Berita

CEO CAU Chocolate, I Kadek Surya Prasetya Wiguna. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Perusahaan Lokal Berdayakan Ratusan Hektare Lahan Kakao di Bali, Tembus Ekspor ke Australia

RABU, 26 NOVEMBER 2025 | 09:58 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bekerja dalam senyap di akar produksi kakao Bali, perusahaan lokal CAU Chocolate memberdayakan petani sekitar sekaligus mengangkat nilai ekonomi kakao Bali ke level internasional. 

CEO CAU Chocolate, I Kadek Surya Prasetya Wiguna, mengakatan pihaknya melakukan pola pendampingan intensif dan standar kualitas tinggi, sehingga petani dapat menikmati lonjakan produktivitas dan pendapatan yang lebih stabil.

Saat ini pihaknya, kata Wiguna telah membina lahan 300-400 hektare di Tabanan dan Jembrana, dan bekerja sama dengan 12 Gabungan Kelompok Tani (gapoktan).


“Petani kami itu total yang kami bina itu (punya lahan) sampai dengan 300-400 hektare. Jadi kami tidak mengambil hak petani untuk melakukan pembudidayaan. Pola kemitraan, kami punya 12 gapoktan. Yang terdiri dari gapoktan yang berasal dari Tabanan dan Jemberana,” katanya kepada wartawan pada Kamis, 26 November 2025.

Ia mengatakan, fokus pendampingan Cao Chocolate diarahkan pada budidaya organik dan pengelolaan kebun yang baik.

“Pendekatan kami adalah loyalty pricing. Tapi yang paling penting, bagaimana petani tetap bersemangat bertani,” tuturnya.

Secara rutin, tim lapangan CAU turun langsung ke kebun mulai dari mengawal perawatan pohon, memastikan penanganan hama organik, hingga monitoring kualitas hasil panen. Wiguna menegaskan bahwa produktivitas hanya akan tercapai bila fondasi budidaya berjalan benar.

“Kalau kebunnya sudah dikelola dengan benar, barulah produktivitas bisa naik. Target kami, satu pohon minimal menghasilkan dua kilogram biji kering, atau sekitar enam kilogram biji basah,” jelasnya.

Saat ini, kebun percontohan CAU sendiri sudah menghasilkan 1,5-1,7 ton per hektare per tahun, jauh di atas rata-rata nasional yang masih sekitar 600 kilogram. 

Di tengah anjloknya harga kakao dunia ke sekitar Rp85 ribu per kilogram, CAU Chocolate membeli hasil panen dengan harga minimal Rp100 ribu, sehingga petani mendapat upah yang layak.

“Pembelian dengan harga baik harus diikuti kualitas yang baik. Petani-petani loyal kami menghasilkan mutu yang luar biasa sehingga kakao Bali diakui dunia,” kata Wiguna.

Dalam sektor hilirisasi, CAU Chocolate juga telah masuk pasar global. Sejak 2021, produk kakao Bali telah menembus Singapura, Malaysia, Qatar, Polandia, hingga Australia.

“Cuma jumlah yang besar adalah Australia. Memang jumlahnya belum terlalu besar, tapi sudah mulai,” ungkap Wiguna.

Demi mendukung ekspansi, perusahaan juga sedang membangun pabrik baru dengan kapasitas pemrosesan 2 ton per hari. Namun bagi Wiguna, peningkatan kapasitas tidak boleh mengorbankan kesejahteraan petani.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Ramos-Horta Puji Toleransi dan Ketangguhan Rakyat Indonesia

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:17

Polisi Konfirmasi Korban Tewas saat Demo DPR Seorang Pedagang Cermin

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:10

Aturan Turunan UU DKJ Harus Rampung Sebelum Keppres IKN Terbit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:09

Astra Sudah Jangkau 35.726 Warga Lewat 7 Posko Gempa NTT

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:04

Penanganan Karhutla di Riau Jadi Contoh yang Baik

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:01

Budi Arie Pasang Badan Cuci Nama Jokowi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:00

Peluncuran Wajah Baru RS Tria Dipa, Hadirkan Teknologi Medis Teranyar

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:57

BI: Daripada Kredit, Mayoritas Bank Parkir Likuiditas di Surat Berharga

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

LPJ Diterima, Gus Yahya Akui Tak Sempurna Pimpin PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

Pengusutan Dugaan Korupsi di Pemkab Bogor Merembet ke Dinas Pendidikan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:50

Selengkapnya