Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Indonesia Perlu Maritimisasi

SENIN, 24 NOVEMBER 2025 | 05:34 WIB

MENJADI negara maritim adalah geostrategic default bagi negara kepulauan, apalagi kepulauan seluas Eropa ini. Jika peta Indonesia ditindihkan ke peta Eropa, maka Pulau Weh akan menempati Aberdeen di Inggris, dan Merauke menempati Istanbul. Berbeda dengan benua Eropa, 70 persen wilayah Indonesia itu berupa laut. Cara berpikir benua tidak semuanya cocok untuk wilayah kepulauan dengan keragaman sumberdaya hayati dan budaya ini. 

Membangun jembatan antar-pulau seperti Suramadu justru membuat ruang Jawa Timur lebih cekung dari sebelumnya di mana konektivitas main-land Jatim-Madura disediakan oleh armada ferry. Saat ini Madura lebih terasing dari sebelum jembatan Suramadu di bangun. Dampaknya terhadap ekonomi regional Jatim tidak signifikan. Investasi gagal mengalir ke Bangkalan, tapi malah ke Gresik, Lamongan, Mojokerto, dan Pasuruan. Jembatan adalah solusi jarak di ruang cekung. Armada Ferry tidak menambah kecekungan ruang Jawa Timur.  

Kemaritiman sebagai bagian dari kelautan adalah berbagai hal yang berkaitan dengan laut sebagai ruang, bukan sebagai sumberdaya. Karena laut bukan lingkungan alami manusia, manusia membutuhkan teknologi untuk hidup di laut secara aman, sehat dan produktif. 


Oleh karena itu kapal sebagai teknologi harus dilihat sebagai infrastruktur seperti jalan dan jembatan di darat. Membangun armada kapal nasional adalah membangun jalan dan jembatan penghubung antar-pulau di negeri kepulauan bercirikan Nusantara ini. Inilah yang telah dilakukan Sriwijaya dan Majapahit serta Demak Islam.

Produktivitas armada nasional kita saat ini baru sekitar 70 juta ton-km per tahun, lebih rendah dari Singapura yg mencapai 100 juta ton-km per tahun, masih lebih besar dari Belanda sekitar 40 juta ton-km per tahun. Ini menjelaskan mengapa dua negara kecil ini lebih makmur dari Indonesia. Mobilitas barang dan manusia adalah indikator terbaik kesejahteraan sebuah negara. Diam adalah resep untuk miskin. 

Pemerataan pembangunan sebagai prasyarat persatuan dan keadilan sosial mensyaratkan produktivitas armada kapal nasional: jumlah kapal, kapasitas dan kecepatan kapal-kapal tersebut serta efisiensi jejaring pelabuhan-pelabuhan nasional. Agar ekonomi maritim ini efisien, diperlukan keberadaan pemerintahan di laut yang efektif untuk menjamin keamanan dan keselamatan pelayaran. Produksi kapal oleh galangan 2 kapal nasional dan pelayaran memerlukan lingkungan yang ramah fiskal dan moneter bagi industri maritim ini. 

Hingga saat ini, lingkungan fiskal dan moneter ini tidak ramah karena armada kapal belum dilihat sebagai infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan jaringan rel. Angkutan sungai dan penyeberangan harus dilihat kembali sebagai penting sistem transportasi nasional yang untuk negara kepulauan bercirikan Nusantara ini harus bertulang punggung angkutan laut. 

China sebagai negara benua menyadari kepentingan maritimnya, yaitu kepentingan mengangkut ekspor dan impor China dengan armada kapal nasional China. Kepentingan maritim adalah kepentingan trade and commerce.  China tidak lagi hanya manufacturer of the world, kini sedang mengarah menjadi transporter of the world dengan kebijakan One Belt One Road dengan tulang punggung maritime silk road-nya. 

Trade and commerce yang berjaya adalah kunci bagi kesejahteraan umum sebuah bangsa sebagai amanah konstitusi. Perdagangan besar yang efisien tergantung pada armada kapal nasional yang produktif.

Program hilirisasi saja tidak cukup, harus dibarengi dengan maritimisasi atau maritime mainstreaming. Arsitektur pemerintahan kita juga perlu disesuaikan agar lebih hadir di laut secara efektif sekaligus menekan ekonomi biaya tinggi di laut.

Prof. Daniel Mohammad Rosyid 
Guru Besar Teknik Kelautan ITS 


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Pemerintah Didesak Tetapkan Karhutla Sebagai Bencana Nasional

Rabu, 02 September 2026 | 12:22

Anggaran Kementerian LH 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp2,57 Triliun

Rabu, 02 September 2026 | 12:16

Film Animasi Terlaris China All Wishes Come True Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Rabu, 02 September 2026 | 11:56

Mahasiswa Indonesia Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Vladivostok

Rabu, 02 September 2026 | 11:53

Kapolri Minta Seluruh Kapolda Perkuat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 11:49

Siaga 98 Minta RUU Perampasan Aset Fokus pada Perampasan Tanpa Pemidanaan

Rabu, 02 September 2026 | 11:38

Prabowo Tiba di Vladivostok, Penuhi Undangan Putin Hadiri EEF ke-11

Rabu, 02 September 2026 | 11:24

Komdigi Usul Tambahan Rp3,23 Triliun, DPR Ingatkan Ini

Rabu, 02 September 2026 | 11:19

Mending Persoalkan Kasus Judol Ketimbang Ribut Pernyataan Budi Arie

Rabu, 02 September 2026 | 11:17

AHY: Posisi Boleh Berubah, Komitmen Demokrasi Harus Terjaga!

Rabu, 02 September 2026 | 10:58

Selengkapnya