Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Setannya di Detil

JUMAT, 14 NOVEMBER 2025 | 23:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN sebuah dome raksasa di Jeddah, Superdome yang mewah, kilap seperti cermin emas, dengan kubah setinggi angan-angan seorang jutawan. Kubah pemegang Guinness Record dengan panjang 210 meter tanpa tiang ini bukan sekadar tempat pemeran, tapi juga bisa jadi markas strategi operasional ibadah haji.

Di sana, belum lama ini, berkumpul para menteri haji dari seluruh dunia, termasuk Gus Irfan (Mochamad Irfan Yusuf), Menteri Haji dan Umrah dari Indonesia. Ia tampak tenang tapi waspada, seperti kiai yang sedang memeriksa santri-santrinya yang sedang berlatih manasik haji.


Jamuan tersaji dengan aroma roti khubz hangat, kurma manis menggoda, dan hidangan khas Saudi yang membuat perut ikut berdzikir. Usai riuh suara gelas, sendok, dan tawa diplomatik, mereka menandatangani kontrak pengelolaan haji dengan para pemilik syarikah.

Jamuan tersaji dengan aroma roti khubz hangat, kurma manis menggoda, dan hidangan khas Saudi yang membuat perut ikut berdzikir. Usai riuh suara gelas, sendok, dan tawa diplomatik, mereka menandatangani kontrak pengelolaan haji dengan para pemilik syarikah.

Syarikah, dalam konteks haji, adalah perusahaan penyedia layanan, semacam EO super yang menangani semua kebutuhan jemaah dari mulai A sampai Z. Mulai dari transportasi Makkah-Arafah, logistik tenda, katering di padang Arafah dan Mina, pengaturan kasur, hingga perjalanan pulang pergi Makkah-Madinah.

Sejak musim haji tahun lalu, pemerintah Saudi mengubah sistem pengelolaan haji yang sudah puluhan tahun berjalan. Tidak ada lagi konsep yayasan setengah bisnis seperti dulu. Kini semuanya jelas berbentuk perusahaan, agar setiap tanggung jawab dapat dipantau, diatur, dan dievaluasi dengan sistematis.

Tahun ini Indonesia hanya memilih dua syarikah, untuk jadi jembatan antara ribuan jemaah Indonesia dan puluhan titik lokasi ibadah. Sebuah langkah dramatis yang bisa bikin mata berkelap-kelip, “Hanya dua? Dari sebelumnya delapan?” gumam hati setiap pengamat.

Bayangkan, dengan delapan syarikah saja, pengelolaan haji tahun lalu kacau-balau. Kok kini hanya dua? Jawaban birokrat: Ibarat orkestra dengan konduktor, kali ini dua syarikah cukup untuk meminimalkan cacat nada. Tapi apa benar lebih rapi? Ah, logika birokrasi selalu punya trik dramatisnya sendiri.

Koordinasi tahun ini dibuat lebih sederhana: timur-barat, utara-selatan. Maksudnya? Titik-titik poin ibadah di Mekkah dan Madinah kini dibagi jelas di antara kedua syarikah, bukan lagi sekadar lempar dadu semau gue. Syarikah menyiapkan segalanya di luar urusan yang disediakan hotel.


Strategi operasional berbasis syarikah ini seperti orkestrasi simfoni dimana setiap kloter jemaah baik dari Jakarta, Medan, Surabaya, ataupun Makassar dibagi kepada dua syarikah yang ditunjuk hasil tender bersih dari 66 calon. Rakeen Mashariq Al Mutamayizah Company For Pilgrim Service menangani satu sisi, Albait Guest sisi lainnya.

Penentuan ini bukan semata-mata soal untung-rugi perusahaan, tapi soal koordinasi titik poin ibadah yaitu Makkah, Madinah, Arafah, Mina, dan Jamarat. Syarikah bertanggung jawab memastikan setiap jamaah tiba tepat waktu, tertib di tenda, mendapatkan kasur layak, makanan teratur, hingga transportasi lancar.

Dengan sistem dua syarikah, pembagian tugas kini lebih sederhana dan efisien. Berbeda dengan delapan syarikah tahun lalu yang membuat koordinasi seperti memainkan rubik raksasa dengan mata tertutup. Kedua syarikah ikut proses seleksi ketat memastikan mereka yang “terbaik” menangani jemaah Indonesia.

Di sela-sela prosesi penandatanganan MoU, Gus Irfan tampak seperti pengatur strategi catur dimana satu mata menatap dokumen, satu mata menimbang lobi dan amplop yang nyaris disodorkan para calon kontraktor nakal. Ia menolak semua “bonus” terselubung, yang mungkin jadi kebiasaan saat haji diurus Kementerian Agama.

Ia meminta, kalau masih ada untung lebih pada syarikah, uang itu sebaiknya dikeluarkan untuk meningkatkan kualitas layanan. Maka jadilah kasur di padang Arafah kini lebih lebar, dan biaya per jamaah turun sedikit yang menjadi hasil hitungan yang bikin kantong negara lebih lega tanpa meredupkan ibadah para jamaah.


Tapi di balik semua formalitas itu, terselip ironi bahwa delapan syarikah dulu kacau, dua syarikah sekarang lebih sederhana tapi risiko baru selalu menunggu. Koordinasi menjadi lebih mudah, tapi tanggung jawab kini lebih berat. Setiap kesalahan mesti terpantau jelas, tak ada lagi yang bisa sembunyi.

Saya pikir, kadang menyederhanakan jumlah syarikah bukan sekadar soal efisiensi, tapi tentang keberanian menghadapi kekacauan yang nyata. Dari delapan menjadi dua, dari ribuan masalah menjadi satu fokus.

Tapi jangan lupa, ibadah haji itu bukan sekadar ritual jutaan langkah; ia adalah dunia paralel di mana satu detil bisa menggagalkan seribu rencana.

Di detail itulah setan biasanya nongkrong bukan di tenda Arafah atau jalur Mina, tapi di catatan kecil yang terlewat, di koordinasi yang dipikir “nanti saja”, di kursi meeting yang terlalu empuk hingga orang lupa bahwa jamaah di lapangan duduk di kasur satu meter.

Pengalaman tahun lalu sudah cukup menjadi alarm bahwa semakin besar sistem, semakin lupa pada detil-detil kecil yang seolah biasa-biasa, dan semakin mungil kelengahan yang bisa membuat semuanya runtuh.

Maka jika dua syarikah ini benar-benar bisa menata ribuan jamaah seperti mengatur satu rombongan karavan tunggal, tanpa drama, tanpa lempar tanggung jawab yang itu artinya ada harapan pelaksanaan haji bisa lebih baik.


Bahwa pengelolaan haji bukan ditentukan oleh jumlah syarikah, tapi oleh kedisiplinan membaca detil, keberanian menolak amplop, dan ketegasan menolak budaya “nanti dulu”.

Dan mungkin, justru di titik inilah kita menemukan hikmah: bahwa kesalahan besar sering lahir dari hal kecil yang diremehkan, dan ketertiban besar justru muncul dari langkah sederhana yang dijaga sungguh-sungguh.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya