Berita

Ilustrasi. (Foto: OCBC)

Bisnis

Peluang Investasi RI Kian Terbuka Seiring Keamanan Membaik

MINGGU, 16 NOVEMBER 2025 | 01:51 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Penguatan aspek keamanan nasional dinilai semakin membuka peluang investasi bagi Indonesia, terutama setelah sejumlah data global dan domestik menunjukkan tren positif. 

Penilaian yang membaik ini diyakini menjadi modal penting pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha dan menarik arus modal baru.

Isu keamanan sebelumnya kembali mencuat setelah Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyoroti maraknya praktik premanisme yang menghambat minat investor. 


Ia menilai iklim investasi sulit berkembang jika dunia usaha masih berhadapan dengan gangguan keamanan dan lemahnya kepastian penegakan hukum.

Kementerian Investasi/BKPM mencatat nilai investasi yang tidak terealisasi (unrealized investment) sepanjang 2014-2024 mencapai Rp1.500-2.000 triliun. Todotua menyebut persoalan perizinan, tumpang tindih kebijakan, hingga iklim usaha yang tidak kondusif sebagai faktor yang membuat investor enggan melanjutkan penanaman modalnya.

“Praktik premanisme menjadi salah satu faktor paling meresahkan bagi pelaku usaha dan kerap membuat investor memilih negara lain sebagai lokasi investasi,” ucap Wamen Todotua dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu, 15 NOvember 2025.

Ia menyebut konsolidasi besar-besaran di seluruh lini pemerintahan diperlukan untuk memastikan keamanan yang stabil bagi kegiatan ekonomi.

Dampak gangguan keamanan ini terlihat dari incremental capital output ratio (ICOR) Indonesia yang masih berada di level 5,79, lebih tinggi dari Vietnam (4,6) dan Malaysia (4,5). Semakin tinggi ICOR, semakin besar biaya investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi tertentu.

Wakil Dekan FEB UI, Kiki Verico, menilai peningkatan efisiensi investasi dapat dicapai jika Indonesia memperkuat forward participation dalam rantai pasok global. 

“Vietnam berhasil mengadopsi pendekatan forward participation sehingga mampu memproduksi lebih banyak barang akhir untuk ekspor,” ujarnya dalam diskusi Investor Daily Summit 2025, Sabtu, 15 November 2025.

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno juga menilai kepastian keamanan harus mendapat perhatian serius untuk memberikan rasa aman kepada dunia usaha. Ia menegaskan kepolisian menjadi tulang punggung dalam menjamin keamanan investasi dan mencegah praktik premanisme mengganggu kegiatan ekonomi.

Menurut Eddy, ketegasan aparat menjadi sinyal penting bahwa negara tidak menoleransi tindakan yang merugikan pelaku usaha. 

“Ketegasan aparat memberantas premanisme sampai ke akarnya sudah cukup ampuh tanpa perlu mengubah legislasinya,” ujarnya dikutip dari laman MPR RI.

Di ranah global, penguatan keamanan Indonesia turut tercermin dalam Gallup Global Safety Report 2025, yang mencatat skor 89 untuk Indonesia dalam Law and Order Index. Skor tersebut menempatkan RI dalam kategori Very High Safety Countries, sejajar dengan Hong Kong, Taiwan, Portugal, Jerman, UEA, dan Kuwait.

Di dalam negeri, survei Litbang Kompas menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 76,2 persen pada Oktober 2025. Mayoritas responden menyatakan percaya atau sangat percaya terhadap kualitas penegakan hukum dan layanan keamanan yang diberikan kepolisian.

“Hasil penelitian yang menempatkan kepercayaan publik di angka 76,2 persen adalah capaian yang patut disyukuri,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, Jumat, 14 November 2025. 

Ia menyebut penguatan rasa aman publik menjadi fondasi penting bagi perbaikan iklim investasi.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2025 mencapai 5,04 persen (y-on-y), menunjukkan ekspansi moderat di tengah tekanan global. Pemerintah berharap konsistensi penegakan hukum dan peningkatan kualitas keamanan dapat menyerap peluang investasi yang selama ini tertahan.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

UPDATE

Donald Trump Buka Peluang Bertemu Mojtaba Khamenei

Jumat, 05 Juni 2026 | 08:19

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi Imbas Prospek Damai Timur Tengah

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:52

Emas dan Perak Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:40

BEI Bidik Dana Besar dari Dalam dan Luar Negeri demi Topang IHSG

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:17

Bursa Eropa Hijau, Saham Bank dan Airbus Pimpin Reli

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:06

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Kenaikan Bahan Baku Berimbas terhadap Industri Makanan dan Minuman

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:54

Artis Fabiola Gabung Sindikat Penipuan Online

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:43

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:28

Inflasi Kehormatan Letkol Teddy Indra Wijaya

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:08

Selengkapnya