Berita

Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi. (Foto: DPP Projo)

Publika

Budi Arie Makin Tersudut

SELASA, 18 NOVEMBER 2025 | 05:07 WIB

BELUM ada reaksi Budi Arie Setiadi setelah pernyataan Ketua Harian PSI Ahmad Ali bahwa partainya tak pernah menawarkan kepada ketua umum Projo itu untuk bergabung dengan parpol pimpinan Kaesang Pangarep.

Tapi, bisa dibayangkan reaksi Budi Arie terhadap pernyataan Ahmad Ali itu. Ia pasti kaget, kesal, kalau tak mengatakan marah.

"Siapa Ahmad Ali itu? Baru kemarin bergabung dengan PSI, sudah kayak pemilik PSI saja." Begitulah kira-kira kalimat ekspresi kekesalan atau kemarahan Budi Arie terhadap pernyataan Ahmad Ali itu.


Budi Arie sendiri sebetulnya sudah sangat tersudut setelah Kongres ke-3 Projo, kemarin. Transformasi Projo yang dilakukannya tak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Keinginannya terlalu melambung tinggi menjauhi realitas. Joko Widodo alias Jokowi tak seperti dulu lagi dan Projo pun tak seperti dulu lagi. Manuvernya sempat menjadi sorotan, tapi setelah itu, ia terlihat gagal bertahan.

Bahkan, cenderung menjadi bumerang. Dalam kondisi seperti itulah Ahmad Ali menyerang dengan mengatakan tak pernah meminta Budi Arie.

Kalau sekelas Ade Armando atau Sudarsono yang menyerang manuver politik Budi Arie masih mendingan. Tapi kalau sudah sekelas Ahmad Ali, yang merupakan Ketua Harian PSI, berarti itu bukan lagi serangan biasa.

Serangan yang dilakukan bukan lagi karena faktor emosional saja, melainkan sudah karena faktor rasional.

Faktor emosional karena kecintaan atau pembelaan terhadap Jokowi yang merasa dikhianati. Sedangkan faktor rasional sudah memiliki kalkulasi politik tersendiri yang ingin diraih.

Budi Arie terlihat sudah senang, meski Kongres ke-3 Projo tak dihadiri Jokowi atau Gibran, tapi ada Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, yang hadir dan memberikan pernyataan yang terlihat membuat lubang hidung Budi Arie sedikit mengembang.

Bahwa Projo bukanlah pendatang baru, melainkan sudah sejak awal mendukung Prabowo-Gibran. Dan Gerindra terbuka dan siap menerima gelombang besar dari mana saja.

Budi Arie tak menyangka kalau kemudian ada penolakan secara masif dari kader Gerindra di daerah-daerah.

Kabarnya, ada nama Bobby Nasution pula, dalam penolakan terhadap Budi Arie dari daerah-daerah itu. Padahal Bobby Nasution juga belum seumur jagung bergabung dengan Partai Gerindra.

Kenapa Bobby Nasution ikut-ikutan pula menolak Budi Arie bergabung dengan Partai Gerindra? Bisa jadi seperti Ahmad Ali dari PSI, penolakan itu jawaban bahwa manuver politik Budi Arie itu bukanlah manuver atau strategi Jokowi, tapi murni manuver Budi Arie sendiri. Budi Arie dan Jokowi sudah berpisah jalan dan hanya menjadi kenangan.

Agak mengherankan juga Budi Arie masuk Gerindra karena ingin menindaklanjuti tawaran Prabowo di Kongres PSI, saat menyapa Budi Arie, apakah akan gabung PSI atau Gerindra?

Padahal semua orang tahu, bahwa Prabowo menanyakan itu bukan dalam rangka serius, melainkan sekadar bercanda, menghangatkan suasana. Lagian, peristiwa itu sudah lama pula dan Budi Arie baru menjawabnya, setelah terkena reshuffle.

Terlalu mengada-ada latar belakang yang dibuat Budi Arie dan wajar saja, PSI ikut bereaksi sebagai partainya Jokowi.

Pilihan Budi Arie bergabung dengan Gerindra secara tak langsung sudah meremehkan PSI dan Jokowi, yang bertekad membesarkan PSI. Tekad Jokowi itulah yang dianggap angin lalu oleh Budi Arie.

Apalagi pada saat yang sama, foto Jokowi dicopot pula dari logo Projo dan Projo tak lagi diartikan sebagai Pro-Jokowi.

Sebagai mantan menteri, baik di era Jokowi maupun Prabowo, tentu Budi Arie tahu peta politik nasional dan bisa melihat peluang partai antara PSI dan Gerindra secara lebih objektif. Tapi cara yang dilakukannya terlalu ekstrem dan memang terlihat kurang elok.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

UPDATE

Direktur Namarin Bongkar Deretan Kekecewaan Iran terhadap Indonesia

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:58

Malaysia Lolos Selat Hormuz, Indonesia Masih Tahap Lobi

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:56

Pemerintah Harus Siapkan Langkah Terukur Antisipasi Krisis Pangan

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:26

Doa di KM 50, PUI Singgung Dugaan Pengaburan Fakta

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:24

Perintah Trump Lumpuhkan Listrik Iran adalah Kejahatan Perang

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:11

Pemulihan Pascabencana di Sumut Masih Tahap Perencanaan

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:43

Perbakin DKI-Jabar-Banten Gelar Kejuaraan Menembak Multi Event 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:23

Awalil Rizky Wanti-wanti Dampak Lonjakan Energi Global terhadap RI

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:14

Wali Kota Pendudukan Kiryat Shmona Murka ke Netanyahu Cs

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:11

Optimisme Purbaya Harus Dibarengi Kinerja Nyata

Jumat, 27 Maret 2026 | 15:48

Selengkapnya