Berita

Tiga mantan petinggi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi, Muhammad Yusuf Hadi dan Harry Muhammad Adhi Caksono keluar dari Rutan KPK setelah mendapat rehabilitasi dari presiden. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Hukum

Rehabilitasi Kilat ASDP, Siapa Tanggung Jawab Kerugian Negara?

MINGGU, 30 NOVEMBER 2025 | 22:48 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Indonesia Audit Watch (IAW) menyoroti rehabilitasi terpidana kasus PT ASDP Indonesia Ferry yang dinilai berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi pengelolaan keuangan negara. Meski rehabilitasi merupakan kewenangan Presiden, kerugian negara seharusnya tetap menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan.

"Selama 15 tahun memantau kasus-kasus BUMN, saya belum pernah melihat sesuatu yang bergerak secepat rehabilitasi ASDP. Lima hari setelah majelis hakim menjatuhkan vonis Tipikor, status terpidana hilang melalui sebuah Keppres. Tentu kewenangan Presiden tetapi kerugian negara Rp 1,253 triliun menjadi tanggung jawab siapa?" ujar Sekretaris Pendiri IAW, Iskandar Sitorus, kepada RMOL, Minggu, 30 November 2025. 

Kasus ini, kata Iskandar, bermula pada 2014 saat PT Jembatan Nusantara (PT JN) menawarkan 53 kapal tua kepada ASDP. Evaluasi teknis kala itu menyebut kapal-kapal buatan 1959?"1966 tersebut dalam kondisi tidak layak operasi. ASDP akhirnya menolak karena dinilai bertentangan dengan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan BUMN.


Namun situasi berubah pada 2017-2018 setelah pergantian manajemen ASDP. Serangkaian pertemuan informal disebut berlangsung di hotel, kantor PT JN, hingga rumah pribadi seorang pihak bernama Adjie yang disebut sebagai “shadow director” karena bukan direksi maupun komisaris, tetapi sangat menentukan arah transaksi.

Rekayasa kebijakan internal terjadi pada 2018?"2019 melalui terbitnya Keputusan Direksi (KD) yang awalnya memperketat persyaratan kerja sama. Akan tetapi, KD berikutnya justru menghapus kewajiban feasibility study, persetujuan komisaris, hingga evaluasi finansial mitra. Kontrak kerja sama usaha bahkan diteken sebelum ada persetujuan komisaris.

Manipulasi valuasi disebut terjadi pada 2021 setelah Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) menaikkan nilai kapal menjadi Rp 2,092 triliun. Padahal BUMN PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebelumnya menyatakan sebagian kapal tidak layak akuisisi. Pola ini disebut mirip dengan sejumlah kasus besar seperti Jiwasraya dan Asabri.

Puncaknya terjadi pada 20 Oktober 2021 saat penetapan harga akuisisi Rp 1,272 triliun dilakukan di rumah pribadi Adjie. Keputusan itu disebut tidak melalui rapat direksi resmi, tanpa notulen, dan tanpa persetujuan komisaris, yang dinilai melanggar ketentuan UU Tipikor.

Pada 2022, ASDP mengalirkan dana Rp 1,223 triliun ke tiga entitas yang disebut berada dalam lingkar pengendalian Adjie-A Mashuri. Aliran dana tersebut dinilai menunjukkan pola berlapis (layering) yang identik dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

KPK kemudian menetapkan kerugian negara sebesar Rp 1,253 triliun berdasarkan audit BPKP. Pengadilan Tipikor memvonis para terdakwa bersalah dengan unsur perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, serta kerugian negara terbukti nyata.

"Namun situasi berubah setelah muncul jalur aspirasi dari DPR yang diteruskan ke Sekretariat Negara dan Mahkamah Agung. Presiden kemudian menerbitkan Keppres rehabilitasi dalam waktu singkat. Namun sangat disayangkan proses tersebut murni administratif tanpa diikuti audit ulang kerugian negara maupun penelusuran aliran dana," kata Iskandar.

Akibat Keppres tersebut, status terpidana gugur dan mekanisme penggantian kerugian negara melalui jalur pidana otomatis terhenti. Hal ini menyebabkan tidak ada lagi subjek hukum yang bisa dimintai tanggung jawab atas kerugian negara Rp 1,253 triliun yang kini berpotensi membebani APBN.

Iskandar mengajukan sejumlah rekomendasi kepada Presiden Prabowo Subianto, mulai dari peninjauan ulang Keppres rehabilitasi, penerbitan aturan rehabilitasi bersyarat, hingga pembentukan satgas pemulihan kerugian negara. Ia menegaskan, kasus ASDP kini menjadi tolok ukur komitmen negara dalam menjaga uang rakyat dan kredibilitas penegakan hukum di sektor BUMN.

“Kasus ASDP ini akan menjadi benchmark penanganan korupsi BUMN ke depan. Rehabilitasi boleh dilakukan tetapi kewajiban mengembalikan kerugian negara harus dilakukan terlebih dahulu agar tidak menjadi celah berbahaya bagi keuangan negara,” tegas Iskandar Sitorus.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya