Berita

Gde Siriana Yusuf. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Negara yang Absen di Jam Pelajaran

SENIN, 17 NOVEMBER 2025 | 05:19 WIB | OLEH: GDE SIRIANA YUSUF*

DI sebuah sekolah dasar di pedalaman Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), anak-anak belajar di ruang berdinding papan dan berlantaikan tanah. Di papan tulis yang retak, kapur putih tinggal separuh. 

Sementara di Manggarai Barat, sebuah SMK berdiri di atas bukit tanpa listrik; mesin praktik otomotif di sana tak pernah benar-benar berputar. Ini bukan kisah masa lalu. Ini potret pendidikan Indonesia di tahun 2025.

Guru-guru di daerah seperti itu bukan hanya mendidik, tapi bertahan hidup. Banyak yang menanam sayur sepulang mengajar, sebagian jadi tukang ojek agar dapur tetap berasap. 


Honor mereka sering telat berbulan-bulan, tunjangan datang tidak pasti, dan status kepegawaian mereka menggantung di antara janji reformasi birokrasi yang tak kunjung tuntas.

Rekrutmen tenaga pendidik pun semakin jauh dari semangat panggilan jiwa. Banyak yang menjadi guru bukan karena cinta mengajar, tapi karena tidak ada pilihan lain. 

Profesi yang dulu dianggap mulia itu kini kehilangan auranya. Kita mulai mendengar kasus guru yang memukul murid, mempermalukan siswa, bahkan melanggar etika yang dulu menjadi fondasi kepercayaan antara pengajar dan yang diajar.

Benar kata Ki Hajar Dewantara, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Hari ini, murid pun tak lagi memandang guru dengan hormat seperti dulu. Mereka hidup di era ketika otoritas moral lebih sering datang dari influencer ketimbang pengajar di kelas. 

Teguran dianggap penghinaan, hukuman kecil bisa berujung laporan polisi. Orang tua ikut marah, kepala sekolah tertekan, dan guru diancam mutasi hanya karena menegakkan disiplin. Maka di ruang kelas, otoritas menjadi rapuh, dan pelajaran kehilangan arah. Lalu hubungan belajar berubah jadi transaksi. Bukan lagi dialog batin yang menumbuhkan karakter.

Sementara itu, politik dan birokrasi sering kali menekan para guru: siapa yang tak mau ikut upacara partai penguasa bisa disisihkan; siapa yang berani bersuara tentang ketidakadilan dana BOS akan “diingatkan”. 

Di beberapa daerah, kepala dinas pendidikan menahan tunjangan bagi guru yang dianggap tidak loyal. Di titik ini, kata-kata Paulo Freire (1921–1997), pendidik dan filsuf asal Brasil, terasa seperti teguran: “Pendidikan sejati adalah tindakan cinta, dan karena itu tindakan berani.” 

Namun bagaimana mungkin keberanian itu tumbuh, bila sistem justru menakut-nakuti mereka yang berpikir bebas? Guru akhirnya lebih sibuk menjaga posisi daripada menjaga nurani.

Semua reformasi pendidikan yang digembar-gemborkan pusat seolah terhenti di meja birokrasi. Sekolah tetap kekurangan dana. Belanja daerah pun tetap mengandalkan pusat. 

Ketika daerah gagal mengelola pendidikan, pusat akan kembali turun tangan dengan proyek-proyek baru: digitalisasi sekolah, bantuan tablet, program literasi--semuanya berhenti di angka serapan, bukan kualitas.

Kita sering mendengar kata “bonus demografi”. Tapi di banyak pelosok negeri, yang lahir bukanlah bonus, melainkan beban yang tak pernah diurus. Anak-anak itu belajar dengan guru yang letih, di ruang kelas yang rapuh, dengan kurikulum yang berubah lebih sering daripada nasib mereka.

Di titik ini, krisis pendidikan bukan sekadar soal dana atau kebijakan, tapi cermin retak dari moral negara itu sendiri. Negara yang sibuk memuji infrastruktur, tapi absen di jam pelajaran. 

Negara yang bangga dengan kereta cepat, tapi lupa memperbaiki jalan berlumpur yang dilalui guru honorer menuju sekolahnya. Negara mungkin hadir di kelas, tapi lewat proyek, bukan dalam jiwa pendidikan.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya