Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Minyak Belum Bergerak Naik Sejak Akhir Pekan

SENIN, 24 NOVEMBER 2025 | 11:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia kembali melemah pada Senin, 24 November 2025, seiring kabar bahwa pembicaraan damai Rusia-Ukraina semakin mendekati titik temu dan nilai dolar AS menguat.

Dikutip dari Reuters, harga Brent turun 14 sen menjadi 62,42 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 15 sen ke 57,91 Dolar AS per barel. Kedua acuan minyak itu sudah merosot sekitar 3 persen pekan lalu, menyentuh level terendah sejak 21 Oktober.

Penurunan harga dipicu kekhawatiran pasar bahwa jika kesepakatan damai tercapai dan sanksi terhadap Rusia dicabut, pasokan minyak Rusia yang sebelumnya terblokir bisa kembali membanjiri pasar.


"asar bereaksi keras karena dorongan kuat Presiden Trump untuk segera menyelesaikan kesepakatan damai, yang dinilai bisa membuka kembali suplai minyak Rusia dalam jumlah besar," kata analis IG, Tony Sycamore.

Sementara itu, sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil yang berlaku sejak Jumat telah membuat sekitar 48 juta barel minyak Rusia terdampar di laut, namun dampaknya dianggap kalah besar dibanding potensi pembukaan kembali pasokan jika perdamaian terjadi.

Pada Minggu, AS dan Ukraina menyatakan telah mencapai kemajuan dalam pembahasan rencana damai. Namun rencana tersebut mencakup syarat berat: Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayah dan membatalkan rencana bergabung dengan NATO. Presiden Trump menetapkan tenggat hingga Kamis, sementara negara-negara Eropa meminta kesepakatan yang lebih baik.

Jika damai terwujud, pencabutan sanksi dapat meningkatkan ekspor minyak Rusia, negara produsen minyak terbesar kedua di dunia setelah AS pada 2024.

Selain sentimen geopolitik, pasar juga tertekan oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga AS. Peluang penurunan suku bunga pada Desember meningkat setelah Presiden Fed New York, John Williams, menyebut pemangkasan bisa terjadi “dalam waktu dekat”.

Di sisi lain, penguatan Dolar AS yang mencapai level tertinggi sejak Mei membuat minyak lebih mahal bagi negara dengan mata uang lain, sehingga menambah tekanan pada harga.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya