Berita

Suasana sidang perkara pembiayaan LPEI ke Petro Energy. (Foto: RMOL)

Hukum

Tuntutan ke Jimmy Masrin Misleading, Hukum Pidana Tak Boleh Mendahului Perdata

SELASA, 18 NOVEMBER 2025 | 11:35 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Tim kuasa hukum Presiden Direktur PT Caturkarsa Megatunggal sekaligus Komisaris Utama PT Petro Energy, Jimmy Masrin, menilai tuntutan jaksa memunculkan kekeliruan konstruksi hukum yang berpotensi misleading.

Menurut pengacara Jimmy, Waldus Situmorang, jaksa menafsirkan pembayaran kewajiban Petro Energy kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai tindakan pengembalian uang tindak pidana korupsi, padahal kedua istilah ini sangat berbeda di dalam hukum pidana.

"Dalam hukum, pengembalian sebagaimana dimaksud Pasal 4 UU Tipikor hanya terjadi bila seseorang telah dinyatakan menerima uang hasil tindak pidana, lalu mengembalikannya ke rekening negara. Tetapi yang terjadi dalam perkara ini adalah pembayaran kewajiban kontraktual, bukan pengembalian uang korupsi," ujar Waldus dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa 18 November 2025. 


Waldus menjelaskan bahwa skema pembayaran antara Petro Energy dengan LPEI sudah berjalan jauh sebelum perkara pidana ini bergulir. Untuk fasilitas USD 10 juta pembayaran telah dilakukan sejak 2021–2022, dan kini tinggal tersisa sekitar USD 500 ribu. Seluruh bunga dibayar tanpa tunggakan sedangkan, untuk fasilitas USD 50 juta, sesuai perjanjian, pembayaran dimulai pada 2024 dan sudah dilakukan tujuh kali, dengan jatuh tempo hingga 2028, namun untuk pembayaran bunga sudah 
dibayarkan sejak tahun 2021.

Dengan demikian, Waldus menilai tidak logis apabila pembayaran utang komersial yang dilakukan sesuai perjanjian perdata dianggap sebagai pengembalian dana hasil korupsi.

“Kalau ini dianggap pengembalian, seolah-olah uang tersebut adalah milik negara dan harus masuk ke rekening negara. Padahal yang terjadi adalah pembayaran utang kepada LPEI sesuai perjanjian yang masuk ke rekening milik LPEI,” tegasnya.

Dalam tuntutannya, jaksa juga menyebut Jimmy Masrin sebagai terdakwa 3 sebagai pihak yang “berbelit-belit”. Kuasa hukum menganggap penilaian jaksa keliru dan tidak mencerminkan fakta di persidangan. Sebagai komisaris, Jimmy tidak terlibat dalam operasional harian Petro Energy karena peran ini berada di tangan direksi, khususnya Direktur Utama Newin Nugroho.

Karena itu, menurut Waldus, sikap Jimmy yang minim bicara justru konsisten dengan fungsi jabatannya. “Penilaian bahwa 
terdakwa berbelit-belit tidak berdasar. Beliau jarang bicara justru karena tidak menjalankan fungsi operasional,” jelas Waldus. 

Mengenai arah pembelaan di tahap berikutnya, Waldus, menegaskan bahwa tim akan menyampaikan pembelaan secara menyeluruh dalam pledoi. Ia menekankan kembali bahwa seluruh pembayaran telah dilakukan sesuai termin dan perjanjian, yang merupakan kesepakatan sah antara Petro Energy dan LPEI.

“Pertama, uang sudah dibayar secara termin sesuai perjanjian. Ini hubungan perdata yang sah dan mengikat kedua pihak, pacta sunt servanda, sebagaimana Pasal 1320 jo. 1338 KUHPerdata. Pembayaran itu lalu dialirkan ke PT Caturkarsa Megatunggal dan PT Pada Idi sesuai rangkaian perjanjian lanjutan. Semua itu bagian dari mekanisme restrukturisasi yang berjalan legal. Pertanyaannya, mengapa hubungan perdata yang masih berjalan dan tidak wanprestasi ini justru dicampuri hukum publik?” ujar Waldus.

Waldus menegaskan, hukum pidana tidak semestinya masuk ketika sengketa perdata belum selesai, kecuali terjadi ingkar janji. Karena pembayaran berjalan lancar, ia menilai konstruksi tuntutan JPU perlu dikoreksi.

“Tema pembelaan kami sederhana: ini adalah pembayaran utang yang sah, bukan tindak pidana,” tutup Waldus. 

Sidang lanjutan perkara pembiayaan LPEI kepada Petro Energy kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Kelas IA Khusus dengan agenda pembacaan tuntutan oleh jaksa, Senin 17 November 2025.

Perkara ini menyeret tiga petinggi PT Petro Energy, yakni Newin Nugroho (Direktur Utama), Susy Mira Dewi Sugiarta (Direktur Keuangan), serta Jimmy Masrin (Presiden Direktur PT Caturkarsa Megatunggal sekaligus Komisaris Utama PT Petro Energy).  

Dalam paparannya jaksa menyampaikan sejumlah poin, antara lain bahwa pertama, ketiga terdakwa merupakan subjek hukum yang cakap, normal, dan dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Kedua, JPU menyatakan meyakini para terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi, sebagaimana dakwaan. Ketiga, untuk terdakwa Jimmy Masrin, JPU juga menuntut pidana tambahan berupa denda.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya