Berita

Ilustrasi Rupiah (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Redenominasi Jadi Peluang Masyarakat Alihkan Rupiah ke Emas

RABU, 12 NOVEMBER 2025 | 07:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

RMOL Wacana Redenominasi Rupiah yang digulirkan pemerintah Indonesia akan membawa dampak tak terduga ke pasar komoditas. 

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, rencana pemangkasan nol pada mata uang Rupiah akan berpotensi besar memicu lonjakan permintaan terhadap logam mulia

Ia memprediksi, jika RUU Redenominasi Rupiah terealisasi pada 2027, mengubah Rp1.000 menjadi Rp1, maka masyarakat akan berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke emas sebagai langkah penyelamatan nilai.


 "Ini sebenarnya kesempatan bagi masyarakat untuk mengalihkan rupiahnya ke logam mulia," ujar Ibrahim, dalam keterangannya yang dikutip redaksi, Rabu 12 November 2025. 

Alasannya sederhana, masyarakat melihat emas sebagai aset bernilai tetap (lindung nilai). Ketika nominal Rupiah dipangkas, kepemilikan emas tetap utuh, dan berpotensi dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi, menghasilkan keuntungan tersendiri. Ini adalah momen yang dinilai Ibrahim ideal untuk memperbanyak koleksi emas sebanyak-banyaknya.

Ibrahim juga memprediksi harga emas dunia akan terus naik didorong oleh meningkatnya permintaan global terhadap aset aman (safe haven) akibat kombinasi faktor global dan domestik.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS diperkirakan masih akan tertekan hingga kisaran Rp16.750–Rp16.770 per Dolar AS hingga akhir pekan. Rupiah yang lemah otomatis membuat harga emas domestik yang diimpor menjadi lebih mahal.

Pada Selasa 11 November 2025, harga emas dunia berada di level 4.128 Dolar AS per troy ons*. Ibrahim memproyeksikan harganya dapat menyentuh 4.225 Dolar AS per troy ons dalam beberapa hari ke depan. Sejalan dengan itu, harga emas lokal yang saat ini sekitar Rp2,36 juta per gram diprediksi menembus Rp2,45 juta per gram, melonjak sekitar Rp90.000.

Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh dinamika politik di Amerika Serikat juga menjadi bensin bagi harga emas

Penutupan sementara pemerintahan federal AS selama 41 hari telah membawa kerugian besar. Setelah dibuka kembali, data ekonomi, terutama angka pengangguran, diperkirakan akan memburuk. Data ini bisa menjadi pendorong kuat bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember. Penurunan suku bunga The Fed umumnya melemahkan Dolar dan menguntungkan harga emas.

“Shutdown ini membawa kerugian besar bagi AS, dengan hampir 170 ribu pegawai pemerintah diliburkan tanpa gaji. Setelah Senat AS mengesahkan RUU pendanaan, aktivitas pemerintahan kembali dibuka,” jelas Ibrahim. 

Selain itu, ketegangan perdagangan AS-China masih berlanjut meski keduanya sepakat mengurangi eskalasi di KTT APEC 2025. 

“Masih ada masalah soal ekspor teknologi AI. China marah karena AS tetap menahan ekspor chip yang penting bagi pengembangan teknologi mereka,” ujar Ibrahim.

Dengan segala faktor pendorong ini,dari wacana redenominasi domestik hingga ketidakpastian global,emas diperkirakan akan menjadi bintang bagi para investor di tahun-tahun mendatang.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya