Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Jalan Terjal Menuju APBN Nol Defisit: Belanja Negara Kalahkan Pertumbuhan Penerimaan

RABU, 26 NOVEMBER 2025 | 07:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Target Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan APBN tanpa defisit pada 2027-2028 akan sulit tercapai. Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuabi, mengungkapkan, keinginan tersebut bukan perkara mudah karena belanja negara saat ini melaju jauh lebih cepat dibanding pemulihan pendapatan, sehingga ruang fiskal semakin tertekan.

Dalam pidato kenegaraan 15 Agustus 2025, Presiden menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,48 persen dari PDB. Namun arah kebijakan berubah. Pada September 2025, pemerintah justru menaikkan proyeksi defisit menjadi 2,68 persen, yang kemudian disetujui DPR melalui UU APBN 2026. Tambahan defisit ini dipicu meningkatnya kebutuhan belanja, antara lain untuk program makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih.

Menurut Ibrahim, langkah tersebut berlawanan dengan ambisi menuju APBN tanpa minus.


“Jika defisit malah dinaikkan, mustahil mengejar APBN nol defisit hanya dalam satu tahun,” tegas Ibrahim Assuabi, dalam keterangannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Rabu 26 November 2025. 

Ia memastikan persoalan utama bukan hanya soal target, melainkan ketimpangan antara pertumbuhan belanja dan penerimaan negara. Penerimaan pajak - penopang terbesar APBN - belum pulih pascapandemi. Rasio pajak terhadap PDB terus menurun sejak 2022 hingga 2024, menandakan pendapatan negara tidak mampu mengimbangi percepatan belanja.

Dalam kondisi itu, Ibrahim menilai pemerintah tidak punya banyak pilihan selain kembali mengandalkan utang.

“Mau tidak mau, ruang fiskal akan ditutup dengan surat utang karena penerimaan tidak cukup kuat menopang lonjakan belanja,” ujarnya.

Meski defisit 2,68 persen masih di bawah batas 3 persen sesuai UU Keuangan Negara, Ibrahim mengingatkan bahwa batas tersebut bukan jaminan kesehatan fiskal.

“Angka maksimal bukan berarti aman. Jika pendapatan lemah, defisit sekecil apa pun tetap jadi beban ke depan,” katanya.

Ibrahim juga menyinggung respons pasar, terlihat dari pergerakan Rupiah yang sensitif terhadap kebijakan defisit. Mata uang Garuda ditutup menguat 43 poin ke Rp16.656 per Dolar AS pada Selasa sore, setelah sempat melemah ke Rp16.699. Untuk perdagangan Rabu, Ibrahim memperkirakan Rupiah bergerak fluktuatif. Ia memperkirakan Rupah ditutup di rentang Rp16.650 - Rp16.700 per Dolar AS.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Kuota Batu Bara Turun, Laba Bisnis Tambang Astra Tergerus 28 Persen

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:33

Denny Indrayana Walk Out dari Sidang Gugatan Ijazah Gibran

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:17

Laba Otomotif Astra Naik 8 Persen

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:13

Maroko Kembangkan Pelabuhan Raksasa Berkapasitas 20 Juta Kontainer

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:11

Lewat Program Pelita, AHY Ajak Warga Manfaatkan Energi Surya

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:10

Normalisasi Sungai di Jakarta Dikebut Jelang Musim Hujan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:02

Laba Astra Tergerus 12 Persen, Ini Penyebabnya

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:58

Raja Juli Batal Bahas Karhutla di DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:43

Film Laut Bercerita Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:20

BGN Perluas MBG Prasmanan, Sasar 5.000-10.000 Dapur hingga Akhir Tahun

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:19

Selengkapnya