Berita

Pelaksana Tugas Harian Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Prayitno (tengah) saat Brunchtalk bertajuk ‘Kilang Pertamina Untuk Indonesia: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, Hilirisasi, Transisi dan Ketahanan Energi’ di Jakarta. (Foto: Humas KPI)

Bisnis

Kilang Pertamina Maksimalkan Bisnis Eksisting dan Low Carbon

KAMIS, 20 NOVEMBER 2025 | 18:21 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan komitmennya untuk terus melakukan inovasi maupun efisiensi untuk mendukung ketahanan energi nasional sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. 

Sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero), KPI juga menerapkan strategi pertumbuhan ganda. Pertama, memaksimalkan bisnis eksisting saat ini (legacy business). Kedua, membangun bisnis low carbon.

"Strategi memaksimalkan bisnis eksisting dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas kilang. KPI juga membangun bisnis low carbon dengan mengembangkan Green Refinery dan menghasilkan produk-produk yang berbahan baku nabati (biofuel)," kata Pelaksana Tugas Harian Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Prayitno saat Brunchtalk bertajuk ‘Kilang Pertamina Untuk Indonesia: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, Hilirisasi, Transisi dan Ketahanan Energi’ dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta,” Kamis, 20 November 2025. 


Terkait dengan Biofuel, KPI mengimplementasikannya melalui sejumlah strategi. Pertama melalui Co-Processing yaitu bahan baku nabati diproses melalui pencampuran dengan bahan baku fosil pada fasilitas eksisting. 

Dengan strategi ini, KPI telah mampu menghasilkan bioavtur Pertamina Sustainable Aviation Fuel 2,4 persen yang berbahan baku minyak inti sawit atau Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil.

Selanjutnya, conversion, yaitu bahan baku nabati 100 persen diproses menjadi bahan bakar. Pada strategi ini, KPI telah mampu memproduksi biodiesel 100 persen dengan jenis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Produk KPI ini dikenal dengan Pertamina Renewable Diesel (RD).

Prayitno yang juga Direktur Manajemen Risiko KPI, mengungkapkan Kilang Pertamina Internasional juga telah mengembangkan Green Refinery yang dapat mengolah bahan baku 2nd Generation, berupa limbah nabati salah satunya adalah minyak jelantah. 

“Proses produksinya dilakukan di Kilang Cilacap, dan rencananya akan dikembangkan di Kilang Dumai dan Balongan," ungkap Prayitno.

Kilang Pertamina Unit Cilacap telah melakukan lifting atau pengiriman perdana produk Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur berbahan baku campuran Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.

Penerbangan dengan menggunakan Pertamina SAF berbahan baku minyak jelantah dilaksanakan pada pertengahan Agustus  2025 dengan menggunakan pesawat Pelita Air Services dengan rute Jakarta-Denpasar. Sekitar 32 kilo liter Pertamina SAF dari Kilang Cilacap disiapkan untuk penerbangan tersebut.

Pencapaian ini merupakan bentuk transformasi energi, sekaligus langkah strategis dalam transisi menuju energi rendah karbon di Indonesia.

Setiap maskapai yang menggunakan SAF dari Pertamina akan memperoleh Proof of Sustainability dari ISCC CORSIA, yang membuktikan bahwa seluruh rantai pasok telah memenuhi standar keberlanjutan dan diaudit oleh lembaga internasional.

Prayitno mengatakan Proyek Green Refinery Cilacap ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat transisi energi menuju energi terbarukan dan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. 

“Minyak jelantah bisa menciptakan added value. Kami sedang menyiapkan unit produksi baru di Kilang Cilacap untuk produksi SAF, pasarnya bisa dari dalam negeri maupun luar negeri," pungkas dia. 

Minyak jelantah yang digunakan telah diuji secara menyeluruh, kemudian diproses di Green Refinery Cilacap pada Unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT).


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Digiring ke Bareskrim, 10 Tersangka Sabu Blue Ice 1,2 Ton Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

KPK Bongkar Kejanggalan Status Bima-Richard dan Proyek Pengadaan BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

Menlu RI dan Singapura Bertemu, Bahas Penindakan Korporasi Pelaku Karhutla

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:47

Lula dan Prabowo dalam Angka juga Cerita

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:30

Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Tonggak Persatuan Bangsa

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:22

Dari Vietnam, Gus Lilur Desak KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:21

BRIN Percepat Uji Klinis 19 Kandidat Obat Herbal Menuju Fitofarmaka

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:16

Koperasi Jadi Motor Ekonomi Desa di Era Prabowo-Gibran

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:12

BCA Catat Laba Bersih Rp45,2 Triliun, Naik 4,2 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:05

Daftar Peringkat Ballon d'Or 2026: Harry Kane Juara, Messi Posisi Kelima

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya