memisahkan atau malah adu domba antara Jokowi dan Prabowo. Sebab, Gatot dinilai sakit hati dengan Jokowi.

Apalagi banyak momen yang bisa ditunjukkan bahwa antara Jokowi dan Prabowo itu dianggap dwi tunggal. Terakhir, pernyataan Prabowo sendiri, bawah dia dan Jokowi itu hopeng, sahabat lama dan setia. Meskipun ketidaksejalanan itu terlihat dalam banyak kasus juga.

Sebut saja kasus Bandara IMIP di Morowali. Atau yang lebih awal lagi kasus Pagar Laut. Terakhir soal bencana di Sumatera saat ini. Konsesi tambang yang gila-gilaan menyatu dengan eksploitasi hutan yang mengerikan. Terjadi 10 tahun lalu saja, atau sejak zaman Orde Baru?

Sesuai dengan bukunya Prabowo, situasi ini memang paradoks. Banyak orang ingin memisahkan Prabowo dan Jokowi, tapi Prabowo tak mau. Prabowo berpisah sendiri dalam kebijakan, tanpa menyalahkan Jokowi. Justru Prabowo kerap mengulangi melanjutkan Jokowi. 

Pangkal soalnya, Prabowo kurang ramah terhadap para cukong--sebutlah begitu--sementara Jokowi di masanya sangat ramah pada para cukong. Masih ingat deretan pengusaha besar ke rumah Jokowi pasca menjabat, itu bisa diartikan ucapan terima kasih dan rencana depan? 

Kasus pagar laut yang dibongkar, Pertamina, termasuk tambang sendiri, itu hakikatnya ancaman buat Prabowo juga. Mereka pasif saja itu sudah menyulitkan Prabowo, apalagi aktif. Peristiwa Agustus lalu dan bencana saat ini, alangkah merepotkan Prabowo. Ia seperti sendirian.

Tak ada peristiwa-peristiwa besar saja Prabowo habis diserang, apalagi kalau ada peristiwa besar seperti saat ini. Serangan akan bertambah berkali-kali lipat. Belum lagi yang datang dari sekitar Prabowo sendiri. Bunglon politik. Prabowo benar-benar berada di simpang jalan.

Ingat tulisan Dahlan Iskan di masa lalu bahwa Jokowi itu diuntungkan tidak saja oleh faktor manusia, tapi juga faktor alam. Sebaliknya, Prabowo termasuk SBY, dinilai kurang diuntungkan oleh faktor manusia, termasuk juga faktor alam. Tapi, itulah takdir yang tak bisa dielakkan.

Kalau "piye kabare enak zamanku to?" yang memakai simbol Soeharto terbukti gagal mengembalikan politik Soeharto, apakah hal yang sama juga terjadi kalau yang dipakai adalah simbol Jokowi? Entahlah. 

Kompleksitas politik saat ini berbeda jauh. Saya sampai berpendapat, kalau Prabowo gagal, maka tak ada lagi pemimpin yang bisa menjadi Indonesia negara mandiri, maju, dan kuat.


Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

UPDATE

Wali Kota Agustina Instruksikan Perbaikan Jalan Rusak Akibat Tonase Berlebih

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:08

Dua Pelaku Curanmor Modus Mengaku Paranormal Ditangkap

Kamis, 28 Mei 2026 | 19:39

Daftar Tanggal Merah Juni 2026 Lengkap, Catat Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama

Kamis, 28 Mei 2026 | 19:14

Cek NIK KTP Penerima Bansos PKH BPNT Mei 2026

Kamis, 28 Mei 2026 | 19:14

Anies-Mahfud MD, Pasangan Terbaik Pilpres 2029

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:53

Fenomena Langka Blue Moon Muncul 31 Mei 2026, Catat Jamnya di Indonesia

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:27

MBG Pasti Meroket jika Tanpa Copet

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:25

Warga Kayumanis Bogor Semringah Terima Sapi Bantuan Presiden

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:19

11 Orang Terjaring Operasi Cipkon di Jakpus

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:05

5 Cara Menyimpan Daging Kurban di Chiller dan Freezer agar Awet Berbulan-bulan

Kamis, 28 Mei 2026 | 17:47

Selengkapnya