Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Cadangan Emas Rusia Tembus Rp5.173 Triliun

SENIN, 08 DESEMBER 2025 | 11:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Cadangan emas Rusia kini berada di level tertinggi sepanjang sejarah, dengan nilai mencapai sekitar 310 miliar Dolar AS atau kira-kira Rp5.173 triliun, menurut perkiraan Bank Sentral Rusia per 1 Desember. 

Dikutip dari RT, Senin 8 Desember 2025, angka ini naik sekitar 92 miliar Dolar AS dalam setahun terakhir. Lonjakan ini terjadi setelah harga emas dunia sempat menembus 4.000 Dolar AS per ons pada Oktober lalu, naik tajam dibanding 2023 ketika harganya masih di bawah 2.000 Dolar AS.

Emas selama ini dianggap sebagai aset aman ketika mata uang dan inflasi bergejolak, sehingga banyak negara dan investor mengalihkan dana ke logam mulia.


Laporan Dewan Emas Dunia (WGC) bulan lalu juga menempatkan Rusia sebagai negara dengan investasi emas terbesar kelima di dunia, berada di bawah Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Prancis.

Di tengah tekanan sanksi Barat sejak invasi ke Ukraina pada 2022, Presiden Vladimir Putin mengakui bahwa Rusia “jelas merasakan tekanan eksternal”, namun menegaskan bahwa ekonomi negaranya tetap mampu bertahan. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran 0,5 persen hingga 1 persen.

Kekhawatiran soal pembekuan aset asing juga mendorong sejumlah negara mengambil langkah serupa. Bank Sentral India, misalnya, memulangkan sekitar 64 ton cadangan emasnya dari brankas luar negeri antara April dan September. Keputusan ini muncul setelah aset negara dan perusahaan Rusia senilai lebih dari 300 miliar Dolar AS dibekukan oleh negara-negara Barat.

Sejumlah tokoh keuangan melihat tren emas ini bisa terus berlanjut. CEO JPMorgan, Jamie Dimon, bahkan memperkirakan harga emas bisa dengan mudah mencapai 5.000-10.000 Dolar AS per ons jika ketegangan global, inflasi, defisit AS, serta perubahan teknologi seperti AI terus meningkatkan ketidakpastian. 

Para analis pasar lain juga menilai emas tetap menjadi alat diversifikasi yang kuat bagi investor.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

RH Singgung Perang Bubat di Balik Sowan Eggi–Damai ke Jokowi

Jumat, 09 Januari 2026 | 20:51

UPDATE

Trump Ancam Kenakan Tarif 25 Persen ke Delapan Negara Eropa

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:48

Arsitektur Hukum Pilkada Sudah Semakin Terlembaga

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:40

Serpihan Badan Pesawat ATR 42-500 Berhasil Ditemukan

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:08

Rekonstruksi Kontrol Yudisial atas Diskresi Penegak Hukum

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00

KAI Commuter Rekayasa Pola Operasi Imbas Genangan di Kampung Bandan

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:51

Seluruh Sumber Daya Harus Dikerahkan Cari Pesawat ATR yang Hilang Kontak

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:45

Tujuh Kali Menang Pilpres, Museveni Lanjutkan Dominasi Kekuasaan di Uganda

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:20

Belasan RT dan Ruas Jalan di Jakarta Terendam Banjir

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:13

Ongkos Pilkada Langsung Tak Sebesar MBG

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:50

Delik Hukum Pandji Tak Perlu Dicari-cari

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:45

Selengkapnya