Berita

Fotokopi ijazah S1 Kehutanan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Publika

Ijazah Asli atau Palsu Disita atau Belum Masih Simpang-siur

SELASA, 11 NOVEMBER 2025 | 13:46 WIB

BELUM lama ini Projo mengatakan bahwa mereka diperlihatkan ijazah Joko Widodo alias Jokowi saat berkunjung ke rumahnya di Solo.

"Fix asli," kata Projo mantap. Ijazah Jokowi ada dan tidak terbakar. Kasus ijazah sudah tuntas," kata Projo beruntun-puntun ketika itu.

Tentu tak hanya Roy Suryo cs, publik pun bertanya-tanya, bukankah ijazah asli Jokowi sudah disita penyidik Polda Metro Jaya saat diperiksa di Mapolresta Surakarta?


Bahkan, tak hanya ijazah sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), ijazah SMA pun disita, kata Jokowi langsung.

Tapi kok tiba-tiba saja sudah berada di rumah Jokowi dan diperlihatkan pula kepada Projo? Lalu dasar penetapan Roy Suryo cs sebagai tersangka ijazah yang mana yang dipakai oleh Polda Metro Jaya?

Mantan Kabareskrim Susno Duadji berpendapat bahwa Roy Suryo cs tak bisa jadi tersangka pencemaran nama baik, fitnah, ujaran kebencian, atau provokasi, terkait ijazah Jokowi, sepanjang ijazah Jokowi itu sendiri belum dipastikan keasliannya melalui institusi resmi seperti putusan PTUN, misalnya.

Bareskrim tak bisa memastikan ijazah Jokowi itu asli. Sebetulnya UGM bisa saja, kalau sejak awal membuka seterang-terangnya riwayat perkuliahan Jokowi di UGM.

Itu yang kurang mulus dilakukan oleh UGM. UGM dinilai membuat pengakuan tanpa bukti, sehingga kasus ini berlarut-larut sampai saat ini. Terakhir, bukti dikatakan sudah disita penyidik.

Entah mana yang benar? Jangankan perkara ijazah Jokowi itu asli atau palsu, perkara ijazah Jokowi itu sudah disita atau belum saja, masih simpang-siur.

Katanya sudah disita saat diperiksa penyidik di Mapolresta Surakarta, tapi tiba-tiba saja diperlihatkan pula kepada Projo di rumahnya. Kini, tiba-tiba saja pula Polda Metro Jaya sudah menetapkan Roy Suryo cs sebagai tersangka.

Katanya, yang diperlihatkan kepada Projo itu versi digital, bukan yang analog. Padahal Waketum Projo Freddy Alex Damanik jelas-jelas mengatakan ijazah Jokowi asli dan ia sudah melihatnya. Dan tak ada saat itu dikatakan versi digital atau versi apa pun. Pokoknya asli, titik.

Tak ada yang membela Roy Suryo cs kalau memang ijazah Jokowi itu benar-benar terbukti asli. Apa pun pasal yang digunakan, terserah saja. Pantas-pantas saja. Masalahnya pembuktian itulah yang dianggap setengah hati, tidak transparan.

Jangankan asli atau palsu, disita atau tidak saja, masih samar-samar. Antara sudah dan belum saja. Meminjam istilah Jokowi, sudah tapi belum.

Sementara itu dengan keilmuannya, Roy Suryo cs berani membuktikan bahwa ijazah Jokowi itu 99,9 persen palsu. Tambah kuat keberaniannya ketika mengantongi ijazah legalisir Jokowi dari KPU. Ijazah yang diteliti dan diperoleh dari KPU, ternyata sama.

Pengacara Roy Suryo cs juga tak masalah, kalau kliennya ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik, fitnah, dan lain-lain, asal ijazah Jokowi itu memang terbukti asli.

Makanya harus dibuktikan dulu keaslian dari ijazah Jokowi itu dulu. Kalau tak melalui Pengadilan, bisa juga melalui gelar perkara khusus yang terbuka seperti yang diinginkan pihak Roy Suryo cs selama ini.

Tapi itulah yang tak kunjung terwujud, sampai pada penetapan tersangka kemarin. Itupun dimasukkan tuduhan mengedit atau memanipulasi data. Sesuatu yang mereka tolak karena merasa tak ada satupun yang diedit atau dimanipulasi. Apalagi setelah mereka mengantongi ijazah legalisir Jokowi melalui KPU.

Baik pihak Jokowi maupun pihak Roy Suryo cs, sama-sama tak merasa aneh dengan penetapan tersangka Roy Suryo cs ini, entah kenapa? Kok bisa sama, padahal dari sisi yang berlawanan.

Bagi pihak Jokowi tak aneh karena ijazah Jokowi memang asli, kok. Sudah dibuktikan Bareskrim dan sudah diakui UGM. Maka penetapan tersangka adalah konsekuensi logis dan murni penegakan hukum untuk memulihkan nama baik Jokowi

Sebaliknya, bagi pihak Roy Suryo cs tak aneh, karena merasa ditarget dengan sengaja menutup-nutupi kebenaran. Mereka dikriminalisasi, karena tak sekalipun memanipulasi atau mengedit ijazah Jokowi itu. Yang dianalisis yang sudah beredar dipublik dan mereka bukan yang mempublikasikan pertama kali.

Bukan bermaksud menyepelekan masalah ijazah Jokowi ini, tapi memang masalah ini pada dasarnya memang masalah sepele.

Kedua belah pihak saja, terutama pihaknya Jokowi yang terlalu membesar-besarkan, terkesan dirumit-rumitkan. Kalau pihak Roy Suryo cs memang tak aneh, karena sudah mempersoalkan ini sejak lama.

Bahkan, sudah mengirim dua orang sebagai terpidana, yakni Gus Nur dan Bambang Tri. Kalau memang asli, kenapa tak dibuka saja?

Pertanyaan itupun dipersoalkan pihak Jokowi terlalu jauh. Bisa bikin chaos, gaduh, dan semacamnya, katanya. Wajar saja orang berspekulasi aneh-aneh. Apalagi Roy Suryo cs sanggup memberikan penjelasan masuk akal di atas spekulasi yang aneh-aneh itu.

Roy Suryo sendiri tak merasa khawatir apalagi takut dengan penetapan tersangka oleh Polda Metro Jaya itu. "Baru tersangka, belum terdakwa dan terpidana, " katanya.

"Ada yang sudah terpidana begitu lama, belum juga ditangkap, " sindir Roy Suryo.

Siapa lagi yang dimaksud Roy Suryo kalau bukan Silfester Matutina, loyalis Jokowi yang paling terdepan dan membela habis-habisan ijazah Jokowi ini pada awalnya. Kini dia menghilang entah ke mana?

Sindiran Roy Suryo itu sebetulnya begitu tajam. Dengan kata lain, kalau anak buahnya saja tak tersentuh hukum, bagaimana pula dengan majikannya? Lalu kenapa dia harus takut? Ironis memang.

Mumpung Komisi Percepatan Reformasi Polri sudah dibentuk dan diketuai oleh Jimly Asshiddiqie. Maka tak ada salahnya juga kalau dimulai Percepatan Reformasi Polri itu dari penuntasan kasus ijazah Jokowi yang sudah berlarut-larut ini. Semoga saja.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya