Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Perbankan Indonesia Tumbuh Moderat, Modal Kuat Jadi Daya Tarik Investor Asing

SENIN, 08 DESEMBER 2025 | 14:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkapkan bahwa industri perbankan Indonesia sepanjang 2025 tetap mencatat pertumbuhan meski bersifat moderat. 

Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa dari sisi aset, perbankan tumbuh 9,43 persen secara tahunan (YoY) per Juni 2025.

“Industri perbankan selama 2025 ini masih mengalami pertumbuhan, tapi moderat,” ujar Hery dalam 40 Bisnis Indonesia Group Conference, Jakarta, Senin 8 Desember 2025. 


Dari sisi kredit atau pembiayaan, pertumbuhannya tercatat 7,7 persen YoY, sementara dana masyarakat meningkat 8,4 persen YoY.

Hery menambahkan, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan berada di 84,2 persen, menunjukkan bank memiliki likuiditas yang cukup. 

“Masih banyak ruang untuk melakukan pembiayaan atau menyalurkan kredit,” jelasnya.

Dari sisi Net Interest Margin (NIM), perbankan berada di level 4,58 persen, yang merupakan indikator positif. Kekuatan permodalan bank juga tercatat tinggi, yakni 26,2 persen, tertinggi di kawasan ASEAN. 

“Bank-bank di Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak setinggi ini,” tambah Hery.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) itu juga menekankan kondisi risiko kredit yang lebih terkendali. Rasio Loan at Risk (LAR) relatif landai dibandingkan masa pandemi, dan NPL gross tetap terjaga di 2,2 persen.

Secara umum, Hery menilai perbankan Indonesia berada dalam kondisi sehat, dengan NIM yang lebih baik dibandingkan negara ASEAN lainnya. Hal ini menjadi daya tarik bagi investor asing. 

“Malaysia, Singapura, bahkan India tertarik untuk mengembangkan bisnis bank di Indonesia karena NIM kita masih sangat baik,” pungkasnya.

Meski pertumbuhan moderat, perbankan Indonesia menunjukkan likuiditas kuat, permodalan tebal, dan kualitas kredit terjaga, menjadikannya sektor yang menarik bagi investasi dan siap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah jadi 53 Orang, 135 Warga Luka-Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:27

Rusak Berat Diguncang Gempa, Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores Tutup Sementara

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43

SBY Minta Maaf

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:15

Tembus Jalur Laut, Bantuan Gempa M 7,7 Disalurkan ke Pulau Palue Sikka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:47

Polri Terbangkan 10 Anjing K9 untuk Cari Korban Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:12

3,4 Ton Logistik untuk NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:50

Reza Aulia Diberhentikan, Kursi Direktur Niaga Garuda Kosong

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:40

Kemendikdasmen Jangan Lamban Merespons Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:04

Retorika Janji Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:35

Jalur Alternatif Darat Penghubung Ende-Nagekeo Masih Terputus

Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:33

Selengkapnya