Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Emas Dunia Turun setelah Data Tenaga Kerja AS Redupkan Harapan

JUMAT, 21 NOVEMBER 2025 | 07:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas dunia di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange tergelincir setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) periode September menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja jauh lebih kuat dari perkiraan. Data ini memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember.

Harga emas spot turun 0,6 persen ke 4.058,29 Dolar AS per ons pada perdagangan Kamis 20 November 2025. Sementara emas berjangka AS untuk kontrak Desember ikut melemah 0,6 persen menjadi 4.060 Dolar AS per ons.

Penguatan Dolar AS juga memberi tekanan tambahan karena membuat emas, yang dihargai dalam greenback, lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.


Laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintah menunjukkan nonfarm payrolls bertambah 119.000, lebih dari dua kali lipat proyeksi 50.000. 

“Data ini menegaskan pandangan the Fed bahwa pasar tenaga kerja memang melambat, tetapi tetap solid. Peluang pemotongan suku bunga Desember kini makin tipis,” ujar Peter Grant, Vice President Zaner Metals, dikutip dari Reuters.

Saat ini pelaku pasar memperkirakan probabilitas pemangkasan suku bunga bulan depan hanya sekitar 40 persen.

Karena penutupan pemerintah, Biro Statistik Tenaga Kerja tidak merilis data Oktober dan akan menggabungkannya dengan data November pada 16 Desember, setelah pertemuan the Fed berikutnya. Risalah rapat the Fed Oktober juga menunjukkan perumus kebijakan tetap memangkas suku bunga meski sadar risikonya bisa memicu inflasi dan mengganggu kepercayaan publik.

Meski sedang terkoreksi, emas masih membukukan tahun yang mengesankan naik 55 persen sepanjang 2025 dan menembus rekor 4.381,22 Dolar AS pada 20 Oktober. UBS bahkan menaikkan target harga pertengahan 2026 menjadi 4.500 Dolar AS per ons, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga, tensi geopolitik, serta permintaan kuat dari bank sentral dan ETF.

Harga logam mulia lainnya juga terpuruk. Perak anjlok 1,7 persen menjadi 50,47 Dolar AS per ons. Platinum turun 2,3 persen ke 1.510,70 Dolar AS. Paladium melemah tipis 0,1 persen menjadi 1.379 Dolar AS.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya