Berita

SDN Klender 04. (Foto: RMOL/Ahmad Alfian)

Nusantara

Beri Kemudahan, Sekolah Dukung Penuh Pendidikan Hafithar

SENIN, 24 NOVEMBER 2025 | 10:41 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Siswa kelas 1 SDN Klender 04 bernama Hafithar Hasan tengah menjadi sorotan setelah kisahnya viral di media sosial.

Di usianya yang baru 8 tahun, Hafithar menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer pulang-pergi dari tempat tinggalnya di Tangerang menuju sekolahnya di Klender, Jakarta Timur. 

Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, perjuangan seorang bocah untuk tetap bersekolah ini memantik gelombang simpati sekaligus keprihatinan dari warganet.


Banyak yang terharu oleh keteguhan hatinya, namun tak sedikit pula yang bertanya: mengapa anak sekecil itu harus berjuang sejauh ini demi pendidikan? Di mana orang tuanya? Apa respons sekolah?

Kepala Pelaksana Pendidikan Duren Sawit, Jakarta Timur, Farida Farhah, turun tangan memberi perhatian khusus. Setelah menggali informasi dan mendapatkan kronologi utuh, ia menyebut bahwa persoalan sebenarnya lebih kompleks dari apa yang terlihat.

"Hafithar ini anak bungsu dari lima bersaudara. Tadinya ia bersama ibunya, Ida Lamtiur (48), tinggal di Kampung Sumur, Jakarta Timur," jelas Farida saat ditemui RMOL di lokasi sekolah, Senin, 24 November 2025.

Ayahnya, Didin, telah meninggal dunia sekitar lima tahun lalu. Sementara sang ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga. 

Pada awal September, ibunda Hafithar pindah pekerjaan ke Tangerang dan membawa sang anak. Namun beberapa waktu lalu, ia kembali pindah kerja ke Parung, Bogor.

Sang ibu sebenarnya telah merencanakan Hafithar untuk pindah ke SD negeri di dekat tempat tinggalnya di Parung. Rencananya, Hafithar akan mulai bersekolah di tempat baru pada awal tahun depan. Kepindahan direncanakan dilakukan setelah pembagian rapor semester 1 pada 19 Desember 2025.

Meski begitu, sebelum kepindahan itu terjadi, Hafithar tetap ingin bersekolah di tempat lamanya. Itu sebabnya ia masih naik KRL setiap hari.

"Jadi selama naik KRL awalnya ibunya ikut mengantar. Namun karena kesibukan akhirnya Hafithar mulai berangkat sendiri. Tapi ibunya sebelumnya sudah menitip Hafithar ke petugas stasiun dan menyelipkan nomor telepon untuk keadaan tertentu," tambah Farida.

Kisah Hafithar pertama kali diunggah oleh pemilik akun TikTok Muji Sambo, yang merekam bocah itu saat menunggu Commuter Line di Stasiun Tanah Abang.

Di sekolah, wali kelas Hafithar, Iin Inayati, turut meluruskan berbagai informasi yang beredar. Ia menegaskan bahwa sekolah sejak awal sangat peduli dan menawarkan berbagai opsi yang aman untuk Hafithar.

"Secara akademik anaknya pintar, tanggap, ceria. Dia sayang sama teman dan gurunya," kata Iin.

Iin menyampaikan, keputusan akhir tetap berada di tangan orang tua. Apakah Hafithar akan dimutasi ke sekolah baru, atau tinggal sementara dengan kerabat di Jakarta.

Beberapa alternatif sudah dibahas, misalnya menitipkan Hafithar di rumah teman sekolahnya selama masa transisi.
Ada pula kemungkinan ibu Hafithar kembali bekerja di Jakarta sehingga Hafithar tetap bersekolah di SDN Klender 04. 

Plt Kepala Sekolah, Dwiyanti Lestari, mengatakan pihak sekolah terus mengupayakan yang terbaik bagi tumbuh kembang Hafithar. Untuk saat ini, solusi sementara sudah dijalankan.

"Kalau naik kereta dia harus berangkat jam 3. Jadi sekarang tinggal di rumah kawannya," jelasnya.

Hafithar disebut sebagai anak yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati tinggi.

"Dia senang sekali sekarang ada MBG (Makan Bergizi Gratis). Dia juga kadang bawa pulang makanannya buat ibunya. Pihak sekolah terus beri dukungan," tutur Dwiyanti.

Pihak Dinas Pendidikan dan Pemprov DKI juga telah menghubungi sekolah dan menyiapkan beberapa opsi. Namun keputusan tetap berada pada orang tua.

"Kami juga akan membantu agar Hafithar mendapat fasilitas pendidikan termasuk Kartu Jakarta Pintar (KJP)," ujar Dwi.

Kisah Hafithar adalah potret kecil tentang tekad, kasih sayang keluarga, dan peran sekolah. Yang dibutuhkan sekarang bukan saling menyalahkan, melainkan saling mendukung dan menguatkan agar setiap anak mendapat kesempatan belajar. Langkah Hafithar ke sekolah harus menjadi motivasi menuju masa depan yang lebih layak dan penuh kasih.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

UPDATE

ASEAN di Antara Badai Geopolitik

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:44

Oknum Brimob Bunuh Pelajar Melewati Batas Kemanusiaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:32

Bocoran Gedung Putih, Trump Bakal Serang Iran Senin atau Selasa Depan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:24

Eufemisme Politik Hak Dasar Pendidikan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:22

Pledoi Riva Siahaan Pertanyakan Dasar Perhitungan Kerugian Negara

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:58

Muncul Framing Politik di Balik Dinamika PPP Maluku

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:22

Bank Mandiri Perkuat UMKM Lewat JuraganXtra

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:51

Srikandi Angudi Jemparing

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:28

KPK Telusuri Safe House Lain Milik Pejabat Bea Cukai Simpan Barang Haram

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:43

Demi Pengakuan, Somaliland Bolehkan AS Akses Pangkalan Militer dan Mineral Kritis

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:37

Selengkapnya