Berita

Logo Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

NU dan Muhammadiyah Dikutuk Tambang

MINGGU, 30 NOVEMBER 2025 | 02:12 WIB

SEBAGAI generasi yang lahir 1980-an, rentang waktu 10 tahun hidup menikmati alam liar Sumbawa. Namun, tahun 1996 NNT mulai eksplorasi. Seluruh wilayah Sumbawa, Dompu dan Bima, bolak balik Helikopter dan pesawat dalam eksplorasi.

Saya sendiri, sejak kuliah, satu-satunya kader Muhammadiyah yang menentang tambang. Karena, banyak mahasiswa Muhammadiyah penikmat beasiswa NNT dan para tokohnya. Selain itu, Universitas Muhammadiyah Mataram, membuka jurusan teknik sipil dan pertambangan. 

Namun, di kalangan Pemuda Ansor NTB dulu, kami sama-sama lakukan kritik terhadap tambang (anti tambang). Tetapi, sejarah selalu berjalan dinamis dan paradigma perlawanan narasi berkembang. Kampanye lingkungan hijau, justru dilakukan oleh lembaga internasional di wilayah tambang. Tidak disebut lembaganya, ada banyak dalam catatan hidup perjalanan hidup selama jadi orang anti tambang.


Bagi saya, secara filosofis, bumi diizinkan oleh Tuhan untuk dikeruk dan diambil isi batunya. Karena, Surat Al-A'raf ayat 56 dan Surat Ar-Rum ayat 41 itu, sangat jelas larangannya.

Secara ideologi: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)."

Makna ayat ini yang harus di review (ditadaruskan) lagi oleh NU-Muhammadiyah sesuai sumber hukum organisasi NU-Muhammadiyah dalam membuat regulasi, fatwa, instruksi dan doktrin.

Mestinya, NU-Muhammadiyah secara eksplisit melarang perbuatan yang merusak bumi setelah Allah memperbaikinya dan menganjurkan rakyat untuk berdoa dengan penuh harap dan takut. 

Kita melihat, fenomena banjir dan perubahan iklim dalam 20 tahun terakhir, sangat jarang menjadi fokus dakwah Muhammadiyah-NU. Kalaupun ada program Climate Changes, itu hanya pesanan pelatihan, pendidikan, dan proyek. Tetapi, tidak terdoktrin dengan baik sebagai alat memfatwa (peringatan) manusia tentang dampak kerusakan tambang.

Kerusakan dan Kutukan Tambang

NU-Muhammadiyah, mestinya mengetahui secara detail tentang risiko penambangan bumi. Sejarah fir'aun masa lalu,bisa jadikan hikmah dalam bernegara. Tambang-tambang di Mesir telah mengutuk bumi dengan eksploitasinya, lalu memberhalakan patung emasnya. Kemudian, Tuhan mendatangkan bencana. Karena, tuhan perbaiki bumi hanya dengan bencana. Tetapi, manusia harus menjaga dan berdoa, supaya bencana tidak datang.

Surat Ar-Rum ayat 41: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Lagi-lagi, makna ayat ini bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan laut adalah akibat dari perbuatan manusia, yang bertujuan untuk membuat manusia menyadari kesalahan agar kembali ke jalan yang benar. 

NU-Muhammadiyah, harus menyadari ayat Ar-Rum ini, karena menerima izin tambang adalah bentuk pelanggaran pada tiga hal: Pertama, Mengabaikan perintah Tuhan; Kedua, Melakukan kerusakan dimuka bumi. Ketiga, melemahkan umat Islam dan beragama dalam perbaiki negara dan bangsa.

Apa yang terjadi pada Ketua Umum NU adalah bentuk peringatan Tuhan agar kepemimpinan dapat dilaksanakan dengan baik dan benar sehingga peran - peran NU-Muhammadiyah dapat membuat rakyat tercerahkan. Bukan, menjerumuskan rakyat pada musibah banjir bandang, longsor dan lainnya.

Pertentangan para Pencari Rente

Dari surat Ar-Rum ayat 41 itu, sangat nyata terjadi pertentangan para pencari rente di NU-Muhammadiyah. Akibatnya, menerima izin tambang, tercipta dua arus kelompok yang sangat kuat dan berdampak pada pelemahan umat Islam Indonesia.

Kita kaji makna Surat Al-Baqarah ayat 205: "orang-orang yang apabila berkuasa akan berusaha untuk berbuat kerusakan di muka bumi dan memusnahkan tanam-tanaman dan keturunan.

Pada 10 tahun rezim lalu, telah memberi izin tambang kepada NU-Muhammadiyah. Namun, kedua ormas Islam ini tidak menyadari atas kerja-kerja politik tingkat tinggi dari bangsa penjajah, teroris, pemuja setan (Freemason).

Izin tambang kepada dua ormas, sangat terasa. Ketika perjuangan umat Islam melakukan perlawanan terhadap berbagai genosida, penjajahan dan embargo ekonomi terhadap negara-negara Islam di dunia mengalami penurunan tensi perjuangan.

Karena bagi Freemason berpikir sederhana: "dua ormas butuh jabatan, dana, kekayaan anggota dalam berbagai kegiatannya." Bagi Freemason tak ada hal yang rumit untuk menjawab itu. Berikan saja izin tambang dan investasi pengusaha yang tidak sealiran keagamaan. Maka, kontrolnya sangat kuat, bahkan penciptaan konflik yang mengarah pada kedua ormas ini bubar.

Lebih fatal lagi, ketika NU-Muhammadiyah mengalami turbulensi kejernihan pikiran dan kebijakan akibat hasrat memburu rente tambang. NU-Muhammadiyah telah melupakan jati dirinya untuk membangkitkan kesadaran umat (rakyat) agar memiliki kemandirian spiritualitas. 

Padahal, NU-Muhammadiyah berdiri dalam sejarahnya, tidak dengan hasil tambang dari Belanda-Jepang. Berdiri di atas kesadaran perjuangan untuk bebaskan diri dari ketimpangan sosial, ekonomi maupun politik. 

Dalam Surat Al-Anfal ayat 36: "melarang orang-orang yang tidak beriman untuk habiskan harta mereka untuk halangi jalan Allah (membangun kekuatan bagi orang-orang kafir)."

Posisi NU-Muhammadiyah dalam Surat Al-Anfal ayat 36 ini sangat jelas. Dengan menerima izin tambang, artinya menerima agenda Yahudi Israel-Freemason itu. Sehingga NU-Muhammadiyah menghalangi kekuatan Tuhan dengan cara mengeruk bumi dan merusak lingkungan.

Tugas NU-Muhammadiyah: Antitesa Tambang

Sebagaimana kita ketahui, tambang merupakan pembakaran fosil yang berakibat pada krisis iklim, lingkungan rusak, asap beracun, dan bumi mendidih. Dampaknya, Banjir, longsor, dan musibah. Tentu, tambang menebang kayu, tidak tanam kayu. Tambang menggarong batu, tidak menyusun batu. Tambang mengeruk tanah, tidak memadatkan tanah.

Saya kira, NU-Muhammadiyah tak perlu di ceramahkan soal doktrin cara perbaiki keadaan. Ini tergantung keputusan kebajikan NU-Muhammadiyah.

Ada dua solusi tugas yang bisa diambil sebagai jalan kebajikan: Pertama, kembalikan izin pertambangan tersebut; Kedua, Lakukan mitigasi bencana alam dengan cara; industri ekstraktif garam, rumput laut, kelapa.

Industri Garam: bisa menjadi modal NU-Muhammadiyah tanpa merusak alam dengan pola bisnis yang bisa menopang industri mobil, baterai, penyimpan energi, obat-obatan dan lainnya. Impor Garam oleh AS-China sangat tinggi karena kegunaannya untuk pengolahan tanah jarang juga.

Industri Rumput Laut; NU-Muhammadiyah bisa meminta izin kepada pemerintah untuk mendapatkan lahan sepanjang-panjangnya di seluruh pesisir Indonesia untuk tanam rumput laut non panen. Tentu, rumput laut, berfungsi penghisap karbon 100 kali lipat dibanding mangrove. Karena, bisnis karbon lebih menjanjikan dibanding emas, nikel dan batubara. Perang dagang China-AS hari ini adalah Karbon dan tanah Jarang.

Industri Kelapa; NU-Muhammadiyah, bisa mengambil momentum pada sisa umur dunia. Karena, masa depan industri kelapa sangat cerah, terutama dengan adanya hilirisasi dan digitalisasi.

Justru, NU-Muhammadiyah mengambil posisi kolaborasi dengan pemerintah dalam menyongsong Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045 untuk tingkatkan nilai tambah produk kelapa dan kesejahteraan petani.

Kelapa tidak sama dengan tambang. Kalau kelapa dinikmati oleh umat manusia, kalau tambang dinikmati oleh segelintir kelompok Freemason yang merusak, korup, penjahat lingkungan dan meruntuhkan negara.

Dengan hilirisasi kelapa, produk turunan kelapa seperti Virgin Coconut Oil (VCO), arang batok, cocofiber, dan cocopeat memiliki potensi besar di pasar domestik dan ekspor.

Semua industri dan bisnis alami diatas, dapat; Pertama, tingkatkan nilai ekspor komoditas perkebunan nasional hingga 50-100 kali lipat; Kedua, ciptakan lapangan kerja dan perkuat ekonomi pedesaan; Ketiga, tingkatkan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat

Sekarang ini, terserah kepada NU-Muhammadiyah, apakah berjalan dalam kebajikan yang ma'ruf atau menuju hilang terkikis kesadaran keadilan alam lingkungan dan/atau bubarnya NU-Muhammadiyah di masa depan yang tidak lagi berada pada markah jalur memajukan rakyat dan mendakwahkan kemajuan.

Rusdianto Samawa
Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Muhammadiyah Mataram, Ketua Front Nelayan Indonesia


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya