Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Saatnya Pemilu Menguji Akal Sehat Kita

SABTU, 22 NOVEMBER 2025 | 00:01 WIB

PEMILU berikutnya 4 tahun lagi, bukan waktu yang lama untuk sebuah persiapan yang matang, maka RUU Revisi Pemilu wajib tidak ditunda pembahasannya.
 
Setiap kali bangsa ini menuju Pemilu, kita selalu berbicara tentang visi, elektabilitas, dan strategi kampanye. Namun ada satu pertanyaan sederhana yang justru paling sering terlewat: bagaimana memastikan kita benar-benar memilih sosok yang layak memimpin negeri?
 
Di atas kertas, pemeriksaan kesehatan capres-cawapres seharusnya menjawab itu. Tetapi praktik selama ini menunjukkan hal yang menggelitik: sembilan dari sepuluh aspek yang diuji adalah fisik. Hanya satu menyentuh sisi mental. Itupun dilakukan secara terbatas oleh psikiater, bukan psikolog yang memang ahli membaca dinamika kepribadian seseorang.
 

 
Padahal untuk memimpin negara, ketahanan jiwa jauh lebih menentukan daripada ketahanan paru-paru.
 
Tes psikologi yang ideal membutuhkan waktu berjam-jam, bukan satu sesi singkat. Alat ukurnya pun beragam, mulai dari MMPI generasi terbaru hingga beragam asesmen yang memotret kemampuan analitis, kematangan emosi, integritas, hingga kecenderungan perilaku di bawah tekanan.
 
Dengan kata lain, perangkat psikologi sudah ada – yang kurang hanya keberanian negara untuk memakainya secara serius.
 
Lebih dari itu, masyarakat berhak mengetahui hasilnya. Jika harta kekayaan calon pemimpin wajib dibuka ke publik, maka kondisi psikologis yang akan memengaruhi keputusan 280 juta rakyat semestinya juga tidak menjadi rahasia.
 
Karena jabatan publik adalah mandat rakyat, bukan hak istimewa.
 
Sudah waktunya kita mendorong eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk memperbaiki sistem ini: tes psikologis yang komprehensif, dilakukan oleh psikolog profesional, dan hasilnya diumumkan secara transparan. Bukan untuk menjatuhkan calon mana pun, tetapi untuk menjaga kewarasan demokrasi kita.
 
Bangsa besar tidak hanya memilih pemimpin yang populer, tetapi pemimpin yang stabil, matang, dan mampu memikul beban sejarah.
 
Dan itu hanya bisa dipastikan jika kita berani melihat lebih dalam dari sekadar senyum kampanye.
 
Saeful Zaman, S.Psi., M.M.
(Praktisi Psikologi & Redaktur Khusus RMOL TV)
 
 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya