Berita

Pakar militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie. (Foto: Istimewa)

Politik

Connie Surati Presiden Ingatkan Polemik Morowali Bisa Jadi Bom Waktu

KAMIS, 27 NOVEMBER 2025 | 22:30 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pakar militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menyampaikan kritik tajam soal keberadaan Bandara PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah kepada pemerintah melalui sebuah surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto.

Bandara yang dibangun pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu dinilai bermasalah karena beroperasi tanpa kehadiran perangkat negara, termasuk tanpa petugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Situasi ini, menurut Connie, menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan wilayah udara dan integritas pengawasan negara.

Dalam surat terbuka bertanggal 27 November 2025 tersebut, Connie menyampaikan keprihatinan mendalam atas lemahnya pengawasan negara terhadap kawasan industri strategis Morowali, yang saat ini berkembang pesat tetapi tidak diimbangi sistem pengamanan dan tata kelola yang memadai.


“Morowali sebuah kawasan yang tidak hanya memegang peranan penting dalam ekonomi nasional, tetapi juga menyentuh inti dari kedaulatan data, kedaulatan industri, dan kedaulatan keamanan nasional. Morowali berkembang jauh lebih cepat daripada sistem pengawasan negara,” tulis Connie.

Ia menegaskan bahwa investasi besar, baik asing maupun domestik, berlangsung tanpa mekanisme kontrol terpadu sebagaimana diperintahkan berbagai regulasi, mulai dari UU Informasi Geospasial, UU Minerba, Perpres Hilirisasi, UU TNI, hingga peraturan pengamanan objek vital.

“Keterlambatan negara dalam memperkuat koordinasi ini melahirkan celah strategis, mulai dari pengawasan data geospasial, keberadaan tenaga kerja asing, potensi kebocoran informasi, hingga lemahnya integrasi keamanan kawasan,” tegas Connie.

Menurutnya, Morowali bukan sekadar kawasan industri, melainkan titik strategis dalam perebutan pengaruh global atas critical minerals atau rare earth materials.

“Ketika data geospasial, perizinan, tata ruang, dan infrastruktur digital tidak berada sepenuhnya dalam kendali negara, maka kita sedang membuka pintu risiko yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan ekonomi, yaitu kehilangan kendali atas jantung strategis negara,” lanjutnya.

Dalam surat itu, Connie menyoroti lemahnya koordinasi antar lembaga seperti BIG, ESDM, Marves, Kemenperin, TNI, Polri hingga Pemda yang dinilainya sering berjalan parsial dan tidak sistemik. Kondisi tersebut menciptakan “ruang abu-abu” dalam pengawasan Morowali.

“Negara tidak boleh kalah cepat dari arus investasi, apalagi sampai tertinggal dalam pengamanan informasi dan aset vital,” ujarnya.

Connie kemudian mengajukan lima rekomendasi kepada Presiden Prabowo. Menginstruksikan audit menyeluruh atas tata kelola data, keamanan, dan investasi di Morowali. Lalu memperkuat peran BIG sebagai otoritas tunggal data geospasial tanpa pengecualian.

Kemudian membangun Komando Pengawasan Terpadu Obvitnas yang melibatkan TNI, Polri, BIG, dan lembaga teknis, merevisi mekanisme perizinan yang dinilai terlalu sektoral serta menegaskan Morowali sebagai kawasan kedaulatan strategis, bukan sekadar kawasan investasi.

“Surat ini saya sampaikan bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengingatkan bahwa: kelalaian terhadap objek vital adalah kelalaian terhadap kedaulatan. Dan kedaulatan tidak boleh dinegosiasikan,” tegas Connie.

Ia berharap Presiden Prabowo mengambil langkah cepat, tegas, dan cerdas untuk memperkuat kembali fondasi kedaulatan negara di kawasan industri strategis tersebut.

“Indonesia membutuhkan kepemimpinan Presiden untuk mengoreksi kelengahan struktural ini agar tidak menjadi bom waktu bagi masa depan Republik,” pungkas Connie Rahakundini Bakrie.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya