Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Dunia

Maskulinisme Mengganas Menyerang Perempuan di Dunia Nyata dan Maya

SENIN, 24 NOVEMBER 2025 | 11:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Maskulinisme masih menjadi momok yang berkembang pesat di dunia digital, memicu berbagai bentuk kekerasan dan kebencian terhadap perempuan. 

Menurut France24, dalam beberapa tahun terakhir, serangan daring terhadap perempuan meningkat tajam, seiring munculnya wacana maskulinisme yang berusaha menormalkan misogini (kebencian, permusuhan, atau sikap merendahkan terhadap perempuan)  dan menyerang gerakan feminisme.

Berbagai bentuk kekerasan digital, mulai dari deepfake, trolling, hingga doxing kini semakin sering terjadi dan sebagian besar menyasar perempuan. PBB mencatat bahwa kekerasan digital telah menjadi salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang paling umum di seluruh dunia. Dalam studi global tahun 2021, 85 persen perempuan pernah menjadi korban atau menyaksikan kekerasan daring, termasuk 74 persen di Eropa dan 90 persen di Afrika.


Ledakan kekerasan siber ini tidak hanya dipicu oleh kemajuan teknologi, termasuk maraknya AI generatif, tetapi juga oleh berkembangnya retorika maskulinisme yang menempatkan laki-laki sebagai “korban” feminisme. Forum incel, video influencer misoginis, dan komunitas anti-feminis tersebar luas dan mudah ditemukan oleh pengguna laki-laki muda -- bahkan algoritma bisa merekomendasikannya dalam waktu kurang dari 30 menit.

Menurut Institut Kesetaraan Gender Eropa (EIGE), kekerasan daring bukan lagi masalah privat, tetapi bagian dari rangkaian kekerasan terhadap perempuan. Retorika maskulinisme memberikan arah dan makna baru pada kekerasan ini, menjadikannya semacam aksi kolektif yang ingin menghukum atau membungkam perempuan, terutama mereka yang aktif di ruang publik.

"Ribuan laki-laki yang menyebarkan gambar porno, baik asli maupun palsu,  di platform seperti Facebook, WhatsApp, dan Telegram sebenarnya terlibat dalam kekerasan sistemik terhadap perempuan," kata Alice Apostoly dari Gender in Geopolitics Institute.

Wacana maskulinisme memperkuat stereotip misoginis dan melahirkan serangan yang lebih terkoordinasi terhadap aktivis feminis, politisi, jurnalis, dan artis perempuan.

Fenomena ini bahkan jauh melampaui gambaran incel. Banyak kelompok lain yang sama-sama mengusung kebencian terhadap perempuan, nostalgia terhadap struktur patriarki, dan keyakinan bahwa laki-laki kini terpinggirkan.

Stephanie Lamy, penulis La Terreur masculiniste, menyebut bahwa “maskulinisme” terdiri dari berbagai ideologi yang memuja kekerasan dan memiliki jaringan yang cukup terorganisir.

Beberapa kasus di Prancis menunjukkan bahwa retorika ini dapat berubah menjadi ancaman fisik. Di antara 2021 dan 2023, setidaknya tiga laki-laki ditangkap karena merencanakan serangan terhadap perempuan. Salah satunya diduga terdorong bertindak setelah mendapat dorongan dari forum incel. Menurut Lamy, tidak ada “serigala penyendiri” dalam gerakan ini, kebencian mereka selalu dibentuk, dipicu, dan diperkuat oleh komunitas.

Masalah besar lainnya adalah lemahnya payung hukum. Banyak negara telah mencoba meng kriminalisasi kekerasan berbasis teknologi, namun aturan yang ada masih dianggap terbatas. Misogini jarang disebut dalam regulasi ujaran kebencian, meski mekanisme radikalisasinya mirip dengan ekstremisme.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya